RSS

LAKON TAN MALAKA*

11 Aug
Oleh Bonnie Triyana1
 
Saya harus angkat bicara…
untuk jutaan rakyat tertindas di Timur
– Tan Malaka. Moskwa, 12 November 1922
Selopanggung, 19 Februari 1949. Dor! Sebutir peluru menghabisi riwayatnya. Nyawanya melesat. Namun sebelumnya dia telah berwasiat, “di dalam kubur suaraku akan terdengar lebih keras!”
Tan Malaka adalah legenda hidup zaman pergerakan. Namanya terkenal di kalangan kaum nasionalis Indonesia. Karya-karyanya, seperti Naar de Republiek Indonesia (1925) dan Massa Actie (1926) menjadi bacaan di kalangan aktivis pergerakan tidak terkecuali buat Sukarno. Perbincangan tentangnya diselang-selingi bumbu beraroma mitos. Ia tokoh yang masyhur, pahlawan nasional yang sempat dilupakan selama bertahun-tahun dan kini namanya mulai disebut di mana-mana.
“Riwayat hidupnya bagaikan cerita detektif yang penuh ketegangan,” kata Dr Alfian dalam tulisannya, “Tan Malaka Pejuang Revolusioner yang Kesepian”. Muhammad Yamin menyebutnya sebagai Bapak Republik Indonesia yang dipersamakan dengan Washington yang merancang Republik Amerika Serikat jauh sebelum merdeka, atau dengan Rizal-Bonifacio yang meramalkan berdirinya Filipina sebelum revolusi terjadi. Rudolf Mrazek menyebut Tan Malaka sebagai manusia komplet.
Tapi kenapa gagasannya yang brilian tidak pernah bisa direalisasikan, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh pengikut-pengikutnya? Itu bisa terjadi karena, “hatinya terlalu teguh untuk diajak berkompromi dan punggungnya terlalu lurus untuk diajak sedikit membungkuk,” kata Hasan Nasbi, penulis buku Filosofi Negara Menurut Tan Malaka dalam kolomnya di Majalah Tempo edisi khusus Tan Malaka (Agustus,2008).
Ia seorang marxis yang berjiwa nasionalis yang dalam beberapa hal memiliki paradoksalnya sendiri: berpikiran marxis secara total dan bertindak sebagai nasionalis yang radikal. Tan Malaka adalah pejuang yang gigih dan pemikir ulung, betapa pun aktivitas politiknya selalu menimbulkan kontroversi. Sepak terjangnya di Komunisme Internasional (Komintern) yang mengajukan usul kerjasama dengan gerakan Islam mendapatkan tentangan dari pemimpin Komintern pada Kongres ke-4, 12 November 1922 di Moskwa, Uni Soviet. Dalam kesempatan itu ia menentang thesis yang dibangun oleh Lenin bahwa gerakan komunisme internasional harus memerangi gerakan Pan Islamisme karena sama bahaya dengan imperialisme.
Tan Malaka melihat Pan Islamisme dalam sudut pandang yang lebih positif. Dalam pidatonya ia mengatakan kerjasama kaum kiri dengan Sarekat Islam yang disebutnya sebagai gerakan revolusioner yang amat besar dan muncul secara spontan2 .
Ia berpendapat kerjasama dengan kelompok Islam merupakan siasat yang taktis di dalam melawan kolonialisme dan imperialisme. Tan Malaka berargumen kalau thesis Lenin untuk memerangi Pan Islamisme yang dikemukakan pada Kongres Komintern ke-2 memberikan celah bagi pemerintah kolonial untuk memecah belah perlawanan terhadap imperialisme itu sendiri karena kekuatan utama dari gerakam komunisme di Indonesia pada zaman itu justru para buruh-buruh kecil muslim yang berafiliasi pada Sarekat Islam.
Tentu saja gagasan Tan tetap menghadapi penolakkan dari sebagian besar pemimpin Komintern, kendati pidatonya yang berapi-api itu selalu ditingkahi oleh tepuk tangan riuh dari para peserta kongres. Tan memang benar, Sarekat Islam merupakan organisasi muslim terbesar pada zamannya. Pada kurun 1912 – 1916, organisasi yang bermula dari perkumpulan pedagang muslim di Laweyan, Solo itu memiliki satu juta anggota.
Kerjasama komunisme dengan Islam merupakan kenyataan dalam sejarah Indonesia. Penerimaan kaum muslimin terhadap Islam (khususnya di Jawa) bukan semata karena paham sinkretisme yang dianut oleh sebagian masyarakat Jawa pada saat itu, melainkan pula adanya kebutuhan untuk menyatukan diri dalam satu gerakan menentang kolonialisme yang mencengkeram warga jajahan.
Tapi Tan Malaka menentang pemberontakan 1926 yang dimotori PKI dan diikuti oleh tokoh-tokoh muslim anggota Sarekat Islam. Di Banten3 misalnya, pemberontakan dipimpin oleh ketua Sarekat Islam setempat, KH. Achmad Chatib4, seorang ulama kharismatik dari Caringin. Pemberontakan juga terjadi di Silungkang, Sumatera Barat pada 19275. Perlawanan terhadap otoritas kolonial tersebut menjadi yang pertama dalam sejarah Indonesia moderen namun Tan tak sepakat karena menurutnya pemberontakan itu bersifat prematur.
Pemberontakan 1926 merupakan keputusan CC PKI pada konferensi Prambanan 25 Desember 1925. Dalam Penjara ke Penjara jilid I Tan Malaka menyalahkan keputusan itu karena 1). Diambil tergesa-gesa, kurang dipertimbangkan, 2). Cuma akibat provokasi lawan dan tidak seimbang dengan kekuatan diri sendiri, 3) Tak bisa dipertanggungjawabkan kepada rakyat dan komintern, 4). Tiada cocok dengan taktik strategi komunis, ialah massa aksi, 5). Akibatnya akan sangat banyak merugikan pergerakan di Indonesia dan lain-lain sebagainya6. Keberatan itu ia sampaikan melalui sepucuk surat kepada Alimin.
Tan Malaka merasa dilangkahi. PKI harusnya merundingkan terlebih dulu keputusan berontak kepada Tan sebagai wakil Komintern di Asia. Dengan demikian akan dicari jalan kerjasama dan musyawarah dengan berbagai Partai Komunis yang ada di Australia, Belanda, Amerika dan di Indocina. Mengutip Tan Malaka, Harry Poeze menjelaskan bahwa pemberontakan itu bernuansa anarkisme, oportunisme dan fanatisme terhadap taktik dan strategi pemberontakan.
Dia pun memutuskan untuk keluar dari PKI. Namun menurut Soemarsono7 keputusan Tan Malaka yang menolak keputusan konferensi Prambanan dan menyatakan keluar dari PKI merupakan tindakan indisipliner yang tak bisa ditolerir. “Sebagai anggota partai (PKI), seharusnya Tan Malaka patuh pada keputusan konferensi. Karena itulah keputusan tertinggi partai yang harus dijalankan oleh anggotanya,” kata Soemarsono.
Tapi Tan punya alasan kuat kenapa dia tak setuju pemberontakan. Hal tersebut telah lebih dulu ditulisnya dalam brosur Massa Actie. Menurut Tan pemberontakan yang dinyalakan oleh segelintir orang anarkis hanyalah impian seorang yang sedang demam. Mungkin Tan hendak mengatakan bahwa sebuah revolusi untuk kemerdekaan tak bisa dilakukan secara serampangan. Butuh dukungan situasi obyektif sebagai prasyarat bagi lahirnya revolusi itu sendiri. Ia menganjurkan pemboikotan terhadap industri-industri milik kaum imperialis jauh lebih baik daripada langsung melancarkan pemberontakan tanpa persiapan yang matang.
Mungkin Tan benar. Pemberontakan itu sendiri bubar di tengah jalan. Partai hancur sekali pukul. Pemimpin pergerakan banyak ditangkapi. Gerakan pun melemah. Namun pemberontakan itu sendiri menjadi salah satu pendorong bagi gerakan selanjutnya dalam bingkai sejarah revolusi di Indonesia. Pemberontakan 1926, betapapun mengalami kegagalan, turut mematangkan kondisi obyektif sebagai prasyarat terjadinya revolusi di Indonesia.
Sekeluarnya dari PKI, Tan Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok pada 1 Juni 1927. Partai itu tak berkembang. Mati suri begitu saja. Bertahun kemudian setelah pulang ke Indonesia, Tan Malaka sempat mendirikan Partai Murba.
Partai ini sempat mengikuti Pemilu 1955, namun tenggelam seiring waktu. Dia sendiri tak mau dijadikan ketua Partai Murba.
Tan tak memiliki kader-kader yang tangguh dan tangkas untuk mengejawantahkan pikiran-pikirannya. Anak-anak muda yang mengelilinginya pada zaman revolusi lebih cocok disebut sebagai simpatisan ketimbang sebagai kader yang siap membangun partai untuk bertarung dalam panggung politik di Republik yang baru lahir itu.
Hal itu sangat beralasan karena selama dalam pengasingan Tan Malaka tak sempat menjalankan kaderisasi dengan baik. Sederet yang boleh dibilang sebagai pengikuti setia Tan Malaka adalah Muh. Yamin, Sukarni, Adam Malik, Chairul Saleh dan Iwa Kusumasumantri. Sebagai pribadi, tentu masing-masing pengikut Tan Malaka itu adalah orang-orang besar dan tokoh terkemuka di zamannya. Namun ternyata itu tidak cukup untuk bisa membangun sebuah partai yang kuat dan tangguh.
Harus diakui bahwa lakonnya dalam panggung politik revolusi memang tak sesukses lakonnya sebagai pemikir besar. Buah pemikirannya meliputi beberapa hal mulai dari pendidikan, ekonomi, negara, dan kemasyarakatan. Banyak dari gagasan Tan Malaka yang ditulis delapan puluh tahun lalu masih tetap relevan bila melihat kondisi bangsa dewasa ini.
Dalam bidang pendidikan misalnya, Tan Malaka adalah penggagas sekolah rakyat khusus untuk anak-anak buruh dan anggota SI di Semarang. Dalam brosurnya, SI Semarang dan Onderwijs (1921) ia mengemukakan tujuan diadakannya pendidikan rakyat: 1). Memberi senjata cukup, buat pencari penghidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa Belanda, Jawa, Melayu, dsb). 2).Memberi Haknya murid-murid, yakni kesukaan hidup, dengan jalan pergaulan (vereeniging). 3). Menunjukan kewajiban kelak, terhadap pada berjuta-juta Kaum Kromo8.
Pendidikan kerakyatan buat Tan Malaka adalah senjata sekaligus modal bagi rakyat untuk merebut kekuasaan dari tangan pemilik modal. Pendidikan kerakyatan akan menumbuhkan kesadaran kelas dari anak-anak jelata bahwa bangsanya sedang dijajah. Tan melihat kalau anak-anak buruh tersebut pun memiliki bakat yang sama dengan anak-anak petinggi yang bersekolah di sekolah Belanda. Dalam brosur itu ia mengatakan kalau kurikulum di sekolah Belanda mengutamakan kemampuan imajinasi (menggambar) anak didiknya, maka hal itu pula yang harus dilakukan terhadap anak-anak kromo yang menjadi siswa di Sekolah SI.
Dalam brosur itu Tan menulis, Nah, kalau bangsa Eropa meninggikan betul kepintaran menggambar itu, lebih-lebih bangsa Belanda, kenapa tidak dikeluarkan kepandaian yang memang tersembunyi pada bangsa jawa itu? Jawabnya: barangkali sebab pabrik gula atau kantor post lebih suka sama yang pandai menyalin kopi, atau menghitung uang masuk dan keluar, dari pada sama orang, yang pandai menggambar Doso Muko9.
Berulangkali Tan Malaka menekankan pentingnya pendidikan bagi masyarakat Indonesia. Karena dengan jalan itu rakyat bisa berpikir rasional dan membebaskan dirinya sendiri dari keterbelakangannya. Upaya itu kembali ditunjukkannya lewat magnum opusnya, Materialisme, Dialektika dan Logika (Madilog). Pada karya yang ditulis di persembunyiannya di Rawajati, Kalibata itu Tan Malaka menerjemahkan sosialisme ilmiah sebagai epistemologi materialis untuk mengikis alam pikiran mistis dan takhayul yang masih terdapat pada sebagian besar alam pikiran masyarakat
Indonesia10.
Dalam Madilog Tan menulis bahwa timbul dan tumbangnya Indonesia sangat tergantung kepada industrinya. Pada industrilah ditemukan ilmu bukti yang mewujud dalam perkakas yang digunakan dalam industri itu sendiri. Untuk memajukan industri yang pada akhirnya memajukan penghidupan rakyat Indonesia, Tan Malaka menegaskan perlunya penguasaan ilmu bukti di atas segalanya terutama logika mistika yang mengungkung alam pikiran orang Indonesia. Tan Malaka juga mengemukakan kalau Indonesia yang merdeka 100 persen menjadi prasyarat utama berkembangnya ilmu bukti, tanpa campur tangan kaum imperialis dan kapitalis. Kalau Indonesia tidak merdeka, maka ilmu bukti itu akan terbelenggu pula11.
Agaknya Tan Malaka merujuk kepada pendidikan di Indonesia pada zaman politik etis diberlakukan. Politik Etis adalah program balas budi pemerintah Belanda terhadap rakyat jajahan yang telah membanting tulang dan memeras keringat demi pundi-pundi kekayaan negeri induk. Program itu, sebagaimana telah diketahui umum, meliputi tiga hal: irigasi, emigrasi dan edukasi. Program pendidikan yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial pada kenyataannya hanyalah bagian dari usaha menghasilkan tenaga-tenaga teknis rendahan yang bisa dipekerjakan di berbagai instansi pemerintahan dan perkebunan-perkebunan milik pengusaha swasta Belanda.
Tujuan pendidikan untuk membebaskan manusia dari keterbelakangan dan ketertinggalannya ternyata tidak sepenuhnya tercapai melalui program pendidikan politik etis itu. Pemerintah kolonial yang menguasai rakyat jajahan sama sekali tak berkepentingan membukakan cakrawala berpikir rakyat. Itulah yang menurut Tan Malaka penting untuk segera dirombak pada saat Indonesia mencapai kemerdekaanya.
Kemerdekaan yang dicapai melalui revolusi nasional, yang menentukan batas-batas politik sebuah negara, harus segera diikuti oleh revolusi alam pemikiran masyarakat Indonesia dari logika mistika ke cara berpikir rasional yang mengandalkan ilmu bukti.
Tan Malaka melihat masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, masih terpengaruh kuat oleh peninggalan alam pikiran masyarakat Hindu kuno yang mengedepankan cara berpikir yang tak berakar pada kenyataan di alam dunia ini.
Tan menyadari masyarakat agraris seperti di Jawa akan selamanya terbelenggu oleh dirinya sendiri selama tidak bisa membebaskan diri dari waham-waham takhyul.
Kemajuan sebuah bangsa dimulai ketika bangsa itu merdeka 100 persen dan berani menggunakan akal pikiran yang logis dan rasional. Pemikiran Tan senafas dengan Immanuel Kant, pemikir zaman Aufklaerung yang mengatakan bahwa “pembebasan manusia dari ketidakdewasaan yang diciptakannya sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan manusia untuk memakai pengertiannya sendiri tanpa pengarahan orang lain. Diciptakan sendiri berarti bahwa ketidakmatangan ini tidak disebabkan oleh kekurangan dalam akal budi, melainkan dalam kurangnya ketegasan dan keberanian untuk memakainya tanpa pengarahan dari orang lain. (Maka) beranilah menggunakan akal budimu sendiri. Sapere Aude!12 Itulah motto zaman pencerahan yang membebaskan warga Eropa dari sebuah zaman yang diwarnai kegelapan akal budi.
Tan ingin membawa rakyat Indonesia ke zaman pencerahan itu dengan syarat sebuah kondisi negeri yang merdeka 100 persen tanpa campur tangan penjajah hasil dari perjuangan aksi massa. Tapi apa daya Tan Malaka kecewa karena pemerintah Indonesia merdeka di bawah Kabinet Sjahrir justru menjalin perundingan dengan penjajah.
“Kalau ada maling masuk ke rumahmu, usir dia! Kalau perlu pukul. Jangan ajak dia berunding!” kata Tan Malaka seperti ditirukan oleh Adnan Buyung Nasution.
Prihatin dengan kondisi itu Tan Malaka mendirikan Persatuan Perjuangan (PP) pada 3 Januari 1946 di Purwokerto. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Indonesia pada 1922, Tan Malaka menjadi pembicara utama dalam sebuah kongres besar Persatuan Perjuangan yang menaungi 141 organisasi perjuangan. Melalui PP, Tan Malaka berhasil menyatukan sejumlah besar golongan yang berbeda keyakinan, taktik dan garis politik13. Dalam kesempatan Tan membeberkan program minimum14 PP yang mencakup tujuh inti pokok, antara lain berunding atas pengakuan kemerdekaan 100 persen, melucuti tentara Jepang, menyita aset perkebunan milik Belanda, dan menasionalisasi industri milik asing yang beroperasi di Indonesia. Tujuh inti pokok program itu merupakan respons langsung terhadap kinerja kabinet Sjahrir yang Tan nilai terlalu berkompromi terhadap kepentingan penjajah15.
Persatuan Perjuangan yang dibangunnya tak sekuat yang dibayangkan Tan Malaka.
Satu per satu anggota aliansi itu mengundurkan diri dan lompat pagar memilih bergabung dengan Sjahrir, salah satunya adalah Mohammad Natsir yang memutuskan untuk menerima tawaran Sjahrir menjadi menteri penerangan dalam Kabinet Sjarir II16. Persatuan Perjuangan yang semula tumbuh pesat sebagai kekuatan oposisi yang kuat perlahan mulai melemah. Pemerintahan Sjahrir kemudian meringkus Tan Malaka pada 17 Maret 1946 atas tuduhan sumir: mengacau keadaan dan berbicara serta bertindak menggelisahkan. Selang empat bulan kemudian beberapa gelintir anggota PP ditangkap terkait keterlibatan mereka dalam kudeta gagal pada 3 Juli 1946. Insiden itu menandai bubarnya PP.
Hubungan Sjarir dengan Tan Malaka memang unik dan sempat ditandai oleh keharmonisan sesaat. Setelah proklamasi kemerdekaan, Sjahrir cum suis sempat menawari Tan Malaka posisi ketua Partai Sosialis. Namun Tan Malaka menampik tawaran itu dengan alasan “tak ingin menjadi teman separtai kaum sosialis, yang kebanyakan masih mau berkompromi dengan kapitalis-imperialis itu.”17
Menurut Ben Anderson, pertempuran Surabaya pada pengujung 1945 merupakan titik terpenting bagi hubungan keduanya. Pertempuran yang berlangsung selama berbulan bulan itu membuat Sjahrir berpikir bahwa perundingan terhadap Inggris dan Belanda harus segera dilakukan demi menghindari pertumpahan darah lebih besar. Dalam risalahnya yang ditulis pada November 1945, Perdjoangan Kita, Sjahrir mengatakan kalau pemuda-pemuda kita kurang memiliki kecakapan memimpin kecuali hanya cakap sebagai “serdadu…berbaris, menerima perintah menyerang, menyerbu dan berjibaku.” Itulah yang menurut Sjahrir tak lain sebagai warisan pendudukan Jepang yang fasistis. Sjahrir cemas para pemuda dengan sikap fasistisnya itu justru akan merugikan perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaanya.
Tidak demikian dengan Tan. Setelah menyaksikan heroisme pemuda pada pertempuran di Surabaya Tan berpendapat justru itulah kekuatan bangsa Indonesia untuk mengusir penjajah dari negeri ini dan meraih kemerdekaan 100 persen tanpa proses berunding dengan Belanda. Pendapat Tan Malaka itu digoreskan dalam sebuah brosur berjudul Moeslihat yang terbit tiga pekan setelah risalah Sjahrir terbit.
Moeslihat dikarang secara dramatis dalam bentuk dialog antara wakil-wakil simbolis yang Tan Malaka harapkan bisa bersatu dalam satu gerakan perjuangan.
Pemikiran Tan Malaka tetap konsisten semenjak pertama kali ia menulis brosusr Massa Actie pada 1926. Ia bersikeras bahwa perjuangan bangsa Indonesia merebut dan mempertahakan kemerdekaan haruslah dilakukan dengan cara aksi massa.
Demarkasi revolusi,” demikian kata Tan Malaka, harus ditarik secara tegas untuk memisahkan penjajah dengan rakyat yang sedang berjuang meraih kemerdekaannya.
Garis demarkasi itu bukanlah suatu garis panjang “yang memiliki lebar” sehingga “borjuis-imperialis bisa berjabat tangan dengan borjuis-jajahan buat kerjasama dan menindas murba di Indonesia.”18
Kendati sempat kecewa karena berkolaborasi dengan Jepang, Tan Malaka justru menaruh harapan tinggi pada Sukarno yang telah mempraktikan jalan aksi massa untuk membangun kesadaran massa dan membangkitkan mereka dalam proses perjuangan merebut kemerdekaan. Sukarno memang pembaca karya-karya Tan Malaka dan jejak pemikiran Tan Malaka tentang aksi massa itu bisa dilihat dalam pidato pembelaannya di Landraad Bandung, Indonesia Menggugat.
Berbeda dengan Sjahrir dan Hatta, Sukarno kagum pada Tan Malaka. Oleh karena itu pula Sukarno sempat memberikan testamen politik kepada Tan Malaka untuk menggantikan dirinya seandainya sekutu menangkapnya. Tapi keputusan memberikan testamen itu dikoreksi oleh Hatta dengan membubuhkan tiga nama lain dalam surat wasiat itu, yakni Sjahrir, Wongsonegoro dan Iwa Koesoema Soemantri.
Tan Malaka memiliki kesamaan pikiran dengan Sukarno dalam soal bentuk negara Indonesia yang baru saja merdeka itu. Sukarno sempat melontarkan ide satu partai negara sementara Tan Malaka, sebagaimana bisa dibaca dari brosus Parlemen atau Soviet? (1921) menginginkan negara efisien yang dikelola oleh sebuah organisasi. Dia tak percaya pada trias politika ala Montesquieu yang menyandarkan jalannya sebuah pemerintahan pada tiga lembaga: eksekutif, legislatif dan yudikatif. Pemisahan itu justru akan menimbulkan kekacauan dan tak menghasilkan apa-apa kecuali rakyat yang semakin terpinggirkan oleh kekuasaan.
Parlemen kata Tan Malaka cuma perkakas saja dari yang memerintah. Tan curiga kalau parlemen hanya dijadikan alat transaksional saja dari kaum borjuasi dan meninggalkan rakyat dengan segala penderitaannya. Parlemen juga menurut Tan, betapa pun terdapat wakil golongan rakyat di dalamnya, hanya yang kuat dalam perjuangan ekonomilah yang akan berkuasa dalam Parlemen19. Dengan kata lain hanya mereka yang punya uanglah yang akan menguasai parlemen dan kapital yang mereka miliki tak lain hasi dari memerah keringat rakyat kecil.
Tan menganjurkan agar Negara diatur oleh sebuah organisasi tunggal yang terbagi atas fungsi-fungsi sebagai pelaksana, pengawas dan peradilan. Organisasi tunggal itu memiliki struktur dari tingkat tertinggi sampai terendah di daerah-daerah. Organisasi itu menjadi pembuat garis kebijakan, sekaligus melaksanakan program dan mengawasinya. Untuk menghindari supaya organisasi tidak menjadi tiran, pemilihan para pemimpin organisasi itu harus dilakukan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama sehinga tak ada kesempatan buat mereka untuk menjadi tirani kekuasaan.
Namun baik ide Sukarno dan Tan Malaka pupus seiring diberlakukannya maklumat Wakil Presiden Hatta Nomer X/1945 yang membuka keran demokrasi dengan jalan mendorong pembentukan banyak partai. Tan tak setuju ini karena pembentukan partai akan berujung kepada parlemen. Ide Tan memang tak sempat direalisasikan namun dugaannya bahwa parlemen akan menjadi alat penguasa saja memang terbukti, khususnya pada zaman Orde Baru di mana anggota DPR hanya jadi tukang stempel buat kebijakan pemerintah.
Tan Malaka sempat menaruh harapan bahwa jalan perjuangan Indonesia merdeka akan sepenuhnya menyandarkan kekuatan pada perlawanan fisik. Namun perubahan konstelasi politik, khususnya ketika kabinet Sjahrir dan Amir Sjarifuddin menjalin perundingan dengan Belanda, memupuskan harapannya. Di penjara Madiun dia menulis lagi sebuah brosur yang cukup menarik yang menawarkan solusi kepada rakyat untuk melakukan perlawanan semesta terhadap penjajah.
Pada brosur Gerilya Politik Ekonomi (Gerpolek)20 itu Tan Malaka membagi periode alam kemerdekaan Indonesia menjadi dua: musim Jaya Bertempur dan musim Runtuh Berdiplomasi. Muslim Jaya Bertempur jatuh antara 17 Agustus 1945 sampai 17 Maret 1946. Selebihnya adalah musim Runtuh Berdiplomasi seiring dengan perundingan-perundingan yang dilakukan sejak Linggarjati sampai dengan Konferensi Meja Bundar yang secara telak membuktikan bahwa dugaan Tan Malaka benar.
Dalam Gerpolek Tan Malaka menyuguhkan fakta kalau perundingan justru merugikan bangsa Indonesia. Wilayah Indonesia menyusut hanya Jawa saja. Kekayaan alam Indonesia pun kembali dikuasai oleh penjajah. Padahal, setelah revolusi Agustus, rakyat sempat menguasai itu. Tahapan revolusi yang terputus yang seharusnya dilajutkan kepada revolusi sosial di tiap daerah semakin mendatangkan kerugian bagi rakyat Indonesia. Oleh karena itu Tan mengajak rakyat untuk melakukan perang semesta dengan mengunakan taktik gerilya dan sabotase terhadap simpul-simpul
kekuatan militer lawan.
Sukarno memang sempat melakukan nasionalisasi terhadap perkebunan-perkebunan milik asing pada 1950-an. Tapi keputusan mendudukan tentara sebagai pimpinan di berbagai perkebunan dan industri asing itu malah mendatangkan “kecelakaan sejarah”. Beberapa klik di dalam tentara justru menjalin hubungan rahasia dengan pihak negeri imperialis. Itu terbukti pada tahun 1965, ketika Sukarno dikudeta dan Suharto mengambil alih tampuk kepemimpinan. Perusahaan asing yang semula milik bangsa Indonesia kembali dimiliki oleh pihak asing, khususnya Belanda, Inggris dan Amerika.
Karena keteguhan sikapnya dan aksi frontal dalam menentang sesuatu hal yang menurutnya tidak ideal, ia diperlakukan sebagai onak dalam daging bagi kelompok-kelompok yang berseberangan dengannya. Pembunuhan terhadap Tan Malaka yang dilakukan oleh bangsanya sendiri menjadi kisah ironi dalam sejarah Indonesia.
Warisan terbesar dari Tan Malaka adalah gagasan cemerlangnya untuk membawa rakyat Indonesia meraih kemerdekaannya yang sejati, bebas dari segala macam bentuk penindasan. Dengan segala kekurangannya, Tan Malaka adalah manusia komplet: pemikir tangguh dan pejuang yang ulet.
* Disampaikan dalam Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB), Megawati Institute. Jakarta, 20 Juli 2011.
1 Pemimpin redaksi majalah Historia online (www.majalah-historia.com).
2 Tan Malaka, Komunisme dan Pan Islamisme, naskah pidato pada Kongres Ke-4 Komintern, Moskwa, 12 November 1922. Naskah ini dipublikasikan di www2.cddc.vt.edu/marxists/indonesia/archive/malaka/1922-PanIslamisme.htm. Pada saat berpidato inilah Tan Malaka mengemukakan pandangannya terhadap Tuhan. Ia mengatakan, “Als Ik voor de God sta, Ik ben een moslem. Als Ik voor de mensen sta, Ik ben geen moslim. Omdat God heeft gezegt dat onder de mensen vele duivels te zijn. Saat saya berdiri di hadapan Tuhan, saya seorang muslim. Saat saya berdiri di hadapan manusia, saya bukan seorang muslim. Karena Tuhan telah mengatakan kalau di antara manusia itu banyak setannya”.
3 Untuk lebih lebih lengkap mengenai Pemberontakan PKI di Banten 1926 silahkan baca Michael C Williams, Arit dan Bulan Sabit Pemberontakan Komunis di Banten 1926 (Yogyakarta: Syarikat Indonesia, 2003).
Setelah pemberontakan ini Pemerintah Kolonial membuka penjara Digul untuk menahan actor-aktor pemberontakan. Gulag itulah yang kemudian digunakan untuk menahan pemimpin gerakan lainnya.
4 KH Achmad Chatib menjadi ketua Sarekat Islam di Banten setelah Hassan Djajadiningrat. Peralihan kepemimpinan SI dari tangan Djajadiningrat pada 1920 kepada Chatib membuka peluang radikalisasi SI Banten. SI yang semula tak begitu populer di kalangan rakyat karena terkesan elitis berubah seiring gaya kepemimpinan Chatib yang lebih populis. Namun pada 1919, atas tuduhan terlibat insiden afdeling B di Cimareme, SI pimpinan Chatib harus beroperasi secara klandestine. Pada zaman revolusi, Chatib menjadi residen Banten pribumi pertama. Ia berteman baik dengan Tan Malaka yang selama di
Banten menggunakan nama samaran Iljas Husein.
5 Mengenai pemberontakan PKI di Silungkang silahkan baca Mestika Zed, Pemberontakan komunis silungkang 1927 : Studi Gerakan Sosial di Sumatera Barat (Yogyakarta: Syarikat Indonesia, 2004)
6 Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara jilid I (Jakarta: Teplok Pers, 2000) hlm. 234-235.
7 Wawancara Soemarsono, 16 September 2010. Soemarsono adalah tokoh pemuda dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Anggota PKI yang memiliki hubungan dekat dengan Amir Sjariffuddin. Pada saat di Surabaya, Soemarsono mengaku pernah didatangi Tan Malaka, bahkan Tan menginap di pondokan Soemarsono selama dua pekan. Soemarsono menilai Tan Malaka sebagai orang yang gemeene (Bld:buruk prilakunya, tak bisa dipegang kata-katanya). Kini menetap di Melbourne, Australia.
8 Tan Malaka, SI Semarang dan Onderwijs (Jakarta: Yayasan Massa, 1987). Diketik ulang dan dipublikasikan di www2.cddc.vt.edu/marxists/indonesia/archive/malaka/
9 Ibid.
10 Ignas Kleden, “Sutan Sjahrir: Titian Sosialisme ke Demokrasi” kolom dimuat di Majalah TEMPO edisi khusus Sjahrir (9-16 April 2009).
11. Tan Malaka, Materialisme, Dialektika dan Logika (Jakarta: Penerbit LPPM Tan Malaka, 2008) Hlm.51.
12 Dikutip dari Ignas Kleden dalam pengantarnya untuk buku Etika Pembebasan karya Soedjatmoko (Jakarta: Penerbit LP3ES, 1984) Hlm. XII. Mengutip dari “Idee zu einer allgemeinen Geschichte in weltbuer gerlicher Absicht” yang dimuat dalam Immanuel Kant, Kleinere Schriften zur Geschichtsphilosophie, Ethik und Politik (Hamburg: Felix Meiner Verlag, 1973).
13 Bonnie Triyana, “(Bukan) Seseorang dalam Arus Utama Revolusi” kolom di Majalah TEMPO edisi khusus Tan Malaka (17 Agustus 2008).
14 Program Minimun PP yang dikemukakan oleh Tan Malaka segera diimbangi oleh Sjahrir dengan meluncurkan Lima Program Pokok yang kemudian dikenal sebagai Lima Pokok Sukarno. Isi dari Lima Pokok Sukarno itu mengakomodasi program tujuh inti pokok PP.
15 Mengenai konflik politik Sjahrir versus Tan Malaka silahkan baca Ben Anderson, Revolusi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944 – 1946 (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988) Hlm. 341 – 363.
16 Bonnie Triyana, “Natsir: Manusia Lurus yang Sesekali Berbelok” dimuat di jurnal hukum Jentera edisi 20, Januari – April 2010. Hlm. 130 – 138.
17 Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara jilid III (Jakarta: Teplok Pers, 2000) Hlm. 179.
18 Ibid. Hlm. 204.
19 Tan Malaka, Parlemen atau Soviet? Diketik ulang dan dipublikasikan di www2.cddc.vt.edu/marxists/indonesia/archive/malaka/

20 Tan Malaka, Gerpolek: Gerilya Politik-Ekonomi (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000).

 
Leave a comment

Posted by on August 11, 2011 in Nasionalis

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: