RSS

TAJAMNYA PENA SEORANG TIRTO ADHI SOERJO

09 Aug

Oleh I K Guna Artha

Raden Mas Tirto Adhi Soerjo adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan Bumiputera mengingat istilah Indonesia sendiri baru dikenal pada tahun 1922, Beliau dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan. Namanya sering disingkat T.A.S. Lahir pada 1880 di Blora – Jawa Tengah, dengan nama kecilnya sebagai Djokomono “………….aku, si Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Tapi aku tak suka itu pake nama ‘Raden Mas’. Sangat feudal”. Demikian kira-kira ungkapan seorang Tirto Adhi Soerjo atas feodalisme.Tirto Adhi Soerjo adalah putra dariRaden Mas Tirtonoto, bupati Bodjonegoroyang masih kerabat R.A. Kartini. Abangnya adalah Raden Mas Said, bupati Blora tokoh social reform. Saat itu beliau telah menyelenggarakan sekolah untuk kaum perempuan disaat patriliniar kuat menempatkan kaum perempuan kedudukannya “dibawah” laki-laki. Abangnya yang lain adalah Raden Tirto Adi Koesoemo seorang jaksa di Rembang. Sepupunya adalah Raden Mas Brotodiningrat seorang bupati Madiun. Mengingat anak seorang bupati dari keluarga “ningrat” maka bernasib baik dibanding pribumi lainnya yang memberi kesempatan kepada seorang Tirto dapat mengenyam pendidikan di STOVIA Jakarta. Namun tak menamatkan sekolahnya karena alasan yang kurang jelas kemudian memilih menjadi seorang penulis yang memiliki cita-cita idealis demi kebangkitan Bumiputera (pribumi) untuk membela bangsa tertindas. Perjuangannya dengan “pena bermata belati” telah membuka sejarah jurnalisme dengan mengawalinya melalui surat kabar Soenda Berita (1903) yang masa itu seluruh penerbitan surat kabar dikuasai orang Indo Eropa dan Tionghoa. Soenda Berita berfokus pada pemberitaan seputar masalah pertanian, perdagangan, kesehatan dan hukum (staatblad melajoe) yang menterjemahkan lembar negara pemerintah kolonial dalam bahasa Melayu. Dengan demikian medekatkan seorang T.A.S. dengan masyarakat. Pada Januari 1904 T.A.S. bersama H.M. Arsad dan Oesman mendirikan badan hukum N.V. Javaansche Boekhandel en Drukkerij en handel in schrijfbehoeften Medan Prijaji. Ini dicatat sebagai N.V. pribumi pertama dan sekaligus NV pers pertama dengan modal sebesar f 75.000. Beralamat di jalan Naripan Bandung yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK). Dengan bermodal tersebut terbitlah Medan Prijaji (1907) sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu, dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi. Yang menarik adalah bahwa sebagai seorang yang menjadi bagian keluarga priyayi yang berkedudukan, bahwa T.A.S. memulai kegiatan usaha perdagangan/bisnisnya tanpa bantuan modal dari keluarga. Beliau dapatkan dari pinjaman bank dan kemampuan menghimpun dana dari masyarakat. Dan bukan sebatas sekedar berdagang namun membangun kekuatan ekonomi untuk kesetaraan dalam penguasaan ekonomi kolonial. Yang kemudian kelak ditahun 1909 mendirikan Sarekat Dagang Islam di Batavia (Jakarta sekarang) dan tahun 1910 di Buitenzorg (Bogor sekarang). Sarekat Dagang Islam sendiri dirintis di Surakarta oleh Haji Samahudi tahun 1905 dengan tujuan perserikatan pedagang pribumi untuk melawan dominasi Tionghoa.

