RSS

H. O. S. TJOKROAMINOTO DAN RUMAH PERGERAKAN NASIONAL

16 Aug
Oleh I K Guna Artha

 

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 6 Agustus 1882 Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama Raden Mas Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, Raden Mas Adipati Tjokronegoro, pernah menjabat sebagai bupati Ponorogo.
Pada bulan Mei 1912, Tjokroaminoto bersama Hasan Ali Surati bergabung dengan Sarekat Dagang Islam dan mengubahnya menjadi Sarekat Islam. Yang sebelumnya dirintis oleh Haji Samanhudi sebagai Sarekat Dagang Islam tahun 1905 di Solo dengan tujuan awal untuk menghimpun pedagang-pedagang Islam pribumi agar dapat menyainggi hak istimewa pedagang Tionghoa. Pengubahan nama tersebut dilakukan agar organisasi tidak hanya bergerak dibidang ekonomi saja namun daopat berperan dibidang lain.  Pada kongres pertama tahun 1913, Tjokroaminoto menyatakan bahwa Sarekat Islam bukan organisasi politik dan bertujuan untuk meningkatkan perdagangan antar bangsa Indonesia, membantu pengembangan ekonomi anggota serta mengembangkan kehidupan religius.
Walaupun dalam anggaran dasarnya tidak secara eksplisit menyebutkan tujuan-tujuan politik namun dalam praktek Sarekat Islam menentang ketidakadilan dan penindasan pemerintahan kolonial Belanda. Karena dari sisi jumlah keanggotaannya semakin pesat perkembangannya maka pada tahun 1916 Sarekat Islam mendapat pengakuan sebagai badan hukum dan berkembang menjadi partai politik dan mendapatkan hak untuk mendudukkan wakilnya dalam Volksraad (parlmen) tahun 1917.
Pada kongres ketiga tahun 1918 di Surabaya, Tjokroaminoto menyatakan jika Belanda tidak melakukan reformasi sosial dalam skala besar maka Sarekat Islam akan melakukan sendiri diluar parleman.
Dalam perkembangannya kader-kader muda Sarekat Islam kena pengaruh komunis seperti Semaoen, Darsono, Tan Malaka, Alimin Prawirodirdjo yang melahirkan Sarekat Islam Putih pimpinan Tjokroaminoto yang diikuti Agus Salim, Abdul Muis, Suryopranoto, Sekarmadji Maridjan berpusat di Yogyakarta dan Sarekat Islam Merah pimpinan Semaoen berpusat di Semarang.
Dalam penegakan disiplin partai pada tahun 1921 maka larangan rangkap keanggotaanpun diberlakukan sehingga unsur dari PKI, Muhammadyah dikeluarkan dari Partai Sarekat Islam. Keputusan ini diperkuat dalam kongres tahun 1923 di Madiun. Kemudian Partai Sarekat Islam berganti nama menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia tahun 1929 dengan tujuan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan nasional. Selanjutnya melahirkan faksi-faksi baru di tubuh PSII seperti faksi Sukiman, faksi Kartosuwiryo dan faksi Abikusno.
Tjokroaminoto tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pelopor pergerakan nasional. Pada kurun waktu 1912-1921 mengingat posisi sebagai tokoh Sarekat Islam, maka rumah Tjokroaminoto di Surabaya menjadi rumah pergerakan tempat dimana berkumpulnya Alimin, Muso, Kartosuwiryo, Tan Malaka, Ahmad Dahlan,dll yang kelak memberikan warna bagi sejarah pergerakan Indonesia.
Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat adalah tiga modal kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan yang dibutuhkan dalam suasana perjuangan Indonesia pada masa itu. Demikianlah salah atu yang diajarkan oleh seorang Tjokroaminoto.
Ayah Soekarno, Raden Sukemi Sostrodihardjo asal Blitar yang dikenal dekat dengan Tjokroaminoto ketika anaknya menyelesaikan pendidikan ELS (Europeesche Lagere School) di Mojokerto dan akan melanjutkan ke HBS (Hogere Burger School) Surabaya Raden Sukemi menitipkan putra Sang Fajar di tempat Tjokroaminoto. “Walaupun kau mendapat pendidikan Belanda, aku tak ingin engkau kebarat-baratan. Aku titip engkau kepada H.O.S. Tjokroaminoto. Aku menginginkan engkau menjadi Karna kedua”.
Adipati Karna adalah putra Dewi Kunti atas kuasa Tuhan terlahir tanpa perkawinan dalam epos besar Hindu Mahabharata dikenal sebagai sosok pemberani, cerdas, loyalis, memiliki dedikasi dan pemanah yang hebat seperti adiknya Arjuna.
Di tempat Tjokroaminotolah Soekarno banyak belajar tentang nasionalisme dan arti sebuah pergerakan. Soekarno rajin mengikuti pertemuan-peremuan dan rapat yang diselenggarakan oleh Tjokroaminoto. Dan bahkan karena percayanya Tjokro kepada Soekarno dalam beberapa kesempatan Soekarno muda mewakili Tjokroaminoto dalam pertemuan rapat kaum pergerakan. Belajar dari beragam ideologi sosialis, komunis, islam moderat hingga islam radikal menempa Soekarno muda yang kelak menjadi peletak dasar kebangsaan Indonesia.
Saat Soekarno memulai kuliahnya di Sekolah Tinggi Teknik (Thecnische Hooge School) Bandung, sempat meninggalkan kuliah karena mendengar Tjokroaminoto didakwa memicu perlawanan para pekerja oleh pemerintah Hindia Belanda. Karena Soekarno berpikir bahwa “Mengejar kehidupan sendiri, sementara orang yang sudah diakui sebagai keluarga, orang yang pernah menolong kita berada dalam kesusahan bukanlah cara orang Indonesia” maka Soekarno harus ke Surabaya untuk menguatkan moral perjuangan Tjokroaminoto. Sikap Soekarno ini bisa kita pahami karena warisan ideologi sosialisme dari seorang Tjokroaminoto.
Di masa pengasingan Bung Karno di Endeh 1932, beliau menyampaikan kekagumannya pada sosok H.O.S. Tjokroaminoto dalam sepucuk suratnya yang berbunyi “…….Bapak sebagai patriot besar yang menghimpun rakyat kita dalam perjuangan menuju kemerdekaan, tidak akan kami lupakan untuk selama-lamanya. Saya mendoakan agar Bapak segera sembuh kembali
Tjokroaminoto adalah ayah dari Oetari, istri pertama Soekarno namun diceraikan kemudian mengingat usianya yang terpaut jauh. Setelah jatuh sakit sehabis mengikuti Kongres Sarekat Islam di Banjarmasin, Tjokroaminoto akhirnya meninggal di Yogyakarta, 17 Desember 1934 pada umur 52 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Pekuncen, Yogyakarta.
 
Leave a comment

Posted by on August 16, 2011 in Nasionalis

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: