RSS

Category Archives: Nasionalis

PATRIOTISME TJIPTO MANGOENKOESOEMO

 
Leave a comment

Posted by on September 27, 2011 in Nasionalis

 

PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN, VISI SEORANG KI HADJAR DEWANTARA

 
Leave a comment

Posted by on September 26, 2011 in Nasionalis

 

PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN, VISI SEORANG KI HADJAR DEWANTARA

 
Leave a comment

Posted by on August 22, 2011 in Nasionalis

 

H. O. S. TJOKROAMINOTO DAN RUMAH PERGERAKAN NASIONAL

Oleh I K Guna Artha

 

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 6 Agustus 1882 Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama Raden Mas Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, Raden Mas Adipati Tjokronegoro, pernah menjabat sebagai bupati Ponorogo.
Pada bulan Mei 1912, Tjokroaminoto bersama Hasan Ali Surati bergabung dengan Sarekat Dagang Islam dan mengubahnya menjadi Sarekat Islam. Yang sebelumnya dirintis oleh Haji Samanhudi sebagai Sarekat Dagang Islam tahun 1905 di Solo dengan tujuan awal untuk menghimpun pedagang-pedagang Islam pribumi agar dapat menyainggi hak istimewa pedagang Tionghoa. Pengubahan nama tersebut dilakukan agar organisasi tidak hanya bergerak dibidang ekonomi saja namun daopat berperan dibidang lain.  Pada kongres pertama tahun 1913, Tjokroaminoto menyatakan bahwa Sarekat Islam bukan organisasi politik dan bertujuan untuk meningkatkan perdagangan antar bangsa Indonesia, membantu pengembangan ekonomi anggota serta mengembangkan kehidupan religius.
Walaupun dalam anggaran dasarnya tidak secara eksplisit menyebutkan tujuan-tujuan politik namun dalam praktek Sarekat Islam menentang ketidakadilan dan penindasan pemerintahan kolonial Belanda. Karena dari sisi jumlah keanggotaannya semakin pesat perkembangannya maka pada tahun 1916 Sarekat Islam mendapat pengakuan sebagai badan hukum dan berkembang menjadi partai politik dan mendapatkan hak untuk mendudukkan wakilnya dalam Volksraad (parlmen) tahun 1917.
Pada kongres ketiga tahun 1918 di Surabaya, Tjokroaminoto menyatakan jika Belanda tidak melakukan reformasi sosial dalam skala besar maka Sarekat Islam akan melakukan sendiri diluar parleman.
Dalam perkembangannya kader-kader muda Sarekat Islam kena pengaruh komunis seperti Semaoen, Darsono, Tan Malaka, Alimin Prawirodirdjo yang melahirkan Sarekat Islam Putih pimpinan Tjokroaminoto yang diikuti Agus Salim, Abdul Muis, Suryopranoto, Sekarmadji Maridjan berpusat di Yogyakarta dan Sarekat Islam Merah pimpinan Semaoen berpusat di Semarang.
Dalam penegakan disiplin partai pada tahun 1921 maka larangan rangkap keanggotaanpun diberlakukan sehingga unsur dari PKI, Muhammadyah dikeluarkan dari Partai Sarekat Islam. Keputusan ini diperkuat dalam kongres tahun 1923 di Madiun. Kemudian Partai Sarekat Islam berganti nama menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia tahun 1929 dengan tujuan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan nasional. Selanjutnya melahirkan faksi-faksi baru di tubuh PSII seperti faksi Sukiman, faksi Kartosuwiryo dan faksi Abikusno.
Tjokroaminoto tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pelopor pergerakan nasional. Pada kurun waktu 1912-1921 mengingat posisi sebagai tokoh Sarekat Islam, maka rumah Tjokroaminoto di Surabaya menjadi rumah pergerakan tempat dimana berkumpulnya Alimin, Muso, Kartosuwiryo, Tan Malaka, Ahmad Dahlan,dll yang kelak memberikan warna bagi sejarah pergerakan Indonesia.
Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat adalah tiga modal kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan yang dibutuhkan dalam suasana perjuangan Indonesia pada masa itu. Demikianlah salah atu yang diajarkan oleh seorang Tjokroaminoto.
Ayah Soekarno, Raden Sukemi Sostrodihardjo asal Blitar yang dikenal dekat dengan Tjokroaminoto ketika anaknya menyelesaikan pendidikan ELS (Europeesche Lagere School) di Mojokerto dan akan melanjutkan ke HBS (Hogere Burger School) Surabaya Raden Sukemi menitipkan putra Sang Fajar di tempat Tjokroaminoto. “Walaupun kau mendapat pendidikan Belanda, aku tak ingin engkau kebarat-baratan. Aku titip engkau kepada H.O.S. Tjokroaminoto. Aku menginginkan engkau menjadi Karna kedua”.
Adipati Karna adalah putra Dewi Kunti atas kuasa Tuhan terlahir tanpa perkawinan dalam epos besar Hindu Mahabharata dikenal sebagai sosok pemberani, cerdas, loyalis, memiliki dedikasi dan pemanah yang hebat seperti adiknya Arjuna.
Di tempat Tjokroaminotolah Soekarno banyak belajar tentang nasionalisme dan arti sebuah pergerakan. Soekarno rajin mengikuti pertemuan-peremuan dan rapat yang diselenggarakan oleh Tjokroaminoto. Dan bahkan karena percayanya Tjokro kepada Soekarno dalam beberapa kesempatan Soekarno muda mewakili Tjokroaminoto dalam pertemuan rapat kaum pergerakan. Belajar dari beragam ideologi sosialis, komunis, islam moderat hingga islam radikal menempa Soekarno muda yang kelak menjadi peletak dasar kebangsaan Indonesia.
Saat Soekarno memulai kuliahnya di Sekolah Tinggi Teknik (Thecnische Hooge School) Bandung, sempat meninggalkan kuliah karena mendengar Tjokroaminoto didakwa memicu perlawanan para pekerja oleh pemerintah Hindia Belanda. Karena Soekarno berpikir bahwa “Mengejar kehidupan sendiri, sementara orang yang sudah diakui sebagai keluarga, orang yang pernah menolong kita berada dalam kesusahan bukanlah cara orang Indonesia” maka Soekarno harus ke Surabaya untuk menguatkan moral perjuangan Tjokroaminoto. Sikap Soekarno ini bisa kita pahami karena warisan ideologi sosialisme dari seorang Tjokroaminoto.
Di masa pengasingan Bung Karno di Endeh 1932, beliau menyampaikan kekagumannya pada sosok H.O.S. Tjokroaminoto dalam sepucuk suratnya yang berbunyi “…….Bapak sebagai patriot besar yang menghimpun rakyat kita dalam perjuangan menuju kemerdekaan, tidak akan kami lupakan untuk selama-lamanya. Saya mendoakan agar Bapak segera sembuh kembali
Tjokroaminoto adalah ayah dari Oetari, istri pertama Soekarno namun diceraikan kemudian mengingat usianya yang terpaut jauh. Setelah jatuh sakit sehabis mengikuti Kongres Sarekat Islam di Banjarmasin, Tjokroaminoto akhirnya meninggal di Yogyakarta, 17 Desember 1934 pada umur 52 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Pekuncen, Yogyakarta.
 
Leave a comment

Posted by on August 16, 2011 in Nasionalis

 

R. A. KARTINI SANG PELOPOR KEBANGKITAN PEREMPUAN PRIBUMI

Oleh I K Guna Artha

Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Dilahirkan di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 dari kalangan priyayi, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara yang pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.
Oleh karena peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus dipingit.
Di Jepara pada jaman Hindu pernah berkuasa Putri Shima (674-732) adalah ratu kerajaan Kalingga yang wilayah kekuasaannya meliputi Pekalongan dan Jepara saat ini. Maka tidaklah mengherankan ketika sosok pelopor kebangkitan perempuan lahir di Jepara.

Setelah dipingit maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa sehingga timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga berlangganan paket majalah leestrommel. Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan, majalah wanita De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat.

Disamping masalah emansipasi wanita, masalah sosial tak luput dari perhatian Kartini. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20 tahun, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden, karya Augusta de Witt, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata).

Dalam kegundahan hati yang ingin memberikan sentuhan perubahan sosial atas kaum perempuan, Kartini menulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Kartini menggugat budaya Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis sebagai Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

Pada perkenalannya dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginannya untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. “Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu
Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.
Kartini banyak pula mengungkap kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya hanya sampai umur 12 tahun. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita dan mimpi besarnya. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini dan mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengijinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda akhirnya diputuskan untuk ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.

Pada pertengahan tahun 1903, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus karena ia sudah akan menikah. “…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…” Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi. Dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni memenuhi hasil perjodohan orang tuanya untuk menikahi Adipati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri tanggal 12 November 1903.
Terjadi perubahan sikap atas diri Kartini saat menjelang pernikahannya, Kartini berharap pernikahannya dengan bupati dapat mewujudkan keinginannya untuk mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dan memang pada akhirnya sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, R.M. Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht, Dari Kegelapan Menuju Cahaya. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.
Atas dedikasinya dalam memajukan kaum perempuan, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini“. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Armijn membagi buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya.
Pada buku versi baru tersebut, Armijn Pane juga menciutkan jumlah surat Kartini. Hanya terdapat 87 surat Kartini dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Penyebab tidak dimuatnya keseluruhan surat yang ada dalam buku acuan Door Duisternis Tot Licht, adalah terdapat kemiripan pada beberapa surat. Alasan lain adalah untuk menjaga jalan cerita agar menjadi seperti roman. Menurut Armijn Pane, surat-surat Kartini dapat dibaca sebagai sebuah roman kehidupan perempuan. Versi ini sempat dicetak sebanyak sebelas kali.
Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda.
Terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini.

Surat-surat Kartini juga diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno saat ia melanjutkan studi di bidang sastra tahun 1972. Kemudian, pada 1979, sebuah buku berisi terjemahan Sulastin Sutrisno versi lengkap Door Duisternis Tot Licht pun terbit.
Buku kumpulan surat versi Sulastin Sutrisno terbit dengan judul Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. Menurut Sulastin, judul terjemahan seharusnya menurut bahasa Belanda adalah: “Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsa Jawa“. Sulastin menilai, meski tertulis Jawa, yang didamba sesungguhnya oleh Kartini adalah kemajuan seluruh bangsa Indonesia.
Buku lain yang berisi terjemahan surat-surat Kartini adalah Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904. Penerjemahnya adalah Joost Coté. Ia tidak hanya menerjemahkan surat-surat yang ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Joost Coté juga menerjemahkan seluruh surat asli Kartini pada Nyonya Abendanon-Mandri hasil temuan terakhir. Pada buku terjemahan Joost Coté, bisa ditemukan surat-surat yang tergolong sensitif dan tidak ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Menurut Joost Coté, seluruh pergulatan Kartini dan penghalangan pada dirinya sudah saatnya untuk diungkap.
Buku Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904 memuat 108 surat-surat Kartini kepada Nyonya Rosa Manuela Abendanon-Mandri dan suaminya JH Abendanon. Termasuk di dalamnya 46 surat yang dibuat Rukmini, Kardinah, Kartinah, dan Soematrie.

Karya sastra yang lebih memusatkan pada pemikiran Kartini juga diterbitkan. Salah satunya adalah Panggil Aku Kartini Saja yang dikompilasi Pramoedya Ananta Toer. Buku Panggil Aku Kartini Saja terlihat merupakan hasil dari pengumpulan data dari berbagai sumber oleh Pramoedya. Selain diterbitkan dalam Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya, terjemahan Sulastin Sutrisno juga dipakai dalam buku Kartini, Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya.
Kartini dihadirkan sebagai pejuang emansipasi yang sangat maju dalam cara berpikir dibanding perempuan-perempuan Jawa pada masanya. Dalam surat tanggal 27 Oktober 1902, dikutip bahwa Kartini menulis pada Nyonya Abendanon bahwa dia telah memulai pantangan makan daging, bahkan sejak beberapa tahun sebelum surat tersebut, yang menunjukkan bahwa Kartini adalah seorang vegetarian.
Sebuah buku kumpulan surat kepada Stella Zeehandelaar periode 1899-1903 diterbitkan untuk memperingati 100 tahun wafatnya. Isinya memperlihatkan wajah lain Kartini. Koleksi surat Kartini itu dikumpulkan Dr Joost Coté, diterjemahkan dengan judul Aku Mau … Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903.
“Aku Mau …” adalah moto Kartini. Sepenggal ungkapan itu mewakili sosok yang selama ini tak pernah dilihat dan dijadikan bahan perbincangan. Kartini berbicara tentang banyak hal: sosial, budaya, agama, bahkan korupsi.

Pada peringatan Hari Kartini di tahun 1953 ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Menurut almarhumah Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.
Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini seperti Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu,Dewi Sartika dan lain-lain. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Sikapnya yang pro terhadap poligami juga bertentangan dengan pandangan kaum feminis tentang arti emansipasi wanita.

Pihak yang pro mengatakan bahwa Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional, artinya, dengan ide dan gagasan pembaharuannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional.
Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Nama besar Kartini diabadikan sebagai nama jalan di Utrecht, Belanda dengan nama Kartinistraat disandingkan dengan tokoh perjuangan lainnya seperti Augusto Sandino, Steve Biko, Che Guevara, Agostinho Neto. Di Venlo R.A. Kartinistraat terletak di kawasan Hagerhof, disandingkan dengan tokoh wanita Anne Frank dan Mathilde Wibaut.
Di wilayah Amsterdam Zuidoost atau yang lebih dikenal dengan Bijlmer, jalan Raden Adjeng Kartini disandingkan dengan Rosa Luxemburg, Nilda Pinto, Isabella Richaards. Di Haarlem jalan Kartini berdekatan dengan jalan Mohammed Hatta, Sutan Sjahrir dan Chris SoumokilMohammed Hatta, Sutan Sjahrir dan Chris Soumokil.

 
Leave a comment

Posted by on August 16, 2011 in Nasionalis

 

LAKON TAN MALAKA*

Oleh Bonnie Triyana1
 
Saya harus angkat bicara…
untuk jutaan rakyat tertindas di Timur
– Tan Malaka. Moskwa, 12 November 1922
Selopanggung, 19 Februari 1949. Dor! Sebutir peluru menghabisi riwayatnya. Nyawanya melesat. Namun sebelumnya dia telah berwasiat, “di dalam kubur suaraku akan terdengar lebih keras!”
Tan Malaka adalah legenda hidup zaman pergerakan. Namanya terkenal di kalangan kaum nasionalis Indonesia. Karya-karyanya, seperti Naar de Republiek Indonesia (1925) dan Massa Actie (1926) menjadi bacaan di kalangan aktivis pergerakan tidak terkecuali buat Sukarno. Perbincangan tentangnya diselang-selingi bumbu beraroma mitos. Ia tokoh yang masyhur, pahlawan nasional yang sempat dilupakan selama bertahun-tahun dan kini namanya mulai disebut di mana-mana.
“Riwayat hidupnya bagaikan cerita detektif yang penuh ketegangan,” kata Dr Alfian dalam tulisannya, “Tan Malaka Pejuang Revolusioner yang Kesepian”. Muhammad Yamin menyebutnya sebagai Bapak Republik Indonesia yang dipersamakan dengan Washington yang merancang Republik Amerika Serikat jauh sebelum merdeka, atau dengan Rizal-Bonifacio yang meramalkan berdirinya Filipina sebelum revolusi terjadi. Rudolf Mrazek menyebut Tan Malaka sebagai manusia komplet.
Tapi kenapa gagasannya yang brilian tidak pernah bisa direalisasikan, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh pengikut-pengikutnya? Itu bisa terjadi karena, “hatinya terlalu teguh untuk diajak berkompromi dan punggungnya terlalu lurus untuk diajak sedikit membungkuk,” kata Hasan Nasbi, penulis buku Filosofi Negara Menurut Tan Malaka dalam kolomnya di Majalah Tempo edisi khusus Tan Malaka (Agustus,2008).
Ia seorang marxis yang berjiwa nasionalis yang dalam beberapa hal memiliki paradoksalnya sendiri: berpikiran marxis secara total dan bertindak sebagai nasionalis yang radikal. Tan Malaka adalah pejuang yang gigih dan pemikir ulung, betapa pun aktivitas politiknya selalu menimbulkan kontroversi. Sepak terjangnya di Komunisme Internasional (Komintern) yang mengajukan usul kerjasama dengan gerakan Islam mendapatkan tentangan dari pemimpin Komintern pada Kongres ke-4, 12 November 1922 di Moskwa, Uni Soviet. Dalam kesempatan itu ia menentang thesis yang dibangun oleh Lenin bahwa gerakan komunisme internasional harus memerangi gerakan Pan Islamisme karena sama bahaya dengan imperialisme.
Tan Malaka melihat Pan Islamisme dalam sudut pandang yang lebih positif. Dalam pidatonya ia mengatakan kerjasama kaum kiri dengan Sarekat Islam yang disebutnya sebagai gerakan revolusioner yang amat besar dan muncul secara spontan2 .
Ia berpendapat kerjasama dengan kelompok Islam merupakan siasat yang taktis di dalam melawan kolonialisme dan imperialisme. Tan Malaka berargumen kalau thesis Lenin untuk memerangi Pan Islamisme yang dikemukakan pada Kongres Komintern ke-2 memberikan celah bagi pemerintah kolonial untuk memecah belah perlawanan terhadap imperialisme itu sendiri karena kekuatan utama dari gerakam komunisme di Indonesia pada zaman itu justru para buruh-buruh kecil muslim yang berafiliasi pada Sarekat Islam.
Tentu saja gagasan Tan tetap menghadapi penolakkan dari sebagian besar pemimpin Komintern, kendati pidatonya yang berapi-api itu selalu ditingkahi oleh tepuk tangan riuh dari para peserta kongres. Tan memang benar, Sarekat Islam merupakan organisasi muslim terbesar pada zamannya. Pada kurun 1912 – 1916, organisasi yang bermula dari perkumpulan pedagang muslim di Laweyan, Solo itu memiliki satu juta anggota.
Kerjasama komunisme dengan Islam merupakan kenyataan dalam sejarah Indonesia. Penerimaan kaum muslimin terhadap Islam (khususnya di Jawa) bukan semata karena paham sinkretisme yang dianut oleh sebagian masyarakat Jawa pada saat itu, melainkan pula adanya kebutuhan untuk menyatukan diri dalam satu gerakan menentang kolonialisme yang mencengkeram warga jajahan.
Tapi Tan Malaka menentang pemberontakan 1926 yang dimotori PKI dan diikuti oleh tokoh-tokoh muslim anggota Sarekat Islam. Di Banten3 misalnya, pemberontakan dipimpin oleh ketua Sarekat Islam setempat, KH. Achmad Chatib4, seorang ulama kharismatik dari Caringin. Pemberontakan juga terjadi di Silungkang, Sumatera Barat pada 19275. Perlawanan terhadap otoritas kolonial tersebut menjadi yang pertama dalam sejarah Indonesia moderen namun Tan tak sepakat karena menurutnya pemberontakan itu bersifat prematur.
Pemberontakan 1926 merupakan keputusan CC PKI pada konferensi Prambanan 25 Desember 1925. Dalam Penjara ke Penjara jilid I Tan Malaka menyalahkan keputusan itu karena 1). Diambil tergesa-gesa, kurang dipertimbangkan, 2). Cuma akibat provokasi lawan dan tidak seimbang dengan kekuatan diri sendiri, 3) Tak bisa dipertanggungjawabkan kepada rakyat dan komintern, 4). Tiada cocok dengan taktik strategi komunis, ialah massa aksi, 5). Akibatnya akan sangat banyak merugikan pergerakan di Indonesia dan lain-lain sebagainya6. Keberatan itu ia sampaikan melalui sepucuk surat kepada Alimin.
Tan Malaka merasa dilangkahi. PKI harusnya merundingkan terlebih dulu keputusan berontak kepada Tan sebagai wakil Komintern di Asia. Dengan demikian akan dicari jalan kerjasama dan musyawarah dengan berbagai Partai Komunis yang ada di Australia, Belanda, Amerika dan di Indocina. Mengutip Tan Malaka, Harry Poeze menjelaskan bahwa pemberontakan itu bernuansa anarkisme, oportunisme dan fanatisme terhadap taktik dan strategi pemberontakan.
Dia pun memutuskan untuk keluar dari PKI. Namun menurut Soemarsono7 keputusan Tan Malaka yang menolak keputusan konferensi Prambanan dan menyatakan keluar dari PKI merupakan tindakan indisipliner yang tak bisa ditolerir. “Sebagai anggota partai (PKI), seharusnya Tan Malaka patuh pada keputusan konferensi. Karena itulah keputusan tertinggi partai yang harus dijalankan oleh anggotanya,” kata Soemarsono.
Tapi Tan punya alasan kuat kenapa dia tak setuju pemberontakan. Hal tersebut telah lebih dulu ditulisnya dalam brosur Massa Actie. Menurut Tan pemberontakan yang dinyalakan oleh segelintir orang anarkis hanyalah impian seorang yang sedang demam. Mungkin Tan hendak mengatakan bahwa sebuah revolusi untuk kemerdekaan tak bisa dilakukan secara serampangan. Butuh dukungan situasi obyektif sebagai prasyarat bagi lahirnya revolusi itu sendiri. Ia menganjurkan pemboikotan terhadap industri-industri milik kaum imperialis jauh lebih baik daripada langsung melancarkan pemberontakan tanpa persiapan yang matang.
Mungkin Tan benar. Pemberontakan itu sendiri bubar di tengah jalan. Partai hancur sekali pukul. Pemimpin pergerakan banyak ditangkapi. Gerakan pun melemah. Namun pemberontakan itu sendiri menjadi salah satu pendorong bagi gerakan selanjutnya dalam bingkai sejarah revolusi di Indonesia. Pemberontakan 1926, betapapun mengalami kegagalan, turut mematangkan kondisi obyektif sebagai prasyarat terjadinya revolusi di Indonesia.
Sekeluarnya dari PKI, Tan Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok pada 1 Juni 1927. Partai itu tak berkembang. Mati suri begitu saja. Bertahun kemudian setelah pulang ke Indonesia, Tan Malaka sempat mendirikan Partai Murba.
Partai ini sempat mengikuti Pemilu 1955, namun tenggelam seiring waktu. Dia sendiri tak mau dijadikan ketua Partai Murba.
Tan tak memiliki kader-kader yang tangguh dan tangkas untuk mengejawantahkan pikiran-pikirannya. Anak-anak muda yang mengelilinginya pada zaman revolusi lebih cocok disebut sebagai simpatisan ketimbang sebagai kader yang siap membangun partai untuk bertarung dalam panggung politik di Republik yang baru lahir itu.
Hal itu sangat beralasan karena selama dalam pengasingan Tan Malaka tak sempat menjalankan kaderisasi dengan baik. Sederet yang boleh dibilang sebagai pengikuti setia Tan Malaka adalah Muh. Yamin, Sukarni, Adam Malik, Chairul Saleh dan Iwa Kusumasumantri. Sebagai pribadi, tentu masing-masing pengikut Tan Malaka itu adalah orang-orang besar dan tokoh terkemuka di zamannya. Namun ternyata itu tidak cukup untuk bisa membangun sebuah partai yang kuat dan tangguh.
Harus diakui bahwa lakonnya dalam panggung politik revolusi memang tak sesukses lakonnya sebagai pemikir besar. Buah pemikirannya meliputi beberapa hal mulai dari pendidikan, ekonomi, negara, dan kemasyarakatan. Banyak dari gagasan Tan Malaka yang ditulis delapan puluh tahun lalu masih tetap relevan bila melihat kondisi bangsa dewasa ini.
Dalam bidang pendidikan misalnya, Tan Malaka adalah penggagas sekolah rakyat khusus untuk anak-anak buruh dan anggota SI di Semarang. Dalam brosurnya, SI Semarang dan Onderwijs (1921) ia mengemukakan tujuan diadakannya pendidikan rakyat: 1). Memberi senjata cukup, buat pencari penghidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa Belanda, Jawa, Melayu, dsb). 2).Memberi Haknya murid-murid, yakni kesukaan hidup, dengan jalan pergaulan (vereeniging). 3). Menunjukan kewajiban kelak, terhadap pada berjuta-juta Kaum Kromo8.
Pendidikan kerakyatan buat Tan Malaka adalah senjata sekaligus modal bagi rakyat untuk merebut kekuasaan dari tangan pemilik modal. Pendidikan kerakyatan akan menumbuhkan kesadaran kelas dari anak-anak jelata bahwa bangsanya sedang dijajah. Tan melihat kalau anak-anak buruh tersebut pun memiliki bakat yang sama dengan anak-anak petinggi yang bersekolah di sekolah Belanda. Dalam brosur itu ia mengatakan kalau kurikulum di sekolah Belanda mengutamakan kemampuan imajinasi (menggambar) anak didiknya, maka hal itu pula yang harus dilakukan terhadap anak-anak kromo yang menjadi siswa di Sekolah SI.
Dalam brosur itu Tan menulis, Nah, kalau bangsa Eropa meninggikan betul kepintaran menggambar itu, lebih-lebih bangsa Belanda, kenapa tidak dikeluarkan kepandaian yang memang tersembunyi pada bangsa jawa itu? Jawabnya: barangkali sebab pabrik gula atau kantor post lebih suka sama yang pandai menyalin kopi, atau menghitung uang masuk dan keluar, dari pada sama orang, yang pandai menggambar Doso Muko9.
Berulangkali Tan Malaka menekankan pentingnya pendidikan bagi masyarakat Indonesia. Karena dengan jalan itu rakyat bisa berpikir rasional dan membebaskan dirinya sendiri dari keterbelakangannya. Upaya itu kembali ditunjukkannya lewat magnum opusnya, Materialisme, Dialektika dan Logika (Madilog). Pada karya yang ditulis di persembunyiannya di Rawajati, Kalibata itu Tan Malaka menerjemahkan sosialisme ilmiah sebagai epistemologi materialis untuk mengikis alam pikiran mistis dan takhayul yang masih terdapat pada sebagian besar alam pikiran masyarakat
Indonesia10.
Dalam Madilog Tan menulis bahwa timbul dan tumbangnya Indonesia sangat tergantung kepada industrinya. Pada industrilah ditemukan ilmu bukti yang mewujud dalam perkakas yang digunakan dalam industri itu sendiri. Untuk memajukan industri yang pada akhirnya memajukan penghidupan rakyat Indonesia, Tan Malaka menegaskan perlunya penguasaan ilmu bukti di atas segalanya terutama logika mistika yang mengungkung alam pikiran orang Indonesia. Tan Malaka juga mengemukakan kalau Indonesia yang merdeka 100 persen menjadi prasyarat utama berkembangnya ilmu bukti, tanpa campur tangan kaum imperialis dan kapitalis. Kalau Indonesia tidak merdeka, maka ilmu bukti itu akan terbelenggu pula11.
Agaknya Tan Malaka merujuk kepada pendidikan di Indonesia pada zaman politik etis diberlakukan. Politik Etis adalah program balas budi pemerintah Belanda terhadap rakyat jajahan yang telah membanting tulang dan memeras keringat demi pundi-pundi kekayaan negeri induk. Program itu, sebagaimana telah diketahui umum, meliputi tiga hal: irigasi, emigrasi dan edukasi. Program pendidikan yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial pada kenyataannya hanyalah bagian dari usaha menghasilkan tenaga-tenaga teknis rendahan yang bisa dipekerjakan di berbagai instansi pemerintahan dan perkebunan-perkebunan milik pengusaha swasta Belanda.
Tujuan pendidikan untuk membebaskan manusia dari keterbelakangan dan ketertinggalannya ternyata tidak sepenuhnya tercapai melalui program pendidikan politik etis itu. Pemerintah kolonial yang menguasai rakyat jajahan sama sekali tak berkepentingan membukakan cakrawala berpikir rakyat. Itulah yang menurut Tan Malaka penting untuk segera dirombak pada saat Indonesia mencapai kemerdekaanya.
Kemerdekaan yang dicapai melalui revolusi nasional, yang menentukan batas-batas politik sebuah negara, harus segera diikuti oleh revolusi alam pemikiran masyarakat Indonesia dari logika mistika ke cara berpikir rasional yang mengandalkan ilmu bukti.
Tan Malaka melihat masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, masih terpengaruh kuat oleh peninggalan alam pikiran masyarakat Hindu kuno yang mengedepankan cara berpikir yang tak berakar pada kenyataan di alam dunia ini.
Tan menyadari masyarakat agraris seperti di Jawa akan selamanya terbelenggu oleh dirinya sendiri selama tidak bisa membebaskan diri dari waham-waham takhyul.
Kemajuan sebuah bangsa dimulai ketika bangsa itu merdeka 100 persen dan berani menggunakan akal pikiran yang logis dan rasional. Pemikiran Tan senafas dengan Immanuel Kant, pemikir zaman Aufklaerung yang mengatakan bahwa “pembebasan manusia dari ketidakdewasaan yang diciptakannya sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan manusia untuk memakai pengertiannya sendiri tanpa pengarahan orang lain. Diciptakan sendiri berarti bahwa ketidakmatangan ini tidak disebabkan oleh kekurangan dalam akal budi, melainkan dalam kurangnya ketegasan dan keberanian untuk memakainya tanpa pengarahan dari orang lain. (Maka) beranilah menggunakan akal budimu sendiri. Sapere Aude!12 Itulah motto zaman pencerahan yang membebaskan warga Eropa dari sebuah zaman yang diwarnai kegelapan akal budi.
Tan ingin membawa rakyat Indonesia ke zaman pencerahan itu dengan syarat sebuah kondisi negeri yang merdeka 100 persen tanpa campur tangan penjajah hasil dari perjuangan aksi massa. Tapi apa daya Tan Malaka kecewa karena pemerintah Indonesia merdeka di bawah Kabinet Sjahrir justru menjalin perundingan dengan penjajah.
“Kalau ada maling masuk ke rumahmu, usir dia! Kalau perlu pukul. Jangan ajak dia berunding!” kata Tan Malaka seperti ditirukan oleh Adnan Buyung Nasution.
Prihatin dengan kondisi itu Tan Malaka mendirikan Persatuan Perjuangan (PP) pada 3 Januari 1946 di Purwokerto. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Indonesia pada 1922, Tan Malaka menjadi pembicara utama dalam sebuah kongres besar Persatuan Perjuangan yang menaungi 141 organisasi perjuangan. Melalui PP, Tan Malaka berhasil menyatukan sejumlah besar golongan yang berbeda keyakinan, taktik dan garis politik13. Dalam kesempatan Tan membeberkan program minimum14 PP yang mencakup tujuh inti pokok, antara lain berunding atas pengakuan kemerdekaan 100 persen, melucuti tentara Jepang, menyita aset perkebunan milik Belanda, dan menasionalisasi industri milik asing yang beroperasi di Indonesia. Tujuh inti pokok program itu merupakan respons langsung terhadap kinerja kabinet Sjahrir yang Tan nilai terlalu berkompromi terhadap kepentingan penjajah15.
Persatuan Perjuangan yang dibangunnya tak sekuat yang dibayangkan Tan Malaka.
Satu per satu anggota aliansi itu mengundurkan diri dan lompat pagar memilih bergabung dengan Sjahrir, salah satunya adalah Mohammad Natsir yang memutuskan untuk menerima tawaran Sjahrir menjadi menteri penerangan dalam Kabinet Sjarir II16. Persatuan Perjuangan yang semula tumbuh pesat sebagai kekuatan oposisi yang kuat perlahan mulai melemah. Pemerintahan Sjahrir kemudian meringkus Tan Malaka pada 17 Maret 1946 atas tuduhan sumir: mengacau keadaan dan berbicara serta bertindak menggelisahkan. Selang empat bulan kemudian beberapa gelintir anggota PP ditangkap terkait keterlibatan mereka dalam kudeta gagal pada 3 Juli 1946. Insiden itu menandai bubarnya PP.
Hubungan Sjarir dengan Tan Malaka memang unik dan sempat ditandai oleh keharmonisan sesaat. Setelah proklamasi kemerdekaan, Sjahrir cum suis sempat menawari Tan Malaka posisi ketua Partai Sosialis. Namun Tan Malaka menampik tawaran itu dengan alasan “tak ingin menjadi teman separtai kaum sosialis, yang kebanyakan masih mau berkompromi dengan kapitalis-imperialis itu.”17
Menurut Ben Anderson, pertempuran Surabaya pada pengujung 1945 merupakan titik terpenting bagi hubungan keduanya. Pertempuran yang berlangsung selama berbulan bulan itu membuat Sjahrir berpikir bahwa perundingan terhadap Inggris dan Belanda harus segera dilakukan demi menghindari pertumpahan darah lebih besar. Dalam risalahnya yang ditulis pada November 1945, Perdjoangan Kita, Sjahrir mengatakan kalau pemuda-pemuda kita kurang memiliki kecakapan memimpin kecuali hanya cakap sebagai “serdadu…berbaris, menerima perintah menyerang, menyerbu dan berjibaku.” Itulah yang menurut Sjahrir tak lain sebagai warisan pendudukan Jepang yang fasistis. Sjahrir cemas para pemuda dengan sikap fasistisnya itu justru akan merugikan perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaanya.
Tidak demikian dengan Tan. Setelah menyaksikan heroisme pemuda pada pertempuran di Surabaya Tan berpendapat justru itulah kekuatan bangsa Indonesia untuk mengusir penjajah dari negeri ini dan meraih kemerdekaan 100 persen tanpa proses berunding dengan Belanda. Pendapat Tan Malaka itu digoreskan dalam sebuah brosur berjudul Moeslihat yang terbit tiga pekan setelah risalah Sjahrir terbit.
Moeslihat dikarang secara dramatis dalam bentuk dialog antara wakil-wakil simbolis yang Tan Malaka harapkan bisa bersatu dalam satu gerakan perjuangan.
Pemikiran Tan Malaka tetap konsisten semenjak pertama kali ia menulis brosusr Massa Actie pada 1926. Ia bersikeras bahwa perjuangan bangsa Indonesia merebut dan mempertahakan kemerdekaan haruslah dilakukan dengan cara aksi massa.
Demarkasi revolusi,” demikian kata Tan Malaka, harus ditarik secara tegas untuk memisahkan penjajah dengan rakyat yang sedang berjuang meraih kemerdekaannya.
Garis demarkasi itu bukanlah suatu garis panjang “yang memiliki lebar” sehingga “borjuis-imperialis bisa berjabat tangan dengan borjuis-jajahan buat kerjasama dan menindas murba di Indonesia.”18
Kendati sempat kecewa karena berkolaborasi dengan Jepang, Tan Malaka justru menaruh harapan tinggi pada Sukarno yang telah mempraktikan jalan aksi massa untuk membangun kesadaran massa dan membangkitkan mereka dalam proses perjuangan merebut kemerdekaan. Sukarno memang pembaca karya-karya Tan Malaka dan jejak pemikiran Tan Malaka tentang aksi massa itu bisa dilihat dalam pidato pembelaannya di Landraad Bandung, Indonesia Menggugat.
Berbeda dengan Sjahrir dan Hatta, Sukarno kagum pada Tan Malaka. Oleh karena itu pula Sukarno sempat memberikan testamen politik kepada Tan Malaka untuk menggantikan dirinya seandainya sekutu menangkapnya. Tapi keputusan memberikan testamen itu dikoreksi oleh Hatta dengan membubuhkan tiga nama lain dalam surat wasiat itu, yakni Sjahrir, Wongsonegoro dan Iwa Koesoema Soemantri.
Tan Malaka memiliki kesamaan pikiran dengan Sukarno dalam soal bentuk negara Indonesia yang baru saja merdeka itu. Sukarno sempat melontarkan ide satu partai negara sementara Tan Malaka, sebagaimana bisa dibaca dari brosus Parlemen atau Soviet? (1921) menginginkan negara efisien yang dikelola oleh sebuah organisasi. Dia tak percaya pada trias politika ala Montesquieu yang menyandarkan jalannya sebuah pemerintahan pada tiga lembaga: eksekutif, legislatif dan yudikatif. Pemisahan itu justru akan menimbulkan kekacauan dan tak menghasilkan apa-apa kecuali rakyat yang semakin terpinggirkan oleh kekuasaan.
Parlemen kata Tan Malaka cuma perkakas saja dari yang memerintah. Tan curiga kalau parlemen hanya dijadikan alat transaksional saja dari kaum borjuasi dan meninggalkan rakyat dengan segala penderitaannya. Parlemen juga menurut Tan, betapa pun terdapat wakil golongan rakyat di dalamnya, hanya yang kuat dalam perjuangan ekonomilah yang akan berkuasa dalam Parlemen19. Dengan kata lain hanya mereka yang punya uanglah yang akan menguasai parlemen dan kapital yang mereka miliki tak lain hasi dari memerah keringat rakyat kecil.
Tan menganjurkan agar Negara diatur oleh sebuah organisasi tunggal yang terbagi atas fungsi-fungsi sebagai pelaksana, pengawas dan peradilan. Organisasi tunggal itu memiliki struktur dari tingkat tertinggi sampai terendah di daerah-daerah. Organisasi itu menjadi pembuat garis kebijakan, sekaligus melaksanakan program dan mengawasinya. Untuk menghindari supaya organisasi tidak menjadi tiran, pemilihan para pemimpin organisasi itu harus dilakukan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama sehinga tak ada kesempatan buat mereka untuk menjadi tirani kekuasaan.
Namun baik ide Sukarno dan Tan Malaka pupus seiring diberlakukannya maklumat Wakil Presiden Hatta Nomer X/1945 yang membuka keran demokrasi dengan jalan mendorong pembentukan banyak partai. Tan tak setuju ini karena pembentukan partai akan berujung kepada parlemen. Ide Tan memang tak sempat direalisasikan namun dugaannya bahwa parlemen akan menjadi alat penguasa saja memang terbukti, khususnya pada zaman Orde Baru di mana anggota DPR hanya jadi tukang stempel buat kebijakan pemerintah.
Tan Malaka sempat menaruh harapan bahwa jalan perjuangan Indonesia merdeka akan sepenuhnya menyandarkan kekuatan pada perlawanan fisik. Namun perubahan konstelasi politik, khususnya ketika kabinet Sjahrir dan Amir Sjarifuddin menjalin perundingan dengan Belanda, memupuskan harapannya. Di penjara Madiun dia menulis lagi sebuah brosur yang cukup menarik yang menawarkan solusi kepada rakyat untuk melakukan perlawanan semesta terhadap penjajah.
Pada brosur Gerilya Politik Ekonomi (Gerpolek)20 itu Tan Malaka membagi periode alam kemerdekaan Indonesia menjadi dua: musim Jaya Bertempur dan musim Runtuh Berdiplomasi. Muslim Jaya Bertempur jatuh antara 17 Agustus 1945 sampai 17 Maret 1946. Selebihnya adalah musim Runtuh Berdiplomasi seiring dengan perundingan-perundingan yang dilakukan sejak Linggarjati sampai dengan Konferensi Meja Bundar yang secara telak membuktikan bahwa dugaan Tan Malaka benar.
Dalam Gerpolek Tan Malaka menyuguhkan fakta kalau perundingan justru merugikan bangsa Indonesia. Wilayah Indonesia menyusut hanya Jawa saja. Kekayaan alam Indonesia pun kembali dikuasai oleh penjajah. Padahal, setelah revolusi Agustus, rakyat sempat menguasai itu. Tahapan revolusi yang terputus yang seharusnya dilajutkan kepada revolusi sosial di tiap daerah semakin mendatangkan kerugian bagi rakyat Indonesia. Oleh karena itu Tan mengajak rakyat untuk melakukan perang semesta dengan mengunakan taktik gerilya dan sabotase terhadap simpul-simpul
kekuatan militer lawan.
Sukarno memang sempat melakukan nasionalisasi terhadap perkebunan-perkebunan milik asing pada 1950-an. Tapi keputusan mendudukan tentara sebagai pimpinan di berbagai perkebunan dan industri asing itu malah mendatangkan “kecelakaan sejarah”. Beberapa klik di dalam tentara justru menjalin hubungan rahasia dengan pihak negeri imperialis. Itu terbukti pada tahun 1965, ketika Sukarno dikudeta dan Suharto mengambil alih tampuk kepemimpinan. Perusahaan asing yang semula milik bangsa Indonesia kembali dimiliki oleh pihak asing, khususnya Belanda, Inggris dan Amerika.
Karena keteguhan sikapnya dan aksi frontal dalam menentang sesuatu hal yang menurutnya tidak ideal, ia diperlakukan sebagai onak dalam daging bagi kelompok-kelompok yang berseberangan dengannya. Pembunuhan terhadap Tan Malaka yang dilakukan oleh bangsanya sendiri menjadi kisah ironi dalam sejarah Indonesia.
Warisan terbesar dari Tan Malaka adalah gagasan cemerlangnya untuk membawa rakyat Indonesia meraih kemerdekaannya yang sejati, bebas dari segala macam bentuk penindasan. Dengan segala kekurangannya, Tan Malaka adalah manusia komplet: pemikir tangguh dan pejuang yang ulet.
* Disampaikan dalam Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB), Megawati Institute. Jakarta, 20 Juli 2011.
1 Pemimpin redaksi majalah Historia online (www.majalah-historia.com).
2 Tan Malaka, Komunisme dan Pan Islamisme, naskah pidato pada Kongres Ke-4 Komintern, Moskwa, 12 November 1922. Naskah ini dipublikasikan di www2.cddc.vt.edu/marxists/indonesia/archive/malaka/1922-PanIslamisme.htm. Pada saat berpidato inilah Tan Malaka mengemukakan pandangannya terhadap Tuhan. Ia mengatakan, “Als Ik voor de God sta, Ik ben een moslem. Als Ik voor de mensen sta, Ik ben geen moslim. Omdat God heeft gezegt dat onder de mensen vele duivels te zijn. Saat saya berdiri di hadapan Tuhan, saya seorang muslim. Saat saya berdiri di hadapan manusia, saya bukan seorang muslim. Karena Tuhan telah mengatakan kalau di antara manusia itu banyak setannya”.
3 Untuk lebih lebih lengkap mengenai Pemberontakan PKI di Banten 1926 silahkan baca Michael C Williams, Arit dan Bulan Sabit Pemberontakan Komunis di Banten 1926 (Yogyakarta: Syarikat Indonesia, 2003).
Setelah pemberontakan ini Pemerintah Kolonial membuka penjara Digul untuk menahan actor-aktor pemberontakan. Gulag itulah yang kemudian digunakan untuk menahan pemimpin gerakan lainnya.
4 KH Achmad Chatib menjadi ketua Sarekat Islam di Banten setelah Hassan Djajadiningrat. Peralihan kepemimpinan SI dari tangan Djajadiningrat pada 1920 kepada Chatib membuka peluang radikalisasi SI Banten. SI yang semula tak begitu populer di kalangan rakyat karena terkesan elitis berubah seiring gaya kepemimpinan Chatib yang lebih populis. Namun pada 1919, atas tuduhan terlibat insiden afdeling B di Cimareme, SI pimpinan Chatib harus beroperasi secara klandestine. Pada zaman revolusi, Chatib menjadi residen Banten pribumi pertama. Ia berteman baik dengan Tan Malaka yang selama di
Banten menggunakan nama samaran Iljas Husein.
5 Mengenai pemberontakan PKI di Silungkang silahkan baca Mestika Zed, Pemberontakan komunis silungkang 1927 : Studi Gerakan Sosial di Sumatera Barat (Yogyakarta: Syarikat Indonesia, 2004)
6 Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara jilid I (Jakarta: Teplok Pers, 2000) hlm. 234-235.
7 Wawancara Soemarsono, 16 September 2010. Soemarsono adalah tokoh pemuda dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Anggota PKI yang memiliki hubungan dekat dengan Amir Sjariffuddin. Pada saat di Surabaya, Soemarsono mengaku pernah didatangi Tan Malaka, bahkan Tan menginap di pondokan Soemarsono selama dua pekan. Soemarsono menilai Tan Malaka sebagai orang yang gemeene (Bld:buruk prilakunya, tak bisa dipegang kata-katanya). Kini menetap di Melbourne, Australia.
8 Tan Malaka, SI Semarang dan Onderwijs (Jakarta: Yayasan Massa, 1987). Diketik ulang dan dipublikasikan di www2.cddc.vt.edu/marxists/indonesia/archive/malaka/
9 Ibid.
10 Ignas Kleden, “Sutan Sjahrir: Titian Sosialisme ke Demokrasi” kolom dimuat di Majalah TEMPO edisi khusus Sjahrir (9-16 April 2009).
11. Tan Malaka, Materialisme, Dialektika dan Logika (Jakarta: Penerbit LPPM Tan Malaka, 2008) Hlm.51.
12 Dikutip dari Ignas Kleden dalam pengantarnya untuk buku Etika Pembebasan karya Soedjatmoko (Jakarta: Penerbit LP3ES, 1984) Hlm. XII. Mengutip dari “Idee zu einer allgemeinen Geschichte in weltbuer gerlicher Absicht” yang dimuat dalam Immanuel Kant, Kleinere Schriften zur Geschichtsphilosophie, Ethik und Politik (Hamburg: Felix Meiner Verlag, 1973).
13 Bonnie Triyana, “(Bukan) Seseorang dalam Arus Utama Revolusi” kolom di Majalah TEMPO edisi khusus Tan Malaka (17 Agustus 2008).
14 Program Minimun PP yang dikemukakan oleh Tan Malaka segera diimbangi oleh Sjahrir dengan meluncurkan Lima Program Pokok yang kemudian dikenal sebagai Lima Pokok Sukarno. Isi dari Lima Pokok Sukarno itu mengakomodasi program tujuh inti pokok PP.
15 Mengenai konflik politik Sjahrir versus Tan Malaka silahkan baca Ben Anderson, Revolusi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944 – 1946 (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988) Hlm. 341 – 363.
16 Bonnie Triyana, “Natsir: Manusia Lurus yang Sesekali Berbelok” dimuat di jurnal hukum Jentera edisi 20, Januari – April 2010. Hlm. 130 – 138.
17 Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara jilid III (Jakarta: Teplok Pers, 2000) Hlm. 179.
18 Ibid. Hlm. 204.
19 Tan Malaka, Parlemen atau Soviet? Diketik ulang dan dipublikasikan di www2.cddc.vt.edu/marxists/indonesia/archive/malaka/

20 Tan Malaka, Gerpolek: Gerilya Politik-Ekonomi (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000).

 
Leave a comment

Posted by on August 11, 2011 in Nasionalis

 

TAJAMNYA PENA SEORANG TIRTO ADHI SOERJO

Oleh I K Guna Artha

Raden Mas Tirto Adhi Soerjo adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan Bumiputera mengingat istilah Indonesia sendiri baru dikenal pada tahun 1922, Beliau dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan. Namanya sering disingkat T.A.S. Lahir pada 1880 di Blora – Jawa Tengah, dengan nama kecilnya sebagai Djokomono “………….aku, si Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Tapi aku tak suka itu pake nama ‘Raden Mas’. Sangat feudal”. Demikian kira-kira ungkapan seorang Tirto Adhi Soerjo atas feodalisme.Tirto Adhi Soerjo adalah putra dariRaden Mas Tirtonoto, bupati Bodjonegoroyang masih kerabat R.A. Kartini. Abangnya adalah Raden Mas Said, bupati Blora tokoh social reform. Saat itu beliau telah menyelenggarakan sekolah untuk kaum perempuan disaat patriliniar kuat menempatkan kaum perempuan kedudukannya “dibawah” laki-laki. Abangnya yang lain adalah Raden Tirto Adi Koesoemo seorang jaksa di Rembang. Sepupunya adalah Raden Mas Brotodiningrat seorang bupati Madiun. Mengingat anak seorang bupati dari keluarga “ningrat” maka bernasib baik dibanding pribumi lainnya yang memberi kesempatan kepada seorang Tirto dapat mengenyam pendidikan di STOVIA Jakarta. Namun tak menamatkan sekolahnya karena alasan yang kurang jelas kemudian memilih menjadi seorang penulis yang memiliki cita-cita idealis demi kebangkitan Bumiputera (pribumi) untuk membela bangsa tertindas. Perjuangannya dengan “pena bermata belati” telah membuka sejarah jurnalisme dengan mengawalinya melalui surat kabar Soenda Berita (1903) yang masa itu seluruh penerbitan surat kabar dikuasai orang Indo Eropa dan Tionghoa. Soenda Berita berfokus pada pemberitaan seputar masalah pertanian, perdagangan, kesehatan dan hukum (staatblad melajoe) yang menterjemahkan lembar negara pemerintah kolonial dalam bahasa Melayu. Dengan demikian medekatkan seorang T.A.S. dengan masyarakat. Pada Januari 1904 T.A.S. bersama H.M. Arsad dan Oesman mendirikan badan hukum N.V. Javaansche Boekhandel en Drukkerij en handel in schrijfbehoeften Medan Prijaji. Ini dicatat sebagai N.V. pribumi pertama dan sekaligus NV pers pertama dengan modal sebesar f 75.000. Beralamat di jalan Naripan Bandung yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK). Dengan bermodal tersebut terbitlah Medan Prijaji (1907) sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu, dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi. Yang menarik adalah bahwa sebagai seorang yang menjadi bagian keluarga priyayi yang berkedudukan, bahwa T.A.S. memulai kegiatan usaha perdagangan/bisnisnya tanpa bantuan modal dari keluarga. Beliau dapatkan dari pinjaman bank dan kemampuan menghimpun dana dari masyarakat. Dan bukan sebatas sekedar berdagang namun membangun kekuatan ekonomi untuk kesetaraan dalam penguasaan ekonomi kolonial. Yang kemudian kelak ditahun 1909 mendirikan Sarekat Dagang Islam di Batavia (Jakarta sekarang) dan tahun 1910 di Buitenzorg (Bogor sekarang). Sarekat Dagang Islam sendiri dirintis di Surakarta oleh Haji Samahudi tahun 1905 dengan tujuan perserikatan pedagang pribumi untuk melawan dominasi Tionghoa.

Ketika pertama kali terbit di Bandung, “Medan Prijaji” mencantumkan moto “Ja’ni swara bagai sekalijan Radja2. Bangsawan Asali dan fikiran dan saoedagar2 Anaknegri. Lid2 Gemeente dan Gewestelijke Raden dan saoedagar bangsa jang terperentah lainnja jang dipersamakan dengan Anaknegri di seloereoeh Hindia Olanda”. Delapan asas yang diturunkan Tirto Adhi Soerjo di halaman muka edisi perdana, antara lain memberi informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, tempat orang tersia-sia mengadukan halnya, mencari pekerjaan, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi dan mengorganisasikan diri, membangunkan dan memajukan bangsanya, serta memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan. Menurut buku Sejarah Pers Sebangsa, nama-nama pengelola Medan Prijaji ialah adalah Tirto Adhi Soerjo sebagai pemimpin redaksi (hoofdredacteur), dengan redaktur A.W. Madhie, Raden Tjokromidjojo, Raden Soebroto (ketiganya dari Bandung), R.M. Prodjodisoerjo dan R. Kartadjoemena di Bogor, dan Paduka tuan J.J. Meyer, pensiunan Asisten Residen di Gravenhage, sebagai redaktur di Belanda. Juga disebut adanya beberapa jurnalis Begelener dan Hadji Moekti.Mengingat T.A.S. menganjurkan kemandirian berusaha sebagai prasyarat untuk membebaskan diri dari cengkeraman kapitalis penjajah maka melalui usaha perdagangan diperlukan usaha mandiri untuk mencetak Medan Prijaji. Dengan pengetahuan dan pengalaman niaganya, diwajibkan bagi calon pelanggan untuk terlebih dahulu membayar uang muka berlangganan selama satu kuartal, setengah, atau satu tahun, yang saat ini kita kenal dengan sebutan saham. Dilobinya beberapa pangrehpraja yang tertarik dengan gagasannya. Jadilah dua orang penyumbang dana besar, yakni Bupati Cianjur R.A.A.Prawiradiredja dan Sultan Bacan Oesman Sjah. Masing-masing menyumbang f 1.000 dan f 500.Kemudian menerbitkan Soeloeh Keadilan, dan Poetri Hindia (1908). Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum (Sudarjo Tjokrosisworo dalam bukunya Sekilas Perjuangan Suratkabar – November 1958). Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. Menyadarkan bangsa pribumi tentang hakekat penjajahan yang sangat merugikan bangsa dan berusaha melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang dilakukan pemerintah kolonial.Salah satu kasus terkenal adalah perkara di Kawedanan Cangkrep Purworejo. Pada tahun 1909, T.A.S. membongkar skandal yang dilakukan Aspiran Kontrolir Purworejo, A. Simon dengan Wedana Tjorosentono yang mengangkat lurah Desa Bapangan yang tak memperoleh dukungan warga. Sementara kandidat pertama yang didukung, Mas Soerodimedjo, malah ditangkap dan dikenakan hukuman krakal. Terbakar oleh amarah melihat penyalahgunaan wewenang itu T.A.S. menyebut pejabat tersebut sebagai monyet penetek atau ingusan dalam Medan prijaji No 19, 1909. Investigasi atas kasus itu didukung 236 warga Desa Bapangan dan warga ini pula mengirim surat kepada T.A.S. yang berisi dukungan pasang-badan kalau-kalau T.A.S. kena denda atas tulisannya. Delik pers pun terjadi, T.A.S. dituduh menghina pejabat Belanda, terkena Drukpersreglement 1856 (ditambah Undang-undang pers tahun 1906). Meskipun T.A.S. memiliki forum privilegiatum (sebagai ningrat) ia dibuang ke Teluk Betung, Lampung, selama dua bulan. Tapi dari kasus itu, Medan Prijaji mendapat perhatian pers di Belanda dan T.A.S. berkesempatan berkenalan dengan Anggota Majelis Rendah Belanda Ir HH van Kol dan pemuka politik etik Mr C Th van Deventer. Medan Prijajipun dipasarkan hingga di daratan Eropa.Dari sepak terjang itu Medan Prijaji pun menjadi model pertama dari apa yang kelak disebut sebagai surat kabar pergerakan, mendahului

Sarotomo, Soeloeh Indonesia, ataupun

Daulat Ra’jat. Yang khas Medan Prijaji terletak pada kegiatannya yang tak berhenti dengan sekadar memberitakan sebuah peristiwa atau kebijakan yang merugikan publik, namun terjun langsung menangani kasus-kasus yang menimpa si kawula. Medan Prijaji menjadi pelopor dari genre jurnalisme, yang puluhan tahun kemudian dikenal dengan sebutan

jurnalisme advokasi.

Pada tahun 1910 di Betawi, “Medan Prijaji” terbit tiap hari kecuali hari Jumat dan Minggu dan hari raya. Dicetak di percetakan Khong Tjeng Bie, Pancoran, Betawi. Rubrik yang paling digemari adalah surat dan jawaban serta penyuluhan hukum gratis yang disediakan Medan Prijaji kepada rakyat yang berperkara. Usaha inilah yang menjadikan koran ini berkembang. Simpati pun datang melimpah hingga pada tahun ketiga terbitannya, Medan Prijaji berubah menjadi harian dengan 2000 pelanggan yang menurut laporan Rinkes: “untuk harian Eropa di Hindia pun sudah merupakan jumlah bagus, lebih-lebih untuk harian Melayu.”Ketika pertama kali terbit menjadi harian tetap, mengambil tahun IV karena tahun I, II, dan III masih mingguan yang terbit di Bandung, di bawah judul surat kabar harian Medan Prijaji itu tertulis moto: “Orgaan boeat bangsa jang terperentah di H.O. Tempat akan memboeka swaranya Anak-Hindia”. Di zaman itu, merupakan sebuah keberanian luar biasa mencantumkan moto demikian. Seorang T.A.S. berpikir bahwa bangsa Hindia dipersatukan bukan oleh kesamaan agama, etnik atau hubungan darah tapi oleh kesamaan pengalaman sebagai “orang terperintah”. Berangkat dari kesamaan tersebut mendorong lahirnya jaman “pergerakan” sebelum sejarah mencatat era “kebangkitan” nasional. Dalam pemikiran T.A.S. bahwa penjajahan dapat eksis karena feodalisme dan penguasaan sumber-sumber ekonomi oleh perusahaan Belanda saat itu karena lemahnya kontrol kaum priyayi.Medan Prijaji mengambil posisi sebagai corong suara publik. Sebagai aktivis pergerakan, tulisan-tulisan T.A.S. dalam Medan Prijaji tak pernah berbasa-basi, tapi menunjuk muka langsung. Hampir tak ada satu pun kebijakan kolonial yang dirasa memberatkan rakyat yang lolos dari pemberitaan Medan Prijaji. Di seluruh karesidenan Jawa, Medan Prijaji bukan lagi teman, tapi benar-benar medan berkelahi. Di Banten, Rembang, Cilacap, Bandung, diperkarakannya banyak hal. Pemberitaan-pemberitaan Medan Prijaji sering dianggap menyinggung pemerintahan Kolonial Hindia Belanda saat itu. Nomor terakhir terbit 3 Januari 1912 tahun VI. Pada 23 Agustus 1912 Medan Prijaji pun ditutup. T.A.S. juga dituduh menipu sejumlah orang yang berhimpun di Vereeniging van Ambtenaren bij het Binnenlandsch Bestuur (Perhimpunan Amtenar Pangreh Praja). Dua bulan setelah tutup, Jaksa Agung Hindia Belanda A Browner menjatuhkan vonis bahwa T.A.S. bersalah telah menulis penghinaan kepada Bupati Rembang. Medan Prijaji terkena delik pers yang dianggap menghina Residen Ravenswaai dan Residen Boissevain yang dituduh menghalangi putera R. Adipati Djodjodiningrat (suami R.A. Kartini) menggantikan ayahnya. T.A.S. pun dijatuhi hukuman pembuangan ke pulau Bacan, wilayah Halmahera selama 6 bulan, namun baru diberangkatkan setahun kemudian karena masalah perekonomian penerbitan Medan Prijaji dengan para krediturnya.Sekembali dari Ambon, T.A.S. tinggal di Hotel Medan Prijaji (ketika ia sedang di Ambon namanya diubah menjadi Hotel Samirono oleh Goenawan). Akibat mengalami pengasingan di tahun 1915 praktis mebuatnya tersingkir dari panggung gerakan nasionalis. KemudianT.A.S. sakit-sakitan dan akhirnya meninggal pada tanggal 7 Desember 1918. Adalah seorang Marco Kartodikromo, murid sekaligus pegawainya penah menulis obituari singkat tentang sosok T.A.S. di Sinar Hindia beberapa waktu kemudian namun setelah itu namanya hilang dalam catatan sejarah. Namanya mulai terangkat ketika Ki Hajar Dewantara mencatat tentang diri Tirto Adi Soerjo yang menulis buku kenang-kenangannya pada tahun 1952, sebagai berikut: “Kira-kira pada tahun berdirinya Boedi Oetomo ada seorang wartawan modern, yang menarik perhatian karena lancarnya dan tajamnya pena yang ia pegang yaitu almarhum R.M. Djokomono, kemudian bernama Tirto Adi Soerjo, bekas murid STOVIA yang waktu itu bekerja sebagai redaktur harian Bintang Betawi (yang kemudian bernama Berita Betawi) lalu memimpin Medan Prijaji dan Soeloeh Pengadilan. Ia boleh disebut pelopor dalam lapangan jurnalistik.”T.A.S. sampai waktu yang cukup lama menghilang dari narasi sejarah Indonesia tapi bukan berarti bahwa “perannya” dalam membangun kesadaran rakyat Hindia sebagai kaum tertindas kurang penting dibanding organisasi Budi Utomo. Ini semata untuk memahami bagaimana bangsa ini terbentuk dan berkembang dalam pemikiran dan praktek. Dalam pemikirannya yang mendukung diruntuhkannya tembok feodalisme dengan menjatuhkan kekuasaan raja-raja, namun dilain pihak seorang T.A.S. menginginkan prinsip persamaan di depan hukum diberlakukan bagi tanah jajahan. Tirto Adhi Soerjo juga mendapat tempat yang banyak dalam laporan-laporan pejabat-pejabat Hindia Belanda, terutama laporan Dr. Rinkes. Ini disebabkan karena T.A.S. memegang peranan pula dalam Sarekat IslamKisah perjuangan T.A.S. diabadikan oleh Pramoedya Ananta Toer (PAT) selepas keluarnya dari pembuangan pulau Buru awal tahun 1980-an. Ditulis dengan nama Minke dalam buku Tetralogi Buru, empat buku tebal yang berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Selain Tetralogi PAT pun menulis kekagumannya atas T.A.S. dalam buku Sang Pemula. Entah alasan pemerintah saat itu apa sehingga karya Tetralogi PAT dilarang terbit dan beredar. Sejak reformasi bergulir buku-buku PAT banyak dicetak ulang dan beredar secara bebas. Karya PAT tentang Minke sebagai Tirto Adhi Soerjo ini sudah banyak diterjemahkan di luar negeri, hingga 33 bahasa, diakui internasional di berbagai negara sebagai sebuah karya sejarah yang apik. Selain berlatar belakang sejarah yang tentunya lebih menarik sebagai referensi pelajaran sejarah di sekolah, PAT menggambarkan manusia Indonesia dengan keadaan feodal dan sistem kolonialnya. Tak hanya kronologi era Kebangkitan Nasional Indonesia dipaparkan lebih membumi dengan bahasa yang sederhana, PAT juga menggambarkan kisah cinta seorang manusia yang sederhana, tidak muluk-muluk, saat Minke bertemu dengan Annelies, sang Bunga Akhir Abad. Mengingat jasanya beliau dinyatakan sebagai Perintis Pers Indonesia tahun 1973 oleh Dewan Pers RI, dan pemerintah mengukuhkannya sebagai Bapak Pers Nasional. Takashi Shiraishi lewat buku Zaman Bergerak (1990) menyebut Tirto Adhi Soerjo sebagai orang bumiputra pertama yang menggerakkan bangsa melalui bahasanya lewat Medan Prijaji. Tahun 2006 Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PPKK) Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran (Lemlit Unpad) mempelajari tiga calon pahlawan nasional dari Jawa Barat yaitu R. Soepriadinata, R.M. Tirto Adhi Soerjo, dan K.H. Noer Ali. Dan akhirnya pada tanggal 3 November 2006, Tirto Adhi Soerjo mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres RI no 85/TK/2006. Atas jasa-jasanya itu pula, pemerintah RI menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana http://www.nasionalisperjuangan.org

 
Leave a comment

Posted by on August 9, 2011 in Nasionalis

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.