Ketika pertama kali terbit di Bandung, “Medan Prijaji” mencantumkan moto “Ja’ni swara bagai sekalijan Radja2. Bangsawan Asali dan fikiran dan saoedagar2 Anaknegri. Lid2 Gemeente dan Gewestelijke Raden dan saoedagar bangsa jang terperentah lainnja jang dipersamakan dengan Anaknegri di seloereoeh Hindia Olanda”. Delapan asas yang diturunkan Tirto Adhi Soerjo di halaman muka edisi perdana, antara lain memberi informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, tempat orang tersia-sia mengadukan halnya, mencari pekerjaan, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi dan mengorganisasikan diri, membangunkan dan memajukan bangsanya, serta memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan. Menurut buku Sejarah Pers Sebangsa, nama-nama pengelola Medan Prijaji ialah adalah Tirto Adhi Soerjo sebagai pemimpin redaksi (hoofdredacteur), dengan redaktur A.W. Madhie, Raden Tjokromidjojo, Raden Soebroto (ketiganya dari Bandung), R.M. Prodjodisoerjo dan R. Kartadjoemena di Bogor, dan Paduka tuan J.J. Meyer, pensiunan Asisten Residen di Gravenhage, sebagai redaktur di Belanda. Juga disebut adanya beberapa jurnalis Begelener dan Hadji Moekti.Mengingat T.A.S. menganjurkan kemandirian berusaha sebagai prasyarat untuk membebaskan diri dari cengkeraman kapitalis penjajah maka melalui usaha perdagangan diperlukan usaha mandiri untuk mencetak Medan Prijaji. Dengan pengetahuan dan pengalaman niaganya, diwajibkan bagi calon pelanggan untuk terlebih dahulu membayar uang muka berlangganan selama satu kuartal, setengah, atau satu tahun, yang saat ini kita kenal dengan sebutan saham. Dilobinya beberapa pangrehpraja yang tertarik dengan gagasannya. Jadilah dua orang penyumbang dana besar, yakni Bupati Cianjur R.A.A.Prawiradiredja dan Sultan Bacan Oesman Sjah. Masing-masing menyumbang f 1.000 dan f 500.Kemudian menerbitkan Soeloeh Keadilan, dan Poetri Hindia (1908). Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum (Sudarjo Tjokrosisworo dalam bukunya Sekilas Perjuangan Suratkabar – November 1958). Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. Menyadarkan bangsa pribumi tentang hakekat penjajahan yang sangat merugikan bangsa dan berusaha melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang dilakukan pemerintah kolonial.Salah satu kasus terkenal adalah perkara di Kawedanan Cangkrep Purworejo. Pada tahun 1909, T.A.S. membongkar skandal yang dilakukan Aspiran Kontrolir Purworejo, A. Simon dengan Wedana Tjorosentono yang mengangkat lurah Desa Bapangan yang tak memperoleh dukungan warga. Sementara kandidat pertama yang didukung, Mas Soerodimedjo, malah ditangkap dan dikenakan hukuman krakal. Terbakar oleh amarah melihat penyalahgunaan wewenang itu T.A.S. menyebut pejabat tersebut sebagai monyet penetek atau ingusan dalam Medan prijaji No 19, 1909. Investigasi atas kasus itu didukung 236 warga Desa Bapangan dan warga ini pula mengirim surat kepada T.A.S. yang berisi dukungan pasang-badan kalau-kalau T.A.S. kena denda atas tulisannya. Delik pers pun terjadi, T.A.S. dituduh menghina pejabat Belanda, terkena Drukpersreglement 1856 (ditambah Undang-undang pers tahun 1906). Meskipun T.A.S. memiliki forum privilegiatum (sebagai ningrat) ia dibuang ke Teluk Betung, Lampung, selama dua bulan. Tapi dari kasus itu, Medan Prijaji mendapat perhatian pers di Belanda dan T.A.S. berkesempatan berkenalan dengan Anggota Majelis Rendah Belanda Ir HH van Kol dan pemuka politik etik Mr C Th van Deventer. Medan Prijajipun dipasarkan hingga di daratan Eropa.Dari sepak terjang itu Medan Prijaji pun menjadi model pertama dari apa yang kelak disebut sebagai surat kabar pergerakan, mendahului

Sarotomo, Soeloeh Indonesia, ataupun

Daulat Ra’jat. Yang khas Medan Prijaji terletak pada kegiatannya yang tak berhenti dengan sekadar memberitakan sebuah peristiwa atau kebijakan yang merugikan publik, namun terjun langsung menangani kasus-kasus yang menimpa si kawula. Medan Prijaji menjadi pelopor dari genre jurnalisme, yang puluhan tahun kemudian dikenal dengan sebutan

jurnalisme advokasi.

Pada tahun 1910 di Betawi, “Medan Prijaji” terbit tiap hari kecuali hari Jumat dan Minggu dan hari raya. Dicetak di percetakan Khong Tjeng Bie, Pancoran, Betawi. Rubrik yang paling digemari adalah surat dan jawaban serta penyuluhan hukum gratis yang disediakan Medan Prijaji kepada rakyat yang berperkara. Usaha inilah yang menjadikan koran ini berkembang. Simpati pun datang melimpah hingga pada tahun ketiga terbitannya, Medan Prijaji berubah menjadi harian dengan 2000 pelanggan yang menurut laporan Rinkes: “untuk harian Eropa di Hindia pun sudah merupakan jumlah bagus, lebih-lebih untuk harian Melayu.”Ketika pertama kali terbit menjadi harian tetap, mengambil tahun IV karena tahun I, II, dan III masih mingguan yang terbit di Bandung, di bawah judul surat kabar harian Medan Prijaji itu tertulis moto: “Orgaan boeat bangsa jang terperentah di H.O. Tempat akan memboeka swaranya Anak-Hindia”. Di zaman itu, merupakan sebuah keberanian luar biasa mencantumkan moto demikian. Seorang T.A.S. berpikir bahwa bangsa Hindia dipersatukan bukan oleh kesamaan agama, etnik atau hubungan darah tapi oleh kesamaan pengalaman sebagai “orang terperintah”. Berangkat dari kesamaan tersebut mendorong lahirnya jaman “pergerakan” sebelum sejarah mencatat era “kebangkitan” nasional. Dalam pemikiran T.A.S. bahwa penjajahan dapat eksis karena feodalisme dan penguasaan sumber-sumber ekonomi oleh perusahaan Belanda saat itu karena lemahnya kontrol kaum priyayi.Medan Prijaji mengambil posisi sebagai corong suara publik. Sebagai aktivis pergerakan, tulisan-tulisan T.A.S. dalam Medan Prijaji tak pernah berbasa-basi, tapi menunjuk muka langsung. Hampir tak ada satu pun kebijakan kolonial yang dirasa memberatkan rakyat yang lolos dari pemberitaan Medan Prijaji. Di seluruh karesidenan Jawa, Medan Prijaji bukan lagi teman, tapi benar-benar medan berkelahi. Di Banten, Rembang, Cilacap, Bandung, diperkarakannya banyak hal. Pemberitaan-pemberitaan Medan Prijaji sering dianggap menyinggung pemerintahan Kolonial Hindia Belanda saat itu. Nomor terakhir terbit 3 Januari 1912 tahun VI. Pada 23 Agustus 1912 Medan Prijaji pun ditutup. T.A.S. juga dituduh menipu sejumlah orang yang berhimpun di Vereeniging van Ambtenaren bij het Binnenlandsch Bestuur (Perhimpunan Amtenar Pangreh Praja). Dua bulan setelah tutup, Jaksa Agung Hindia Belanda A Browner menjatuhkan vonis bahwa T.A.S. bersalah telah menulis penghinaan kepada Bupati Rembang. Medan Prijaji terkena delik pers yang dianggap menghina Residen Ravenswaai dan Residen Boissevain yang dituduh menghalangi putera R. Adipati Djodjodiningrat (suami R.A. Kartini) menggantikan ayahnya. T.A.S. pun dijatuhi hukuman pembuangan ke pulau Bacan, wilayah Halmahera selama 6 bulan, namun baru diberangkatkan setahun kemudian karena masalah perekonomian penerbitan Medan Prijaji dengan para krediturnya.Sekembali dari Ambon, T.A.S. tinggal di Hotel Medan Prijaji (ketika ia sedang di Ambon namanya diubah menjadi Hotel Samirono oleh Goenawan). Akibat mengalami pengasingan di tahun 1915 praktis mebuatnya tersingkir dari panggung gerakan nasionalis. KemudianT.A.S. sakit-sakitan dan akhirnya meninggal pada tanggal 7 Desember 1918. Adalah seorang Marco Kartodikromo, murid sekaligus pegawainya penah menulis obituari singkat tentang sosok T.A.S. di Sinar Hindia beberapa waktu kemudian namun setelah itu namanya hilang dalam catatan sejarah. Namanya mulai terangkat ketika Ki Hajar Dewantara mencatat tentang diri Tirto Adi Soerjo yang menulis buku kenang-kenangannya pada tahun 1952, sebagai berikut: “Kira-kira pada tahun berdirinya Boedi Oetomo ada seorang wartawan modern, yang menarik perhatian karena lancarnya dan tajamnya pena yang ia pegang yaitu almarhum R.M. Djokomono, kemudian bernama Tirto Adi Soerjo, bekas murid STOVIA yang waktu itu bekerja sebagai redaktur harian Bintang Betawi (yang kemudian bernama Berita Betawi) lalu memimpin Medan Prijaji dan Soeloeh Pengadilan. Ia boleh disebut pelopor dalam lapangan jurnalistik.”T.A.S. sampai waktu yang cukup lama menghilang dari narasi sejarah Indonesia tapi bukan berarti bahwa “perannya” dalam membangun kesadaran rakyat Hindia sebagai kaum tertindas kurang penting dibanding organisasi Budi Utomo. Ini semata untuk memahami bagaimana bangsa ini terbentuk dan berkembang dalam pemikiran dan praktek. Dalam pemikirannya yang mendukung diruntuhkannya tembok feodalisme dengan menjatuhkan kekuasaan raja-raja, namun dilain pihak seorang T.A.S. menginginkan prinsip persamaan di depan hukum diberlakukan bagi tanah jajahan. Tirto Adhi Soerjo juga mendapat tempat yang banyak dalam laporan-laporan pejabat-pejabat Hindia Belanda, terutama laporan Dr. Rinkes. Ini disebabkan karena T.A.S. memegang peranan pula dalam Sarekat IslamKisah perjuangan T.A.S. diabadikan oleh Pramoedya Ananta Toer (PAT) selepas keluarnya dari pembuangan pulau Buru awal tahun 1980-an. Ditulis dengan nama Minke dalam buku Tetralogi Buru, empat buku tebal yang berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Selain Tetralogi PAT pun menulis kekagumannya atas T.A.S. dalam buku Sang Pemula. Entah alasan pemerintah saat itu apa sehingga karya Tetralogi PAT dilarang terbit dan beredar. Sejak reformasi bergulir buku-buku PAT banyak dicetak ulang dan beredar secara bebas. Karya PAT tentang Minke sebagai Tirto Adhi Soerjo ini sudah banyak diterjemahkan di luar negeri, hingga 33 bahasa, diakui internasional di berbagai negara sebagai sebuah karya sejarah yang apik. Selain berlatar belakang sejarah yang tentunya lebih menarik sebagai referensi pelajaran sejarah di sekolah, PAT menggambarkan manusia Indonesia dengan keadaan feodal dan sistem kolonialnya. Tak hanya kronologi era Kebangkitan Nasional Indonesia dipaparkan lebih membumi dengan bahasa yang sederhana, PAT juga menggambarkan kisah cinta seorang manusia yang sederhana, tidak muluk-muluk, saat Minke bertemu dengan Annelies, sang Bunga Akhir Abad. Mengingat jasanya beliau dinyatakan sebagai Perintis Pers Indonesia tahun 1973 oleh Dewan Pers RI, dan pemerintah mengukuhkannya sebagai Bapak Pers Nasional. Takashi Shiraishi lewat buku Zaman Bergerak (1990) menyebut Tirto Adhi Soerjo sebagai orang bumiputra pertama yang menggerakkan bangsa melalui bahasanya lewat Medan Prijaji. Tahun 2006 Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PPKK) Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran (Lemlit Unpad) mempelajari tiga calon pahlawan nasional dari Jawa Barat yaitu R. Soepriadinata, R.M. Tirto Adhi Soerjo, dan K.H. Noer Ali. Dan akhirnya pada tanggal 3 November 2006, Tirto Adhi Soerjo mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres RI no 85/TK/2006. Atas jasa-jasanya itu pula, pemerintah RI menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana http://www.nasionalisperjuangan.org

 
Leave a comment

Posted by on August 9, 2011 in Nasionalis

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: