RSS

KEBANGKITAN NASIONAL

26 May

Sejarah Indonesia telah mencatat momentum kebangkitan nasional pada tanggal 20 mei 1908 yang kita kenal dengan pergerakan Boedi Oetomo. Tokoh kebangkitan ini adalah Dr Soetomo, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara), dr. Doewes Dekker

Adalah momentum bangkitnya rasa persaudaraan, persatuan dan nasionalisme, atas sebuah kesadaran untuk melawan musuh bersama yakni penindasan pejajah Belanda. Momentum kebangktan ini selanjutnya melahirkan perhimpunan gerakan politik seperti Indische Partij 1912 tokohnya adalah Dr. Tjipto Mangunkusumo, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara), dr. Doewes Dekker,  ialah partai politik pertama yang menyatakan ingin memerdekakan Indonesia, Sarekat Islam (Haji Samanhudi, RM Tirtoadisuryo, H.O.S  Tjokroaminoto), Partai Idonesia Raya (Parindra) 1917, Partai Sosial Demokrat Hindia 1917 selanjutnya Perserikatan Komunis Hindia 1920 (Henk Sneevliet, Semaoen) dan Partai Komunis Indonesia tahun 1924 , organisasi massa Muhammadyah oleh KH Ahmad Dahlan, Nahdlatul Ulama 1926 (KH Mohammad Hasyim Asy’ari), PNI (Perserikatan Nasional Indonesia) 1927 oleh Dr. Tjipto Mangunkusumo, Mr. Sartono, Mr  Iskaq Tjokrohadisuryo, Mr Sunaryo, Soekarno selajutnya menjadi Partai Nasionalis Indonesia tahun 1928. ikrar Sumpah pemuda 1928, Indonesia Muda 1930, Selanjutnay tahun 1931 PNI pecah menjadi Pendidikan Nasional Indonesia  (PNI) baru oleh Hatta, Syahrir, dan Partindo (Partai Indonesia) dibentuk Mr Sartono.

Keseluruhan rangkaian sejarah tersebut bermuara hingga pada akhirnya menghantarkan Indonesia Merdeka pada proklamasi 17 Agustus 1945

PEMILU 1955

Sebagai sebuah bangsa (modern) pemilu untuk pertama kalinya ini tentu memiliki arti penting dan strategis. Sebagaimana pandangan yang disampaikan Bung Karno saat merumuskan Panjasila 1 Juni 1945 bahwa Indonesia yang dicita-citakan salahsatunya berdasar kepada demokrasi/pemufakatan. Sehingga menurut Bung Karno bahwa jika Islam ingin memperjuangakan gagasan, pemikiran, nilai-nilai dan ideologinya harus melalui proses pemilu dengan mendorong sebanyak mungkin wakil-wakilnya dalam DPR. Begitu pula dengan kaum Nasrani dan lainya.

Pemilu ini disiapkan oleh perdana menteri Ali Sastroamidjojo pada situasi keamanan tidak kondusif yang mana terjadi pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesaia) pimpinan Kartosuwirya. Tentara dan polisi juga memiliki hak pilih. Pemilu ini dilaksanakan dua tahap. Tahap pertama 29 September 1955 bertujuan memilih anggota DPR memperebutkan 260 kursi diikuti oleh 29 parpol dan individu. Tahap kedua tanggal 15 Desember 1955 untuk memilih anggota Konstituante memprebutkan 520 kursi, ditambah 14 golongan minoritas yang diangkat pemerintah. Saat pemungutan suara Ali Sastro mengundurkan diri digantikan  Burhanuddin Harahap. Berikut 10 pemenang pemilu tersebut sesuai urutan yakni

1.       Partai Nasional Indonesia  57 kursi DPR dan 119 Konstituante,

2.       Masyumi 57 kursi DPR dan 112 Konstituante,

3.       Nahdlatul Ulama 45 kursi DPR dan 91 Konstituante,

4.       PKI 39 kursi DPR dan 80 Konstituante,

5.       Partai Syarikat Islam Indonesia 8 kursi

6.       Parkindo 8 kursi DPR

7.       Partai Katolik 6 kursi DPR

8.       Partai Sosialis Indonesia 5 kursi DPR

9.       Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia 4 kursi DPR

10.   Perti 4 kursi DPR

DEKRIT PRESIDEN 5 JULI 1959

Setelah pemilu 1955 berhasil dilaksanakan dengan damai selanjutnya Bung Karno mendorong agar wakil-wakil rakyat melalui DPR dan Konstituante untuk menyempurnakan UUD 1945. Namun karena Badan Konstituante  dalam kurum waktu 2 tahun 1956-1958 gagal merumuskan UUD baru menggantikan UUDS 1950 setelah melalui voting dalam Badan Konstituante, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit yang isinya (1 ) Pembubaran Badan Konstituante, (2) Berlakunya Kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya UUDS 1950, (3) Pembentukan MPRS dalam waktu sesingkatnya.

Pada masa pemerintahan Bung Karno, Kabinet Djuanda pernah didirikan badan pemberantasan korupsi dengan nama Panitia Retooling Aparatur Negara (Paran) dipimpin oleh AH Nasution, M Yamin dan Roeslan Abdulgani. Namun tidak berjalan efektif. Kemudian berdasarkan Kepres No 275 Tahun 1963 membentuk Operasi Budhi yang dipimin AH nasution dan Wiryono Prodjodikusumo. Dalam perkembangannya Operasi Budhi menjadi Komando Tertinggi Retooling Aparatur Revolusi dengan pimpinan langsung berada ditangan presiden Soekarno dibantu Soebandrio dan Ahmad Yani.

PEMILU 1973

Awal pemerinahan Soeharto di tahun 1967 pernah membentuk Tim Pemberantas Korupsi yang dipimpin Jaksa Agung. Kemudian menjadi Komite Empat (Prof Johannes, I J Kasimo, Wilopo dan A Tjokroaminoto) selanjutnya menjadi Operasi Tertib dipimpin Laksamana Sudomo sebagai Pangkopkamtib.

Penguasa orde baru juga mengambil kebijakan sistem penyelenggaraan pemilu dengan menyederhanakan partai. Pada 5 januari 1973 lahirlah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai fusi dari Partai Nahdlatul Ulama, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Perti dan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).

Tanggal 10 Januari 1973 lahirlah Partai Demokrasi Indonesia (PDI) sebagai fusi dari Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), dan Partai Katolik.

Penyederhanaan partai politik ini akhirnya melahirkan PPP, Golkar dan PDI sebagai kontestan pemilu 1973-1997 yang selalu dimenangkan oleh Golkar.

Pada saat Pemilu 1973 muncul istilah Golput yakni Golongan Putih oleh seorang Arief Budiman (Soe Hok Djin). Arief Budiman adalah aktifis 1966 yang menggulingkan Bung Karno dan mendukung orde baru dibawah Soeharto. Namun akhirnya sikapnya berlawanan dengan orde baru yakni menentang dominasi Golkar atas praktek yang membelokkan perjuangan menuju pemerintahan yang demokratis.

PEMILU DI ERA REFORMASI   Pemilu di era Reformasi ditandai dengan kejatuhan pemerintahan Soeharto tanggal 21 Mei 1998. Dan digantikan oleh B.J. Habibie. Kejatuhan rezim orde baru ini diawali dari krisis ekonomi/moneter Januari 1998, berbagai demontrasi mahasiswa, demonstrasi buruh, kenaikan harga BBM, kerusuhan Medan, bentrokan aparat dan mahasisiwa di Cimanggis, Yogyakarta, Trisakti Jakarta, kerusuhan di Jakarta dan Solo, desakan mundur presiden Soeharto oleh ketua MPR tanggal 18 Mei 1998, pendudukan gedung DPR/MPR oleh demonstran, demonstrasi merata diberbagai kota dan kampus-kampus akhirnya memaksa pengunduran diri Soeharto. Pengukuhan B.J. Habibie sebagai presiden dalam Sidang istimewa MPR ditentang demonstaran dan mengakibatkan korban Tragedi Semanggi.

Habibie selanjutnya melaksanakan kebijakan pembebasan tahan politik (tidak seluruhnya), liberalisasi parpol, kebebasan pers, kebebasan berpendapat dan berserikat, pencabutan UU Subversi dan referendum atas Timor Timur, tidak berhasil meloloskan UU Penanggulangan Keadaan Bahaya karena desakan demonstran yang mengakibatkan korban Tragedi Semanggi II, terjadi kekerasan etnis dan agama di Maluku, lahir UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme dan membentuk Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat Negara (KPKPN). Rakyat menuntut pemerintahan Habibie untuk mempercepat Pemilu.

PEMILU 1999 menempatkan PDI Perjuangan sebagai pemenang (35%) namun karena presiden masih dipilih oleh MPR maka bukan Megawati dpilih MPR sebagai presiden. MPR melalui Poros Tengah yang dimotori Amien Rais memilih Abdurahman Wahid/Gus Dur.

Era pemerintahan Abdurahman Wahid, gerakan separatisme semakin kuat di Aceh, Maluku dan Papua, Skandal Bulog, kasus KKN Soeharto tak tersentuh, Papua minta referendum, kerusuhan Poso, bom meledak di kedubes Filipina, bom di kedubes Malaysia, bom di gedung Bursa Efek Jakarta, bom malam Natal 2000, kerusuhan Sampit (Dayak-Madura), memberikan kebebasan atas kebudayaan dan bahasa Tionghoa, Amademen pertama UUD 1945 14-21 Oktober 1999 dan Amandemen kedua UUD 1945 7-18 Agustus 2000. Berdasar perpu Nomor 19 Tahun 2000 Gus Dur membentuk Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK).

Karena kebijakan-kebijakannya yang kontroversial maka terjadi tuntutan mundur kepada Gus Dur. Pada tanggal 29 Januari 2001 Abdurahman Wahid akhirnya menyerahkan kekauasaannya ke Megawati Soekarno Putri yang kala itu sebagai wakil presiden dan dikukuhkan dalam Sidang Istimewa MPR 23 Juli 2001.

Pada era Megawati terjadi bom di Atrium Senen, bom di KFC Makasar, bom di Australian International School, penandatangan perdamaian konflik Poso dalam keputusan Malino, Amandemen ketiga UUD 1945 1-9 Nopember 2001.

Di tahun 2002 melahirkan Komnas HAM, Irian Jaya berganti nama menjadai Papua, menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional, Amademen yang keempat  UUD 1945 1-11 Agustus 2002 untuk memilih presiden secara langsung dan pembatasan jabatan presiden, Bom Bali I, Indonesia dan GAM menandatangani kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik bersenjata di Jenewa, Otonomi Aceh, ledakamn bom di KFC Makasar.

Ditahun 2003 bom di wisma Bhayangkari Mabes Polri, bom di bandara Soekarno-Hatta, darurat Militer di Aceh karena gagal melaksanakan keputusan damai, bom JW Marriot, bom di Palopo. Tahun 2003 dibentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), berdasarkan UU Nomor 24 Tahun 2003 dibentuk Mahkamah Konstitusi.

PEMILU 2004 terdiri dari pemilu legislatif yang dimenangkan oleh Partai Golkar. Sebelum penyelenggaraaan pemilu presiden putaran dua antara pasangan Megawati vs SBY terjadi bom di kedubes Australia. Pemilu presiden untuk kali pertamanya dipilih langsung rakyat dimenangkan oleh pasangan Susilo Bambang Yodhoyono-Jusuf Kalla.

Masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, Eurico Guterres dinyatakan bersalah dalam pengadilan HAM Timor Timur. Berdasarkan UU Nomor 22 Tahun 2004 dibentuk Komisi Yudisial pada tanggal 13 Agustus 2004.

PEMILU 2009 terdiri dari pemilu legislatif yang dimenangkan oleh Partai Demokrat. Pemilu presiden dalam sekali putaran dimenangkan oleh pasangan Susilo Bambang Yodhoyono-Boediono.

PERMASALAHAN

Didalam perkembangan kehidupan bernegara sejak lahirnya ideologi Pancasila 1 Juni 1945 dan disahkan menjadi dasar negara 18 Agustus 1945 hingga era reformasi saat ini Indonesia telah mengalami berbagai situasi politik dan ancaman disintegrasi. Baik saat awal kemerdekaan membangun demokrasi masih ada pertarungan atau polarisasi kekuatan kebangsaan/nasionalis, agama, sosialis dan komunis.  Karena ditengah perang dingin Indonesia sebagai negara strategis dan besar tak luput dari tarik-menarik kepentingan global. Terlebih figur sentral Bung Karno yang mampu menggalang kekuatan dunia ketiga dalam konferensi Asia Afrika sebagai Gerakan Nonblok sedikitnya cukup menjadi ancaman kedua kekuatan blok barat dan blok timur. Belum lagi dan berbagai pemberontakan DI/TII, PRRI/Permesta, RMS, pemberontakan PKI.

Ancaman pengaruh komunisme di tahun 1965 menjadikan Amerika yang mewakili blok barat berandil besar dalam “menjatuhkan” orde lama dibawah presiden Soekarno. Selanjutnya isu komunisme ini juga memberi dukungan Amerika atas legitimasi presiden Soeharto untuk menintegrasi Timor Timur.

Pasca runtuhnya komunisme, dan kemajuan industri medorong negara-negara kapitalis mencari deposit-doposit minyak bumi yang pada gilirannya secara langsung maupun tak langsung menjadikan negara Timur Tengah menjadi negara-negara kaya baru. Bermodalkan kemakmuran dari minyak melahirkan kelompok-kelompok terdidik yang moderat maupun sebaliknya kelompok yang justru mengarah kepada fundamentalis. Hal ini ditandai dengan gerakan-gerakan perlawanan atas penguasaan asing yg terwakili oleh Amerika di Timur Tengah. Gejala-gejala ini dalam perkembanganya bermigrasi ke Indonesia yang didukung oleh iklim demokratisasi pasca 1998 yang liberal. Tak sedikit “ideologi agama” sebagai alat propaganda dalam memperjuangkan ideologi kelompoknya. Ada yang mendifinisikan ini sebagai sebuah ancaman Ideologi Transnasional. Akhirnya Indonesia “terancam” dalam pertarungan Neolibralisme-kapitalis, Nasionalisme-Pancasila dan Ideologi Transnasional.

KEBANGKITAN INDONESIA DALAM KONTEKS HARI INI?103 tahun lalu pergerakan Budi Utomo sebagai tonggak kebangkinan nasional  mendorong seluruh eleman masyarakat bangkit dari identitas sekat primordial dan gerakan sporadis dalam menumbuhkan nasionalisme, kesadaran kebangsaan untuk melawan musuh bersama yakni penindasan kaum penjajah Belanda. Lalu bagaimana kita memaknai kebangkitan dalam konteks hari ini? Bangsa Indonesia mau bangkit dari apa?

MODAL KEBANGKITAN

Ditengah derasnya arus globalisasi yang berbasis perkembangan teknologi informasinya tak ayal telah memutus dinding ruang dan waktu, batas-batas geografis antar negara. Informasi begitu cepatnya dapat diakses oleh sebuah negara dalam hitungan detik/menit. Dan celakanya informasi itu mengandung konsekwensi atas persepsi dunia yang bisa positif ataupun sebaliknya negatif. Belum lagi “kecanggihan” teknologi informasi yang lahir dari  negara-negara yang dipersepsikan liberal dan kapitalis karena penguasaan teknologi dan hak istimewanya dapat “memata-matai” aktifitas politik, sosial kemasyarakatn sebuah negara tak terkecuali Indonesia. Semisal Google sebagai mesin pengumpul dokumen dalam bentuk digital, visual gambar termasuk kecanggihannya dalam mendokumentasikan foto citra satelit begitu mudahnya dapat mendeteksi aktifitas-aktifitas “militer” yang bersifat rahasia. Hal ini tentu memudahkan kerja-kerja intelijen negara dimana memiliki hak istimewa untuk mengakses Google dalam menganasila aktifitas “musuh”, mengidentifikasi kandungan mineral sebuah negara, gerakan-gerakan perlawanan sipil dalam sebuah negara. Belum lagi situs jejaring sosial yang mendunia seperti Facebook dan Twitter dalam era kebebasan informasi tak jarang dapat memperkuat gerakan-gerakan perlawanan sipil atas nama demokrasi terhadap pemerintahan yang dianggap tidak memihak kepentingan masyarakatnya. Gejala ini telah terjadi pada krisis di Timur Tengah dan pergolakan politik di Mesir, Libya, Yaman, Tunisia.

Lalu ketika dihadapkan kepada modernisasi dimana penguasaan teknologi informasi yang memperkukuh hegemoni barat dalam memainkan isu global yakni demokratisasi, HAM, lingkungan, kemiskinan apa yang menjadikan modal Indonesia untuk bangkit?

1.       Sejarah Perjuangan Bangsa

Bangsa didifinissikan sebagai adanya sebuah persamaan kehendak dalam sebuah kesatuan wilayah. Sejarah merupakan kumpulan rangkain peristiwa masa lalu dan masa kini. Ketika kita bicara entitas sebagai sebuah bangsa maka kita dipersatukan oleh sebuah persamaan seperti ideologi, ras, agama dan kebudayaan. Dalam sejarah perkembangan peradaban dunia kita pernah mengenal peradaban Veda di lembah sungai Shindu, Mesir Kuno di lembah sungai Nil, Mesopotamia di lembah sungai Eufrat dan Tigris, Romawi. Seluruh peradaban tersebut mengantungan hidup dari sektor agraris. Roma yang pernah menjadi ibukota kekaisaran Romawi selama berabad-abad menjadi pusat politik dunia barat. Setelah jatuhnya Romawi, Italia terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil sepeti kerajaan Sardinia dan Milan. Namun bangkit kembali (IlRisorgimento) untuk bersatu di tahun 1861 setelah mengalami kerusuhan sosial dan akhirnya menjadi imperialis dan kolonialis atas Libya, Eritrea, Somalia, Ethiopia, Albania, dll.

Revolusi Prancis 1789 yang telah melahirkan liberalisme versus monarki.

Peradaban modern diyakini mulai terjadinya revolusi Industri di Inggris dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt seorang insinyur Scotlandia tahun 1819 melahirkan kapitalisme dan perubahan struktur sosial politik masyarakat Eropa yang mendorong lahirnya kolonialisme dan imperialisme dengan perjuangan untuk mendapatkan bahan mentah dan bahan baku. Dari sini pula melahirkan pemikir modern yang selanjutnya mengubah paradigma menuju perubahan2. Mereka adalah Charles Darwin dengan evolusi manusianya, Karl Marx (1818-1883) dengan pandangan-pandangan politiknya melahirkan sosialisme dan Freud yang mengamati psikologi manusia. Mereka telah membuka tabir misteri perkembangan manusia dan prilakunya di abad modern. Mulailah era imperialisme modern dengan semboyan Gold, Glory dan Gospel.

Jauh sebelum peradaban modern, abad I wilayah “Nusantara” telah dihuni manusia yang beradab sebagi cikal bakal raja-raja nusantara yakni Dewi Pwahaci Larasati putri Aki Tirem asli Nusantara menikahi Dewawarman dari Pallawa-Bharata (India sekarang) membangun kerajaan Salakanagara/negeri perak (130-362) yang beribukota di Rajatapura (Pandeglang sekarang) yang selanjunya mewarisnan dinasti Warman.

Di tempat lain ditanah sunda  didirikan kerajaan Tarumanegara (358-669) oleh Maha Rsi Jayasinghawarman dari Calankayana negeri Bharata/India yang menjadi menantu Dewawarman VIII raja terakhir Salakanagara. Raja Tarumanegara yang paling terkenal adalah Purnawarman dan raja terakhir adalah Linggawarman.

Di Tanjung Pura (Kalimantan sekarang) abad ke IV berdiri kerajaan Kutai Martadipura (hulu sungai Mahakam) wilayah Kalimantan Timur sekarang dan kerajaan Kuripan/Tabalong (hulu Sungai Utara) diwilayah Kalimantan Selatan sekarang. Kerajaan Kutai Martadipura didirikan oleh Aswawarman putra Kundungga. Raja yang paling terkenal adalah putra Aswawarman yakni Mulawarman. Kerajaan Kutai Martadipura runtuh dimasa Maharaja Dharma Setia yang dikalahkan oleh kerajaan Kutai Kartanagara 1365 yang selanjutnya menjadi kesultanan.

Setelah Linggawarman (666-669) mangkat Tarumanegara diwariskan kepada Tarusbawa menantunya dan memindahkan ibukotanya ke Sundapura. Perpindahan ibukota Tarumanegara ke Sundapura melahirkan Kerajaan Sunda (669-1579) meliputi wilayah Jawa Barat (sebelah barat sungai Citarum), Banten, Jakarta sekarang. Menantu Linggawarman yang lain Dapuntahyang Sri Janayasa mendirikan kerajaan Sriwijaya. Selanjutnya di masa keemasannya 692 Sriwijaya membawahi wilayah Sumatera, Semenjung Malaya, Kamboja dan Jawa (berebut pengaruh dengan kerajaan Medang), dan menguasai jalur perdagangan dunia yakni Selat Malaka, Selat Sunda dan Laut Cina Selatan.

Penguasa Galuh Wretikandayun memerdekakan diri dari Tarumanegara dan mendirikan kerajaan Galuh (612-702) dengan wilayah sebelah timur sungai Citarum dan Jawa Tengah bagian barat (sungai Cipamali/Kali Brebes).

Dilanjutkan oleh putra bungsunya Rahiyang Mandiminyak. Rahiyang Mandiminyak berselingkuh dengan istri kakaknya Rahiyang Sempakwaja yang menjadi Rsiguru Galunggung dan melahirkan Bratasenawa/Sena yang mewarisi kerajaan Galuh.

Rahiyang Mandiminyak dengan istrinya Dewi Parwati (putri ratu Shima) melahirkan Sannaha. Putri Shima (674-732) adalah ratu kerajaan Kalingga (Pekalongan-Jepara). Sena dan Sannaha menikah dan melahirkan Sanjaya.

Karena merasa memiliki hak atas tahta Galuh maka Demunawan dan Purbasora putra Rahiyang Sempakwaja mengkudeta Sena dan kekuasaan Galuh jatuh kepada Purbasora. Sena mengungsi ke Pakuan meminta perlindungan Tarusbawa.

Berkat bantuan penguasa Sunda, Sanjaya berhasil mengkudeta penguasa Galuh Purbasora.

Di tangan Sanjaya akhirnya Sunda dan Galuh disatukan kembali (723-732) setelah menjadi cucu menantu Tarusbawa.

Setelah Ratu Shima mangkat 732 Kerajaan Kalingga diwariskan kepada Sanjaya yang selanjutnya membangun Bumi Mataram/Kerajaan Medang.

Kekuasaan Sanjaya atas Sunda Galuh akhirnya diwariskan kepada putranya Rarkyan Panaraban. Kerajaan Sunda Galuh memiliki pelabuhan perdagangan yakni Banten, Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang sekarang), Kalapa (Sunda kelapa sekarang), dan Cimanuk. Pasca Panaraban Sunda Galuh sempat mengalami beberapa kali kudeta kekuasaan. Selanjutnya kekuasaan Sunda Galuh pernah dipegang oleh Sri Jayabhupati (1030-1042) menantu Dharmawangsa Teguh, raja Medang terakhir (satu mertua dengan Airlangga). Pasca Sri Jayabhupati, suksesi kekuasaan di Sunda Galuh kembali berjalan normal. Tercatat paling lama memimpin Sunda Galuh adalah Dharmasiksa (1175-1297).

Di Bumi Mataram/kerajaan Medang selanjutnya Sanjaya mewariskan dinasti wangsa Sanjaya kepada raja-raja berikutnya. Pada masa Sanjaya Hindu aliran Siwa menjadi agama resmi kerajaan. Pada masa pemerintahan Medang oleh Rakai Panangkaran tahun 770 (wangsa Sailendra) pernah menaklukkan kerajaan Sriwijaya. Pada masa wangsa Sailendra Buddha Mahayana sebagai agama resmi yang mewariskan Borobudur.

Di tahun 840an keturunan wangsa Sanjaya, Rakai Pikatan menikahi putri Sailendra, Pramodawardhani dan akhirnya menjadi raja Medang. Rakai Pikatan mewariskan candi Prambanan. Pada masa Rakai Pikatan berhasil menyingkirkan keturunan Sailendra yakni Balaputradewa yang selanjutnya menjadi raja Sriwijaya. Di masa Rakai Pikatan dan Balaputradewa, Medang dan Sriwijaya bersaing untuk menguasai jalur perdagangan Asia Tenggara. Di masa Rakai Pikatan Hindu dan Buddha berdampingan penuh toleransi.

Dyah Balitung yang bukan keturunan langsung Sanjaya pernah berkuasa atas Medang karena mampu mempersatukan kekuasaan kerajaan atas Jawa (kecuali Sunda Galuh) dan Bali. Kemudian Mpu Daksa yang mengaku keturunan Sanjaya mengkudeta Dyah Balitung. Dyah Tulodhong (menantu Mpu Daksa) dikudeta Dyah Wawa.

Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa (928-929) adalah raja terakhir kerajaan Medang  di bumi Mataram (Jawa Tengah) karena akibat letusan hebat Merapi ibukota berpindah ke sekitar Jombang oleh Mpu Sendok (929-947) yang mewariskan wangsa Isana.

Meskipun beliau seorang Hindu beraliran Siwa namun Hindu dan Buddha Tantrayana berdampingan penuh toleransi.

Di masa Mpu Sendok jalur perdagangan Asia Tenggara dapat dikuasai dari tangan Sriwijaya. Dengan dikuasainya jalur perdagangan ini Sriwijaya membangun kekuatan untuk membalas. Dimasa Dharmawangsa Teguh (cicit Mpu Sendok) akhirnya kerajaan Medang dapat dihancurkan oleh koalisi Sriwijaya dengan tewasnya Dharmawangsa Teguh tahun 1006. Airlangga berhasil lolos dari penyerbuan koalisi Sriwijaya tepat saat Airlangga melangsungkan pernikahan dengan putri Dharmawangsa Teguh. Kerajaan Medang (732-1006) selama 274 tahun.

Di tahun 1009, Airlangga/Erlangga putra Udayana wangsa Warmadewa raja kerajaan Bedahulu Bali dan Mahendradatta (saudara Dhamawangsa Teguh) mendirikan kerajaan Kahuripan setelah selama 3 tahun pelariannya dihutan yang ditemani Mpu Narotama saat penghancuran kerajaan Medang. Airlangga membangun kembali puing-puing sisa kerajaan Medang yang hanya meliputi Sidoarjo dan Pasuruan.

Dengan kekalahan Sriwijaya tahun 1023 oleh kerajaan Colamandala-India merupakan kesempatan Airlangga untuk mengembalikan kekuasaan Medang dibawah kerajaan Kahuripan yang berpusat di Surabaya/Sidoarjo sekarang. Ahirnya Airlangga menguasai Jawa (kecuali Sunda Galuh) dan Bali. Airlangga selanjutnya memindahkan ibukota Kahuripan ke Daha, Kediri sekarang di tahun 1042.

Airlangga juga dikenal sebagai raja yang menghormati toleransi atas keyakinan Hindu Siwa dan Buddha dan mewariskan kesusastraan kekawin Arjuna Wiwaha yang ditulis Mpu Kanwa tahun 1035 yang diadaptasi dari Mahabharata. Atas kearifannya di tahun 1042 Airlangga (penganut Hindu Waisnawa) turun tahta menjadi seorang pendeta. Sebelum menjadi Pendeta Airlangga membagi Kahuripan menjadi dua yakni kerajaan Kadiri/Panjalu yang beribukota di Daha yang diperintah Sri Samarawijaya (putra dari permaisuri pertama) dan kerajaan Janggala (1042-1135) beribukota di Kahuripan yang diperintah Mapanji Garasakan (putra dari permaisuri kedua). Mpu Bharada ditugaskan untuk membagi batas-batas wilayah kedua kerajaan yang tercatat dalam kitab Nagarakretagama.

Pasca mangkatnya Airlangga 1045, Panjalu dan Janggala dilanda perang saudara.

Saat pemerintahan Sri Jayabhaya penguasa Panjalu berhasil menaklukkan Jenggala tahun 1135. Umur kerajaan Janggala (1042-1135) 93 tahun

Selanjutnya wilayah kerajaan Panjalu meliputi seluruh Jawa (kecuali Sunda Galuh) dan beberapa pulau di nusantara. Di masa kerajaan Kadiri/Panjalu banyak menghasilkan karya sastra diantaranya kekawin Bharatayudha (Mpu Sedah dan Mpu Panuluh), Kekawin Hariwangsa dan Ghatotkachasraya (Mpu Panuluh), Kekawin Smaradahana (Mpu Dharmaja), Sumanasantaka (Mpu Monaguna), Kresnayana (Mpu Triguna).

Pada perkembangannya di tahun 1222 Kertajaya sebagai penguasa Panjalu berselisih dengan kaum Brahmana yang kemudian meminta perlindungan dengan Ken Arok akuwu Tumapel (bagian wilayah Kadiri). Justru momentum itu dipakai Ken Arok untuk melakukan perlawanan terhadap Kadiri dan dimenangkan oleh Ken Arok. Keruntuhan Kadiri ditulis dalam kitab Pararton dan Negarakretagama. Umur kerajaan Panjalu/Kadiri (1042-1222) 180 tahun.

Selanjutnya Ken Arok mendirikan kerajaan Tumapel (1222-1292) bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Tumapel membawahi Kadiri beribukota di Singhosari. Kerajaan Tumapel lebih dikenal dengan kerajaan Singhosari.

Kisah kudeta berdarah dialami oleh kerajaan Tumapel yangmana Ken Arok dibunuh tahun 1247 oleh Anusapati (putra Tunggul Ametung x Ken Dedes). Anusapati berkuasa atas Tumapel dan Mahisa Wonga Teleng (putra ken Arok x Ken Dedes) berkuasa atas Kadiri  tahun 1247-1249. Mahisa Wonga Teleng digantikan oleh adiknya Toh Jaya lalu membunuh Anusapati selanjutnya berkuasa 1249-1250 atas Kadiri. Lalu Toh Jaya dibunuh Ranggawuni/Wisnuwardhana (anak Anusapati) berkuasa atas Kadiri tahun (1250-1268).

Sepeninggal Toh Jaya Kadiri dan Tumapel disatukan kembali oleh Wisnuwardhana. Perdamaian ini terjadi setelah Wisnuwardhana menikahi putri Mahisa Wonga Teleng. Pada periode ini terjadi pimpinan kolektif (rekonsiliasi) antara Wisnuwardhana dengan Mahisa Cempaka (putra Mahisa Wonga Teleng) dari nenek yang sama yakni Ken Dedes. Pasca kepemimpinan kolektif untuk menghindari kudeta berdarah Singhosari selanjutnya mengalami suksesi damai dari Ranggawuni ke putranya yakni Kertanegara.

Kertanegara berkuasa atas Kadiri tahun 1254 dan berkuasa penuh atas Singhosari (1268-1292) dan memiliki misi melanjutkan kebesaran kerajaan di nusantara pasca Medang (Mataram Hindu), dan Kahuripan.

Pada tahun 1275 Kertanegara melakukan ekspansi militer dengan mengirim pasukan ekspedisi Pamalayu (perang melawan Melayu) dibawah panglima Mahisa(Kebo) Anabrang ke kerajaan Melayu (kerajaan kuat di Sumatera pasca Sriwijaya) beribukota di Dharmasraya, Sumatera Barat sekarang dengan tujuan untuk menjadikan Sumatera (Swarnnabhumi) sebagai benteng pertahanan dari bangsa Mongol yang mengancam wilayah Asia Tenggara. Saat itu raja Dharmasraya adalah Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa akhirnya takluk atas Singhosari yang ditandai dengan pengiriman Arca Amoghapasa tahun 1286 ke Dharmasraya dan Tribhuwanaraja menghadiahi puterinya Dara Petak dan Dara Jingga untuk dinikahkan kepada Kertanegara. Tahun 1284 Kertanegara menaklukkan Bali.

Pasca jatuhnya kekuasaan Sumatera kepada Singhosari hal ini mendorong Kubilai Khan (dinasti Yuan)  tahun 1289 mengirim utusan ke Singhosari agar tunduk kepada Mongol.

Karena pemerintahan Singhosasri tak mau tunduk dengan penguasa Tiongkok, maka Mongol merencanakan ekspansi militer besar-besaran untuk menaklukkan Singhosari.

Sementara di tahun 1292 di dalam negeri Kertanegara menghadapi kudeta Jayakatwang (cicitnya Kertajaya) yang kala itu sebagai bupati Gelang-gelang. Jayakatwang memanfaatkan kekuatan militer Singhosasari yg terkosentrasi ke Melayu. Informasi ini didapat dari Arya Wiraraja. Arya Wiraraja pernah menjabat Rakryan Demung Singahosari namun karena menentang kebijakan politik luar negeri (ekspansif) Kertanegara maka Arya Wiraraja dimutasi menjadi Bupati Sumenep. Kertanegara pun tewas disaat kekuatan militernya baru kembali dari ekspedisi pamalayu tahun 1293. Saat meninggalkan Sumatera, Anabrang mendelegasikan kepada Indrawarman sebagai komandan sisa pasukan Pamalayu di Dharmasraya. Umur kerajaan Singhosari (1222-1292) 70 tahun

Jayakatwang membangun kembali kerajaan Kediri. Raden Wijaya bersama Nambi mengungsi ke Madura meminta perlindungan kepada Arya Wiraraja. Karena Wiraraja merasa pernah mengabdi kepada kakek Raden Wijaya akhirnya mau memberikan perlindungan. Melalui negosiasi Arya Wiraraja akhirnya Raden Wijaya diberikan pemukiman dengan membuka hutan Tarik oleh Jayakatwang. Hutan Tarik kemudian menjadi pemukiman desa Majapahit. Satu tahun kemudian ekspedisi militer Mongol yang bermaksud menyerang Singhosari dimanfaatkan oleh Raden Wijaya yang memimpin langsung pasukan pamalayu sekembali dari Sumatera. Kediripun dapat dihancurkan.

Selanjutnya Raden Wijaya, putra Lembu Tal/cucu Mahisa Cempaka berhasil menghancurkan tantara Mongol dan mendirikan kerajaan Majapahit pada 10 Nopember 1293/tanggal 15 bulan Kartika Saka 1251.

Raden Wijaya/ Kertarajasa Jayawardhana menikahi 4 puteri Kertanegara (Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, Gayatri Rajapatni yang melahirkan Dyah Gitarja dan Dyah Wyat) dan Dara Petak/Indreswari melahirkan Jayanegara.

Dara Jingga dipulangkan ke Dharmasraya menikahi pembesar Singhosari yang mengantar Arca Amoghapasa, Dyah Adwayabharma  yang kelak melahirkan Adityawarman.

Pasca keruntuhan Singhosari, Indrawarman tak mengakui kedaulatan Majapahit atas Sumatera sebagai penerus Singhosari. Indrawarman mendirikan  kerajaan Silo di Simalungun.

Saat Raden Wijaya mulai memimpin Majapahit, Arya Wiraraja, Lembu Sora, Kebo Anabrang atas jasanya diangkat menjadi Rakryan Mantri. Nambi menjadi Rakryan Patih (perdana menteri). Tidak puas dengan pengangkatan Nambi sebagai patih maka tahun 1295 Ranggalawe putra Arya Wiraraja saat menjadi adipati Tuban melakukan pemberontakan di Tuban. Dan Majapahit mengutus Nambi, Lembu Sora (paman Ranggalawe) dan Kebo Anabrang untuk menumpasnya.  Dan Ranggalawe terbunuh ditangan Kebo Anabrang. Tragisnya Kebo Anabrang langsung dibunuh oleh Lembu Sora.

Atas kejadian tersebut Arya Wiraraja mengundurkan diri dan meminta bagian wilayah Majapahit yang dijanjikan Raden Wijaya saat mau menggulingkan Jayakatwang. Akhirnya  Raden Wijaya memberikan kekuasaan kepada Arya Wiraraja atas Majapahit Timur yang beribukota di Lumajang.

Jayanegara (1309-1328), sebelum berkuasa penuh atas majapahit, sebagai penguasa Daha tahun 1295. Namun karena terlalu muda kekuasaan pemerintahannya diwakilkan kepada Lembu Sora.  Kemudian Lembu Sora memberontak tahun 1300 dan terbunuh. Jayanegara baru berkuasa penuh atas Majapahit saat Raden Wijaya mangkat tahun 1309.

Dimasa pemerintahannya terjadi persaingan jabatan politik. Ada anggapan dikalangan abdi Raden Wijaya bahwa Jayanegara bukan keturunan Majapahit asli melainkan campuran Jawa-Melayu. Saat itu Nambi masih menjabat patih. Saat pulang ke Lumajang, oleh Mahapati, Nambi difitnah diisukan akan melakukan kudeta terhadap Jayanegara. Dan Jayanegara pun menumpas Nambi tahun 1316. Kemuduan jabatan Rakryan Patih diserahkan kepada Arya Tadah.

Tahun 1319 pemberontakan oleh Dharmaputra (pegawai yang diangkat oleh Raden Wijaya karena hubungan kedekatan) dipimpin Ra Kuti yang dapat menguasai ibukota dan menyebabkan Jayanegara mengungsi ke desa Babander dibawah pengawalan pasukan Bhayangkara dengan komandan Gajah Mada yang kala itu masih menjabat Bekel (komandan peleton). Berkat kerja dan kecerdikan Gajah Mada akhirnya pemberontakan Ra Kuti dapat ditumpas dan ibukotapun dapat dikuasai kembali. Dari seluruh anggota Dharmaputra hanya Ra Tanca yang diampuni karena memiliki keahlian tabib. Selajutnya Ra Tanca menjadi tabib istana, Gajah Mada diangkat menjadi patih Kahuripan mendampingi Sri Gitarja. Dua tahun kemudian diangkat sebagai patih Daha mendampingi Dyah Wiyat.

Adityawarman pernah dikirim sebagai diplomat Majapahit ke Tiongkok untuk mengahiri perang dingin Mongol-Singhosasri sebelumnya. Jayanegara akhirnya terbunuh oleh Ra Tanca tahun 1328.

Pasca terbunuhnya Jayanegara yang tanpa keturunan, maka kedua sekar kedaton Majapahit ini disayembarakan untuk mendapatkan suami. Akhirnya Dyah Gitarja bersuamikan Cakradhara sedangkan Dyah Wiyat bersuamikan Kudamerta. Selama masa transisi sebelum pemerintahan Majapahit diserahkan kepada Dyah Gitarja, Majapahit dipimpin oleh Gayatri, karena hanya Gayatrilah istri Raden Wijaya yang masih hidup ketika itu. Kemudian beliau mengundurkan diri karena menjadi pendeta digantikan oleh Dyah Gitarja/Tribhuwana Wijayatunggadewi.

Tribhuwana Wijayatunggadewi raja Majapahit (1329-1351)

Tahun 1331 terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta. Pemberontakanpun dapat dipadamkan dan oleh karenanya pada tahun 1334 Gajah Mada diangkat sebagai Rakryan Patih dan saat pelantikan inilah Gajah Mada menyampaikan Sumpah Palapa. Pemerintahan Tribhuwana sangat ekspansif karena kekuatannya ada di Gajah Mada yang memiliki misi menyatukan Nusantara. Dimulai dari menaklukkan Bali 1343. Di masa pemerintahan Tribhuwana, Adityawarman diberi posisi terhormat sebagai Wreddamantri (tangan kanan raja) dan mengangkat Gajah Mada sebagai Mahapatih Amangkubhumi tahun 1336 mengantikan Arya Tadah.

Dan ditahun 1339 mengutus Adityawarman atas nama Majapahit untuk menghancurkan kerajaan Silo di Simalungun. Selanjutnya Adityawarman mendirikan kerajaan Malayapura tahun 1347 melanjutkan pamannya Akarendrawarman sebagai raja Melayu sebelumnya yang membawahi Dharmasraya dan Palembang sebagai kelanjutan dari kerajaan Melayu dibawah panji-panji Majapahit. Ibukotanya dipindahkan ke Pagaruyung/Suruaso. Setelah Adityawarman mangkat diagantikan putranya Anaggawarman 1375.

Dibawah mahapatih Gajah Mada sebagai perdana menteri, Majapahit memiliki kekuatan militer dan diplomasi yang sangat tangguh sehingga kekuasaannya meliputi wilayah Nusantara (kecuali Sunda Galuh) dan Semenanjung Malaya dan sebagian kepulauan Filiphina. Sestem pemerintahannya tidak sentralisttik lebih kepada otonomi daerah.

Tribhuwana mengundurkan diri tahun 1351 dan kedudukannya digantikan oleh putranya yakni Hayam Wuruk.

Masa pemerintahan Majapahit oleh Hayam Wuruk/Sri Rajasanagara (1351-1389) menghasilkan karya sastra Kekawin Sutasoma yang memuat sesanti Bhinneka Tunggal Ika Tan hana Dharma Mangrwa oleh Mpu Tantular serta kitab Negarakretagama oleh Mpu Prapanca.

Di tahun 1360 Hayam Wuruk hendak menikahi putri dari Sunda Galuh satu-satunya kerajaan yang tak ditakklukan Majapahit). Permintaan ini dipenuhi sepanjang tidak diartikan penaklukan Majapahit atas Sunda Galuh. Karena diplomasi politik ini gagal maka saat iring-iringan kerajaan Sunda Galuh yang dipimpin langsung oleh Linggabhuwana raja Sunda Galuh menuju Majapahit dibantai di lapangan Bubat oleh pasukan Gajah Mada karena Gajah Mada terikat Sumpah Palapa untuk menyatukan Nusantara. Karena baginya kerja keras Gajah Mada yang telah dapat menaklukkan kekuasaan atas Nusantara dibawah panji Majapahit hinga Semenanjung Malaya belum dianggap berhasil bila tanpa penguasaan atas Sunda Galuh di tanah Jawa. Prabu Maharaja Linggabuwanawisesa/Prabhu Wangi (1350-1357) yang menolak diplomasi keras Gajah Mada akhirnya gugur saat perang Bubat bersama putrinya Dyah Pitaloka Citraresmi.

Pasca tragedi Bubat, hubungan Hayam Wuruk dan Gajah Mada memburuk. Satu sisi atas jasanya dalam membangun imperium Majapahit dan dilain pihak telah menghancurkan hati dan mempermalukan Hayam Wuruk dengan karajaan Sunda Galuh, akhirnya Hayam Wuruk tak melakukan pemecatan kepada Gajah Mada selaku Mahapatih Amangkubhumi.  Hayam Wuruk mengirimkan permohonan maaf dan mengutus Dharmadyaksa dari Bali ke Sunda Galuh. Untuk menciptakan situasi kondusif di istana Majapahit maka Gajah Mada dihadiahi tempat di Madakaripura daerah Tongos Probolinggo. Samudra Pasai ditaklukkan Majapahit tahun 1360. Hayam Wuruk merasa terpukul atas meninggalnya Gajah Mada 1364.

Dalam sidang darurat bersama penasehat raja (Sapta Prabhu) tak dapat memutuskan pengganti Gajah Mada. Dalam beberapa lama berjalannya pemerintahan akhirnya Hayam Wuruk memutuskan Gajah Enggon sebagai pengganti Gajah Mada. Majapahit mulai mengalami fase surut, kadipaten-kadipaten mulai memberontak dan saling mengklaim sebagi pewaris Majapahit. Pasca mangkatnya Hayam Wuruk 1389 digantikan oleh menantunya Wikramawardhana.

Di Sunda Galuh pasca perang Bubat, pemerintahan Sunda Galuh dipegang oleh adik Linggabuwana karena Niskalawastukancana (putra Linggabuana) masih kecil. Niskalawastukancana/Prabhu Wangisutah  memerintah Sunda Galuh 1371-1475. Dari istri pertama melahirkan Susuktunggal sebagai penguasa Sunda dan dari istri keduanya melahirkan Dewaniskala sebagai penguasa Galuh.

Sementara di Kalimantan Kerajaan Nagara Dipa (1387-1495) mewarisi kerajaan Kuripan yang beribukota di Candi Laras didirikan oleh Ampu Jatmika dari Majapahit (anak angkat raja Kuripan). Kerajaan ini merupakan kerajan multi etnik pertama di wilayah Kalimantan Selatan. Kerajaan Kuripan diperkirakan diawali oleh kerajaan Nan Sarunai dibawah pemerintahan suku Maanyan (Dayak)

Wikramawardhana raja Majapahit (1389-1427)

Tahun 1400 Wikramawardhana mengundurkan diri  karena sebagai pendeta dan dilanjutkan istrinya Kusumawardhani. Tahun 1401 Wikramawardhana beselisih dengan Bhre Wirabhumi (adik tiri Kusumawardhani) karena mengklaim sebagi pewaris sah Majapahit dan perang saudara ini memuncak pada Perang Paregreg tahun 1404 dengan kekalahan dipihak Bhre Wirabhumi. Wikramawardhana dibantu oleh Laksamana Ceng Ho.

Akibat melemahnya kekuatan Majapahit di Semenanjung berdiri kerajaan Malaka oleh Parameswara (keturunan raja Sriwijaya) tahun 1402. Prameswara mengungsi dari Tumasik (Singapura sekarang) saat ekspansi Majapahit dimasa Hayam Wuruk. Malaka bisa menjadi kuat berkat dukungan Cina. Kemudian Parameswara masuk Islam setelah menikahi putri kerajaan Pasai.

Stri Suhita raja Majapahit (1427-1447)

adalah putri Wikramawardhana. Pada pemerintahan Suhita pernah mengangkat Gang Eng Cu (kakek Sunan Kalijaga) sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa di Tuban.

Di masa Majapahit dipimpin Suhita Kerajaan Nagara Dipa (Kalimantan Selatan), pengganti  Ampu Jatmika selanjutnya adalah anaknya Lambung (Lembu) Mangkurat dilanjutkan oleh putri angkatnya yakni Putri Ratna Janggala Kadiri/Manggalawardhani Dyah Suragharini (ibunya Dyah Ranawijaya) memerintah tahun 1429-1464. Dyah Suragharini adalah putri Bhre Tumapel II.

Kerajaan Tanjungpura (1429-1474) yang terletak di kabupaten Ketapang (Kalimantan Barat). Wilayah kekuasaannya meliputi Kalimantan Barat dan sebagian Kalimantan Tengah pernah menjadi provinsi di masa Singhgosari dan menjadi provinsi Majapahit. Kala kekuasaan Majapahit meliputi Nusantara, nama Kalimantan terwakili oleh Tanjungpura. Pada perkembangannya menjadi kerajaan Islam di masa Gusti Kesuma Matan/Sultan Muhammad Syaifuddin tahun 1622.

Suhita karena tak memiliki putra mahkota maka selanjutnya Majapahit dipimpin oleh adiknya tirinya Kertawijaya. Kertawijaya memimpin Majapahit pada tahun 1447-1451.

Rajasawardhana/Dyah Wijayakumararaja Majapahit (1451-1453)Adalah putra Kertawijaya. Sepeninggal Rajasawardhana Majapahit mengalami kekosongan kekuasaan selama 3 tahun. Kekosongan ini terjadi karena perebutan tahta antara Girisawardhana dengan Samarawijaya (putra Rajasawardhana). Akhirnya Samarawijaya merelakan tahta kepada Girisawardhana yang paman sekaligus mertuanya. Bhre Wengker/Hyang Purwasisesa/Girisawardhana Dyah Suryawikrama (1456-1466) adalah putra kedua Kertawijaya

Suraprabhawa/Singhawikramawardhana raja Majapahit (1466-1474)

adalah putra bungsu Kertawijaya. Dikudeta oleh Bhre Kertabhumi dan terusir dari istana Trowulan dan pergi ke Daha bersama putra-putranya. Setelah kematian Suraprabhawa, salahsatu putranya yakni Dyah Ranawijaya mengukuhkan dirinya sebagai penguasa Majapahit dalam Prasasti Jiyu sebagai Sri Wilwatikta Janggala Kadiri (penguasa Majapahit, Jenggala dan Kediri).

Bhre Kertabhumi raja Majapahit (1474-1478)

adalah putra Rajasawardhana. Di saat Majapahit mengalami dualisme kepemimpinan (ibukota Trowulan dan ibukota Daha), perebutan kekuasaan dilakukan oleh adipati Demak Raden Patah yang didukung Walisongo.

Raden Patah lahir tahun 1455 memiliki nama kecil Jin Bun adalah Putra Bhre Kertabhumi (sebelum menjadi raja Majapahit) yang beribu Tionghoa Siu Ban Ci  putri saudagar dan ulama di Gresik. Setelah melahirkan Raden Patah, karena kecemburuan permaisuri ratu Dwarawati (putri Campa Muslim) kemudian Siu Ban Ci dinikahkan dengan Arya Damar (putra sulung Bhre Kertabhumi) yang menjabat bupati Palembang sekaligus menjadi ayah angkat Raden Patah. Dari ibunya Raden Patah dengan Arya Damar melahirkan Raden Kusen. Raden Patah menolak menjadi bupati Palembang menggantikan Arya Damar dan pergi ke Jawa bersama Raden Kusen dan berguru pada Sunan Ampel (Bong Swi Hoo) di Surabaya.

Putra Bhre Kertabhumi dari selir yang lainnya adalah Bondan Kejawan yang selanjutnya mewariskan kesultanan Mataram (Islam).

Raden Kusen kemudian mengabdi ke Majapahit menjadi adipati Terung sedangkan Raden Patah pergi ke Jawa Tengah membuka hutan Glagah Wangi mendirikan pesantren. Kemudian Raden Patah pun diakui sebagai putra Bhre Kertabhumi yang selanjutnya diangkat menjadi Bupati Demak (nama lain Glagah Wangi) tahun 1475.

Dalam perkembangannya Raden Patah memberontak terhadap Majapahit walaupun sebenarnya Sunan Ampel melarangnya.

Sepeninggal Sunan Ampel di tahun 1478 Demak tetap malakukan aksi pemberontakan, perang Sudarma Wisuta (perang anak melawan ayah) hingga akhirnya dapat menduduki Trowulan ibukota Majapahit. Untuk membendung pengaruh Hindu Buddha maka Sunan Giri menduduki tahta Majapahit selama 40 hari.

Ki Ageng Pengging yang didukung Syekh Siti Jenar tidak mendukung Demak memberontak kepada Majapahit. Ki Ageng Pengging adalah penguasa Pengging (Boyolali) bernama asli Raden Kebo Kenanga (masuk Islam) putra Jaka Sengara (Hindu) bupati Pengging yang telah berjasa menemukan putri Bhre Kertabhumi yang diculik raja kerajaan Blambangan  putra Minak Jingga. Blambangan merupakan kerajaan Hindu terakhir di Jawa Timur yang ditaklukkan Demak saat dipimpin Sultan Trenggono tahun 1527.

Dalam diskusi Ki Ageng Pengging dengan Syekh Siti Jenar membahas Hindu, Buddha dan Islam bahwa ada persamaan pemahaman bahwa sesungguhnya ketiganya pada hakekatnya memiliki persamaan menyembah Tuhan Yang Maha Esa namun dengan tata cara yang berbeda.

Syekh Siti Jenar dianggap sesat oleh Walisongo yang pro Demak.

Pasca penaklukan ibukota Majapahit di Trowulan selanjutnya kekuasaan Majapahit dibawah penguasaan kesultanan Demak yang berideologi Islam. Tahun 1478 Masehi sama dengan 1400 Saka. Dalam Pararaton kekalahan Majapahit diindentikkan sebagai kekalahan Kertabhumi oleh Raden Patah “sirna ilang kerta ning bhumi 0041”

Penguasa Demak selanjutnya mengangkat Nyoo Lay Wa seorang Tionghoa muslim sebagai bupati Majapahit. Selanjutnya digantikan oleh Dyah Ranawijaya/Prabhu Natha Girindrawardhana (1478-1498) sebagai “raja Majapahit” terakhir yang beribukota di Daha. Menurut Prasati Jiyu 1486 dan Petak bahwa kejatuhan Bhre Kertabhumi karena kekalahannya  oleh Girindrawardhana/Bhra Wijaya bukan oleh Demak?.

Jika Dyah Ranawijaya tak diakui sebagai penguasa Majapahit maka umur kerajaan Majapahit (1293-1478) 185 tahun.

Pasca Raden Patah (1478-1518) kesultanan Demak dipimpin Pangeran Sabrang Lor/Pati Unus (1518-1521), sisa-siasa Majapahit digempur habis oleh Sultan Trenggana (1521-1546) adik Pangeran Sabrang Lor dengan mengalahkan Dyah Ranawijaya. Praktis Majapahit runtuh total di tahun 1527. Bila Dyah Ranawijaya diakui sebagai raja Majapahit maka umur Majapahit adalah (1293-1527) 234 tahun

Di Kalimantan, Selanjutnya kerajaan Negara Dipa pasca putri Bhre Tumapel II dimasa pemerintahan Maharaja Sari Kaburangan ibukota dari Candi Agung (Amuntai) dipindah ke Daha yang selanjutnya menjadi Kerajaan Nagara Daha (1478-1576) yang beribukota di Muara Hulak. Wilayah kekuasaannya adalah Kalimantan Selatan saat ini. Tahun 1526 selanjutnya menjadi kesultanan Banjar dibawah pimpinan Sultan Suriansyah.

Sementara Majapahit mengalami keruntuhan yangmana kerajaan-kerajaan yang sebelumnya menjadi bagian Majapahit telah memerdekakan diri, kemudiaan kajatuhan Trowulan di tangan Demak, di tanah Sunda tahun 1482 kekuasaan Sunda Galuh disatukan kembali (reunifikasi) oleh Jayadewata/Sri Baduga Maharaja (1482-1521) setelah menerima tahta dari ayahnya Dewa Niskala penguasa kerajaan Galuh dan menerima tahta dari mertuanya Susuktunggal penguasa kerajaan Sunda yang selanjutnya Sri Baduga Maharaja dikenal dengan Prabhu Siliwangi.

Ibukota kerajaan dipindah dari istana Surawisesa-Kawali ke Pakuan Pajajaran (Bogor sekarang). Selanjutnya kerajaan Sunda Galuh lebih dikenal dengan kerajaan Pajajaran.

Sri Baduka memiliki permaisuri Mayang Sunda yang berputra Surawisesa dan selir Subanglarang (Islam) dan memiliki putra Walangsungsang/Cakrabuana, Larasantang dan Raja Sangara. Kemudian Cakrabuana diberikan kekuasaan di Cirebon.

Di Masa Sri Baduga, Cirebon yang dibantu Demak melakukan penghentian upeti sekaligus melakukan pemberontakan dengan menguasai pelabuhan Cirebon yang merupakan salahsatu pelabuhan penting Pajajaran. Hal tersebut memicu Pajajaran untuk menggempur Cirebon namun diurungkan mengingat Syarif Hidayat adalah anak Lara Santang yang diberikan kekuasaan atas Cirebon oleh pamannya Cakrabuana.

Setelah Sri Baduga mangkat dilanjutkan putra mahkotanya Surawisesa (1521-1535). Di masa Surawisesa kekuasaan wilayah Pajajaran semakin menyusut karena menguatnya kekuasaan Cirebon yang didukung Demak hingga akhirnya kekuasaan kerajaan Pajajaran runtuh di masa Raga Mulya/Surya Kancana (1567-1579) akibat serangan Maulana Yusuf dari kesultanan Banten. Berakhirnya kekuasaan Pajajaran ditandai dengan dirampasnya Palangka Sriman Sriwacana (tempat duduk penobatan raja) dari Pakuan Pajajaran ke keraton Surasowan (Banten) oleh Maulana Yusuf sebagai klaim pewaris Pajajaran.

Surya Kancana dan pengikut setianya akhirnya mengungsi ke lereng Palasari-Pandeglang. Peninggalan lainnya dari warisan Pajajaran adalah pasukan terlatih khusus yang yang mendiami pegunungan Kendeng-Lebak sebagai mandala kawasan suci dimasa Pajajaran dipimpin Rakeyan Darmasiksa. Sekarang mereka dikenal sebagai suku Baduy/ urang Kenekes. Kenekes Dalam meliputi desa Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo.

Usia kerajaan Sunda Galuh/Pajajaran (669-1579) 910 tahun!

Kesultanan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1507. Kesultanan Banten yang berafiliasi kepada kesultanan Demak didirikan oleh Maulana Hasanuddin/Fatahillah/Faletehan (anak Sunan Gunung Jati) tahun 1527. Berawal saat Kesultanan Demak ingin memperluas kekuasaannya. Sunan Gunung Jati dari Cirebon bersama pasukan Demak pada tahun 1525 menyerbu dan menguasai Banten pelabuhan utama kerajaan Pajajaran. Maulana Hasanuddin menikahi putri Sultan Trenggono penguasa Demak melahirkan Maulana Yusuf. Setelah menghancurkan Pajajaran kesultanan Banten meliputi wilayah Jawa Barat dan Lampung. Sultan Ageng Tirtayasa pernah berkuasa atas Banten di masa 1651-1680.

Siak, Kampar dan Indragiri jatuh kepada kesultanan Malaka dan kesultanan Aceh. Pada tahun 1551 Malaka dapat ditaklukkan Portugis dan melahirkan kesultanan Perak dan Kesultanan Johor. Kejayaan kesultanan Aceh di era Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Dan akhirnya abad ke 17 Pagaruyung ibukota kerajaan Malayapura berubah menjadi kesultanan Pagaruyung dibawah Sultan Alif. Kemudian masyarakat Pagaruyung terbelah antara masyarakat adat yang mewarisi kerajaan Malayapura dengan masyarakat ideologi Islam dengan pecahnya perang saudara dalam perang Padri (ulama) dan Adat. Karena terdesak kaum Padri tahun 1821 maka kaum adat meminta bantuan Belanda dan menandai jatuhnya kesultanan Pagaruyung ke tangan Belanda.

Kekuasaan kesultanan Banten berakhir tahun 1813 ketika Thomas Stamford Raffles memaksa sultan Banten turun tahta karena keraton Surasowan telah dihancurkan Gubernur Jenderal Belanda yahun 1808. Usia kesultanan Banten (1527-1813) 286 tahun. Kekuasaan kesultanan Aceh melemah saat kekuasaan Belanda semakin meluas atas Sumatera selah jatuhnya Pagaruyung, Siak, Tapanuli, Mandailing dan Bengkulu berdasarkan traktat London 1824.

Pasca Sultan Trenggana Demak selanjutmya dipimpin oleh Sunan Prawoto (1546-1549) yang melahirkan kesultanan Pajang dibawah Jaka Tingkir (1549-1582), Arya Pangiri (1583-1586), Pangeran Benawa (1586-1587),

Mataram Islam dibawah Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati (1587-1601), Panembahan Hanyakrawati (1601-1613), Sultan Agung (1613-1645), Amangkurat I (1645-1677),

Kasunanan Kartasura dibawah Amangkurat II – Amangkurat IV dan Pakubuwana I (1680-1726), Pakubuwana II (1726-1742),

Kasunanan Surakarta dibawah Pakubuwana II (1745-1749), Pakubuwana III-XIII (1749-sekarang),

Kesultanan Yogyakarta dibawah Hamengkubuwana I (1755-1792), Hamengkubuwana II (1792-1810), Hamengkubuwana III (1810-1811) ayah dari Pangeran Diponegoro, Hamengkubuwana IV-X, II & V (1812-sekarang).

Pangeran Diponogoro memimpin kaum pribumi melakukan perlawanan dengan Belanda dalam kurun 1825-1830. Peperangan ini dipicu oleh pemberlakuan pajak terhadap negeri jajahan Belanda pasca perang Napoleon di Prancis yang mengakibatkan krisis keuangan Belanda.

Praja mangkunegaran Surakarta dibawah Mangkunagara I-IX (1757-sekarang),

Kadipaten paku Alaman Yogyakarta dibawah Paku Alam I-IX (1813-sekarang)

Dari rangkaian sejarah Nusantara dapat kita petik bahwa sebelum lahirnya kebangsaan Indonesia yang mendiami Nusantara dengan peradabannya adalah kebangsaan Sunda, kebangsaan Kutai, kebangsaan Mataram, kebangsaan Sriwijaya, kebangsaan Kediri, kebangsaan Singasari, kebangsaan Majapahit (wilayah kekuasaannya diwariskan kepada Indonesia kecuali Semenangjung Malaya dan Filipina), kebangsaan Melayu, kebangsaan Tanjungpura, kebangsaan Pagaruyung, Demak, Cirebon, Banten, Pajang, Mataram Islam, Banjar, Luwu, Bugis, Goa, Bugis,Toraja, Sasak dst. Ideologi Hindu, Buddha dan Islam penah menjadi dasar pijakan kebangsaan-kebangsaan tersebut. Ekspansi kekuasaan militer antar bangsa pernah terjadi, kudeta polititik berdarah pernah terjadi, rekonsiliasi politik pernah dialami dan reunifikasi penyatuan kembali dua kebangsaan menjadi satu juga pernah terjadi.

Bagaimana Sanjaya bangkit menyatukan Sunda Galuh dan membangun bumi Mataram. Bagaimana Mpu Sendok membangkitkan bumi Mataram/Medang pasca letusan dasyat gunung Merapi dengan memindahkan ibukota dari Prambanan ke wilayah Jombang. Bagaimana Airlangga membangkitkan puing-puing kehancuran Mataram dengan membangun Kahuripan. Bagaimana reunifikasi Kahuripan dengan Daha menjadi Kediri.

Raden Wijaya bangkit membangun Majapahit setelah menyaksikan kehancuran Kediri, dst. Bagaimana para pemimpin kala itu telah lahir dari perkawinan campur (tali temali) antar bangsa, Jawa, Sunda, Bali, Minang, Dayak, Tionghoa, harusnya menjadikan alasan kita Indonesia saat ini untuk menolak segala bentuk rasisme mengingat bahwa kebangsaan Indonesia telah mengalami proses yang panjang atas percampuran ras/suku dan akulturasi budaya dan agama. Masihkah relevan kelompok ras/suku atau agama tertentu merasa superior atas yang lain?

2.       Ideologi Pancasila Pemersatu Bangsa

Pancalisa telah mengandung nilai-nilai luhur bangsa dan agama karena telah tumbuh dari kehidupan religius bangsa Indonesia. Pancasila telah menjunjung nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan, Pancasila harus menjadi pemersatu bangsa mengingat Indonesia terdiri dari beragam suku bangsa. Pancasila telah mengadopsi demokrasi dengan mengedepankan pemufakatan berdasar atas hikmat kebijaksanaan, serta Pancasila harus menjadikan bangsa Indonesia menuju negara kesejahteraan. Pancasila telah diuraikan dalam mukadimah UUD 1945 yang merupakan konstitusi/sumber hukum tertinggi di Indonesia.

3.       Keanekaragaman sebagai sebuah Kekuatan

Indonesua memiliki keanekaragaman hayati/biodiversitas yang membentuk ekosistem berupa gen dan spesies tanaman, hewan dan mikroorganisme yang belum tentu ada di belahan bumi lain. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Terdapat 667 jenis mamalia, 1604 jenis burung, 749 jenis reptil dan 30 ribu jenis tumbuhan. Keanekaragaman jenis tumbuhan tersebut menjadi bahan obat-obatan herbal yang lebih baik dari bahan kimia.

Indonesia juga memiliki keanekaragaman suku dan budaya. Jumlah suku di Indonesia diperkirakan 1128 dimana suku Jawa dalah terbesar mencapai 40%. Walaupun sebagai suku terbesar, dalam ikrar Sumpah Pemuda merelakan bahasa Melayu/Indonesia dijadikan bahasa persatuan.

4.       Kekayaan Sumber Daya Alam.

Sumber daya alam dibagi menjadi dua katagori yakni sumber daya alam yang dapat diperbaharui (air, tanah, hasil pertanian, perkebunan, hasil hutan, perikanan, peternakan) dan sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui (bahan-bahan tambang seperti minyak bumi, batubara, gas, tembaga, timah, nikel aluminium, emas, perak, perunggu, dll). Cadangan gas Indonesia menduduki peringkat 11 di dunia dan ladang gas Tangguh peringkat 9 terbesar dunia. Indonesia salah satu penghasil karet, kopi dan sawit terbesar dunia. Indonesia penghasil emas peringkat 5 dunia. Indonesia salah satu penghasil tembaga dan timah terbesar dunia. Indonsia memiliki salahsatu hutan tropis terbesar di dunia, memiliki garis pantai salahsatu terpanjang didunia yang berpotensi sebagi penghasil ikan terbesar di dunia.

5.       Indonesia dalam Jalur Lalulintas Perekonomian Dunia

Selat Malaka sejak jaman Sriwijaya dan Majapahit telah menjadi jalur perdagangan dunia. Portugis, Belanda dan Inggris menemukan Nusantara melalui selat Malaka. Di masa kini dengan menguasai sebagian selat Malaka negara Singapura menikmati kemakmuran sebagai kota jasa di sektor keuangan dan jasa pelabuhan

6.       Potensi Sumber Daya Manusia

Berdasar uji statistik bahwa diantara 100 orang kemungkinan terdapat 1 orang jenius. Ini dapat diartikan bahwa potensi jenius sumber daya manusia Indonesia adalah idealnya 240 ribuan. Indonesia selalu mendapatkan penghargaan dalam berbagai lomba iptek semisal Nobel Prize of Physic, Olimpiade Matematika, Biologi, dll.

7.       Posisi Indonesia dalam Dunia Global

Event-event besar terselenggara di Indonesia membahas isu-isu global semisal Konferensi dunia untuk perubahan iklim, konferensi dunia anti korupsi, dll

8.       Posisi Indonesia secara Regional

Indonesia tahun ini 2011 mendapat kesempatan memimpin Asean, tuan rumah penyelenggaraan SEA Games

 

 HAMBATAN UNTUK INDONESIA BANGKIT

  1. Belum sepenuhnya memahami sejarah lahirnya bangsa Indonesia
  2. Belum sepenuhnya menyadari arti Pancasila sebagai sebuah Ideologi bangsa
  3. Belum sepenuhnya menyadari bahwa kebhinnekaan/keanekaragaman merupakan kekuatan bangsa
  4. Sikap primordialisme sebagai sebuah kemunduran
  5. Menganggap nilai-nilai/tradisi luhur yang lama sebagai sesuatu yang kuno dan tak modern
  6. Tingkat pendidikan yang masih rendah dan belum merata
  7. Ketiadaan ketauladanan dari para pemimpin. Kaya tanpa kerja, tak memiliki nurani, berpengetahuan tanpa krakter, kurangnya moralitas dan etika, tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan, serta berpoltik tanpa prinsip
  8. Belum diwujudkannya keadilan dan kesejahteraan oleh para pemimpin bangsa sehingga melahirkan kefrustrasian dikalangan masyarakat tertentu dan pada gilirannya berakibat terjadinya anarkisme, vandalisme dan radikalisme
 
Leave a comment

Posted by on May 26, 2011 in Nasionalis

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: