RSS

Category Archives: Nasionalis

PATRIOTISME TJIPTO MANGOENKOESOEMO

 
Leave a comment

Posted by on September 27, 2011 in Nasionalis

 

PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN, VISI SEORANG KI HADJAR DEWANTARA

 
Leave a comment

Posted by on September 26, 2011 in Nasionalis

 

PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN, VISI SEORANG KI HADJAR DEWANTARA

 
Leave a comment

Posted by on August 22, 2011 in Nasionalis

 

H. O. S. TJOKROAMINOTO DAN RUMAH PERGERAKAN NASIONAL

Oleh I K Guna Artha

 

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 6 Agustus 1882 Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama Raden Mas Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, Raden Mas Adipati Tjokronegoro, pernah menjabat sebagai bupati Ponorogo.
Pada bulan Mei 1912, Tjokroaminoto bersama Hasan Ali Surati bergabung dengan Sarekat Dagang Islam dan mengubahnya menjadi Sarekat Islam. Yang sebelumnya dirintis oleh Haji Samanhudi sebagai Sarekat Dagang Islam tahun 1905 di Solo dengan tujuan awal untuk menghimpun pedagang-pedagang Islam pribumi agar dapat menyainggi hak istimewa pedagang Tionghoa. Pengubahan nama tersebut dilakukan agar organisasi tidak hanya bergerak dibidang ekonomi saja namun daopat berperan dibidang lain.  Pada kongres pertama tahun 1913, Tjokroaminoto menyatakan bahwa Sarekat Islam bukan organisasi politik dan bertujuan untuk meningkatkan perdagangan antar bangsa Indonesia, membantu pengembangan ekonomi anggota serta mengembangkan kehidupan religius.
Walaupun dalam anggaran dasarnya tidak secara eksplisit menyebutkan tujuan-tujuan politik namun dalam praktek Sarekat Islam menentang ketidakadilan dan penindasan pemerintahan kolonial Belanda. Karena dari sisi jumlah keanggotaannya semakin pesat perkembangannya maka pada tahun 1916 Sarekat Islam mendapat pengakuan sebagai badan hukum dan berkembang menjadi partai politik dan mendapatkan hak untuk mendudukkan wakilnya dalam Volksraad (parlmen) tahun 1917.
Pada kongres ketiga tahun 1918 di Surabaya, Tjokroaminoto menyatakan jika Belanda tidak melakukan reformasi sosial dalam skala besar maka Sarekat Islam akan melakukan sendiri diluar parleman.
Dalam perkembangannya kader-kader muda Sarekat Islam kena pengaruh komunis seperti Semaoen, Darsono, Tan Malaka, Alimin Prawirodirdjo yang melahirkan Sarekat Islam Putih pimpinan Tjokroaminoto yang diikuti Agus Salim, Abdul Muis, Suryopranoto, Sekarmadji Maridjan berpusat di Yogyakarta dan Sarekat Islam Merah pimpinan Semaoen berpusat di Semarang.
Dalam penegakan disiplin partai pada tahun 1921 maka larangan rangkap keanggotaanpun diberlakukan sehingga unsur dari PKI, Muhammadyah dikeluarkan dari Partai Sarekat Islam. Keputusan ini diperkuat dalam kongres tahun 1923 di Madiun. Kemudian Partai Sarekat Islam berganti nama menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia tahun 1929 dengan tujuan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan nasional. Selanjutnya melahirkan faksi-faksi baru di tubuh PSII seperti faksi Sukiman, faksi Kartosuwiryo dan faksi Abikusno.
Tjokroaminoto tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pelopor pergerakan nasional. Pada kurun waktu 1912-1921 mengingat posisi sebagai tokoh Sarekat Islam, maka rumah Tjokroaminoto di Surabaya menjadi rumah pergerakan tempat dimana berkumpulnya Alimin, Muso, Kartosuwiryo, Tan Malaka, Ahmad Dahlan,dll yang kelak memberikan warna bagi sejarah pergerakan Indonesia.
Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat adalah tiga modal kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan yang dibutuhkan dalam suasana perjuangan Indonesia pada masa itu. Demikianlah salah atu yang diajarkan oleh seorang Tjokroaminoto.
Ayah Soekarno, Raden Sukemi Sostrodihardjo asal Blitar yang dikenal dekat dengan Tjokroaminoto ketika anaknya menyelesaikan pendidikan ELS (Europeesche Lagere School) di Mojokerto dan akan melanjutkan ke HBS (Hogere Burger School) Surabaya Raden Sukemi menitipkan putra Sang Fajar di tempat Tjokroaminoto. “Walaupun kau mendapat pendidikan Belanda, aku tak ingin engkau kebarat-baratan. Aku titip engkau kepada H.O.S. Tjokroaminoto. Aku menginginkan engkau menjadi Karna kedua”.
Adipati Karna adalah putra Dewi Kunti atas kuasa Tuhan terlahir tanpa perkawinan dalam epos besar Hindu Mahabharata dikenal sebagai sosok pemberani, cerdas, loyalis, memiliki dedikasi dan pemanah yang hebat seperti adiknya Arjuna.
Di tempat Tjokroaminotolah Soekarno banyak belajar tentang nasionalisme dan arti sebuah pergerakan. Soekarno rajin mengikuti pertemuan-peremuan dan rapat yang diselenggarakan oleh Tjokroaminoto. Dan bahkan karena percayanya Tjokro kepada Soekarno dalam beberapa kesempatan Soekarno muda mewakili Tjokroaminoto dalam pertemuan rapat kaum pergerakan. Belajar dari beragam ideologi sosialis, komunis, islam moderat hingga islam radikal menempa Soekarno muda yang kelak menjadi peletak dasar kebangsaan Indonesia.
Saat Soekarno memulai kuliahnya di Sekolah Tinggi Teknik (Thecnische Hooge School) Bandung, sempat meninggalkan kuliah karena mendengar Tjokroaminoto didakwa memicu perlawanan para pekerja oleh pemerintah Hindia Belanda. Karena Soekarno berpikir bahwa “Mengejar kehidupan sendiri, sementara orang yang sudah diakui sebagai keluarga, orang yang pernah menolong kita berada dalam kesusahan bukanlah cara orang Indonesia” maka Soekarno harus ke Surabaya untuk menguatkan moral perjuangan Tjokroaminoto. Sikap Soekarno ini bisa kita pahami karena warisan ideologi sosialisme dari seorang Tjokroaminoto.
Di masa pengasingan Bung Karno di Endeh 1932, beliau menyampaikan kekagumannya pada sosok H.O.S. Tjokroaminoto dalam sepucuk suratnya yang berbunyi “…….Bapak sebagai patriot besar yang menghimpun rakyat kita dalam perjuangan menuju kemerdekaan, tidak akan kami lupakan untuk selama-lamanya. Saya mendoakan agar Bapak segera sembuh kembali
Tjokroaminoto adalah ayah dari Oetari, istri pertama Soekarno namun diceraikan kemudian mengingat usianya yang terpaut jauh. Setelah jatuh sakit sehabis mengikuti Kongres Sarekat Islam di Banjarmasin, Tjokroaminoto akhirnya meninggal di Yogyakarta, 17 Desember 1934 pada umur 52 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Pekuncen, Yogyakarta.
 
Leave a comment

Posted by on August 16, 2011 in Nasionalis

 

R. A. KARTINI SANG PELOPOR KEBANGKITAN PEREMPUAN PRIBUMI

Oleh I K Guna Artha

Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Dilahirkan di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 dari kalangan priyayi, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara yang pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.
Oleh karena peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus dipingit.
Di Jepara pada jaman Hindu pernah berkuasa Putri Shima (674-732) adalah ratu kerajaan Kalingga yang wilayah kekuasaannya meliputi Pekalongan dan Jepara saat ini. Maka tidaklah mengherankan ketika sosok pelopor kebangkitan perempuan lahir di Jepara.

Setelah dipingit maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa sehingga timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga berlangganan paket majalah leestrommel. Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan, majalah wanita De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat.

Disamping masalah emansipasi wanita, masalah sosial tak luput dari perhatian Kartini. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20 tahun, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden, karya Augusta de Witt, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata).

Dalam kegundahan hati yang ingin memberikan sentuhan perubahan sosial atas kaum perempuan, Kartini menulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Kartini menggugat budaya Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis sebagai Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

Pada perkenalannya dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginannya untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. “Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu
Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.
Kartini banyak pula mengungkap kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya hanya sampai umur 12 tahun. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita dan mimpi besarnya. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini dan mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengijinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda akhirnya diputuskan untuk ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.

Pada pertengahan tahun 1903, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus karena ia sudah akan menikah. “…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…” Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi. Dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni memenuhi hasil perjodohan orang tuanya untuk menikahi Adipati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri tanggal 12 November 1903.
Terjadi perubahan sikap atas diri Kartini saat menjelang pernikahannya, Kartini berharap pernikahannya dengan bupati dapat mewujudkan keinginannya untuk mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dan memang pada akhirnya sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, R.M. Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht, Dari Kegelapan Menuju Cahaya. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.
Atas dedikasinya dalam memajukan kaum perempuan, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini“. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Armijn membagi buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya.
Pada buku versi baru tersebut, Armijn Pane juga menciutkan jumlah surat Kartini. Hanya terdapat 87 surat Kartini dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Penyebab tidak dimuatnya keseluruhan surat yang ada dalam buku acuan Door Duisternis Tot Licht, adalah terdapat kemiripan pada beberapa surat. Alasan lain adalah untuk menjaga jalan cerita agar menjadi seperti roman. Menurut Armijn Pane, surat-surat Kartini dapat dibaca sebagai sebuah roman kehidupan perempuan. Versi ini sempat dicetak sebanyak sebelas kali.
Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda.
Terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini.

Surat-surat Kartini juga diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno saat ia melanjutkan studi di bidang sastra tahun 1972. Kemudian, pada 1979, sebuah buku berisi terjemahan Sulastin Sutrisno versi lengkap Door Duisternis Tot Licht pun terbit.
Buku kumpulan surat versi Sulastin Sutrisno terbit dengan judul Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. Menurut Sulastin, judul terjemahan seharusnya menurut bahasa Belanda adalah: “Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsa Jawa“. Sulastin menilai, meski tertulis Jawa, yang didamba sesungguhnya oleh Kartini adalah kemajuan seluruh bangsa Indonesia.
Buku lain yang berisi terjemahan surat-surat Kartini adalah Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904. Penerjemahnya adalah Joost Coté. Ia tidak hanya menerjemahkan surat-surat yang ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Joost Coté juga menerjemahkan seluruh surat asli Kartini pada Nyonya Abendanon-Mandri hasil temuan terakhir. Pada buku terjemahan Joost Coté, bisa ditemukan surat-surat yang tergolong sensitif dan tidak ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Menurut Joost Coté, seluruh pergulatan Kartini dan penghalangan pada dirinya sudah saatnya untuk diungkap.
Buku Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904 memuat 108 surat-surat Kartini kepada Nyonya Rosa Manuela Abendanon-Mandri dan suaminya JH Abendanon. Termasuk di dalamnya 46 surat yang dibuat Rukmini, Kardinah, Kartinah, dan Soematrie.

Karya sastra yang lebih memusatkan pada pemikiran Kartini juga diterbitkan. Salah satunya adalah Panggil Aku Kartini Saja yang dikompilasi Pramoedya Ananta Toer. Buku Panggil Aku Kartini Saja terlihat merupakan hasil dari pengumpulan data dari berbagai sumber oleh Pramoedya. Selain diterbitkan dalam Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya, terjemahan Sulastin Sutrisno juga dipakai dalam buku Kartini, Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya.
Kartini dihadirkan sebagai pejuang emansipasi yang sangat maju dalam cara berpikir dibanding perempuan-perempuan Jawa pada masanya. Dalam surat tanggal 27 Oktober 1902, dikutip bahwa Kartini menulis pada Nyonya Abendanon bahwa dia telah memulai pantangan makan daging, bahkan sejak beberapa tahun sebelum surat tersebut, yang menunjukkan bahwa Kartini adalah seorang vegetarian.
Sebuah buku kumpulan surat kepada Stella Zeehandelaar periode 1899-1903 diterbitkan untuk memperingati 100 tahun wafatnya. Isinya memperlihatkan wajah lain Kartini. Koleksi surat Kartini itu dikumpulkan Dr Joost Coté, diterjemahkan dengan judul Aku Mau … Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903.
“Aku Mau …” adalah moto Kartini. Sepenggal ungkapan itu mewakili sosok yang selama ini tak pernah dilihat dan dijadikan bahan perbincangan. Kartini berbicara tentang banyak hal: sosial, budaya, agama, bahkan korupsi.

Pada peringatan Hari Kartini di tahun 1953 ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Menurut almarhumah Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.
Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini seperti Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu,Dewi Sartika dan lain-lain. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Sikapnya yang pro terhadap poligami juga bertentangan dengan pandangan kaum feminis tentang arti emansipasi wanita.

Pihak yang pro mengatakan bahwa Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional, artinya, dengan ide dan gagasan pembaharuannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional.
Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Nama besar Kartini diabadikan sebagai nama jalan di Utrecht, Belanda dengan nama Kartinistraat disandingkan dengan tokoh perjuangan lainnya seperti Augusto Sandino, Steve Biko, Che Guevara, Agostinho Neto. Di Venlo R.A. Kartinistraat terletak di kawasan Hagerhof, disandingkan dengan tokoh wanita Anne Frank dan Mathilde Wibaut.
Di wilayah Amsterdam Zuidoost atau yang lebih dikenal dengan Bijlmer, jalan Raden Adjeng Kartini disandingkan dengan Rosa Luxemburg, Nilda Pinto, Isabella Richaards. Di Haarlem jalan Kartini berdekatan dengan jalan Mohammed Hatta, Sutan Sjahrir dan Chris SoumokilMohammed Hatta, Sutan Sjahrir dan Chris Soumokil.

 
Leave a comment

Posted by on August 16, 2011 in Nasionalis

 

LAKON TAN MALAKA*

Oleh Bonnie Triyana1
 
Saya harus angkat bicara…
untuk jutaan rakyat tertindas di Timur
– Tan Malaka. Moskwa, 12 November 1922
Selopanggung, 19 Februari 1949. Dor! Sebutir peluru menghabisi riwayatnya. Nyawanya melesat. Namun sebelumnya dia telah berwasiat, “di dalam kubur suaraku akan terdengar lebih keras!”
Tan Malaka adalah legenda hidup zaman pergerakan. Namanya terkenal di kalangan kaum nasionalis Indonesia. Karya-karyanya, seperti Naar de Republiek Indonesia (1925) dan Massa Actie (1926) menjadi bacaan di kalangan aktivis pergerakan tidak terkecuali buat Sukarno. Perbincangan tentangnya diselang-selingi bumbu beraroma mitos. Ia tokoh yang masyhur, pahlawan nasional yang sempat dilupakan selama bertahun-tahun dan kini namanya mulai disebut di mana-mana.
“Riwayat hidupnya bagaikan cerita detektif yang penuh ketegangan,” kata Dr Alfian dalam tulisannya, “Tan Malaka Pejuang Revolusioner yang Kesepian”. Muhammad Yamin menyebutnya sebagai Bapak Republik Indonesia yang dipersamakan dengan Washington yang merancang Republik Amerika Serikat jauh sebelum merdeka, atau dengan Rizal-Bonifacio yang meramalkan berdirinya Filipina sebelum revolusi terjadi. Rudolf Mrazek menyebut Tan Malaka sebagai manusia komplet.
Tapi kenapa gagasannya yang brilian tidak pernah bisa direalisasikan, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh pengikut-pengikutnya? Itu bisa terjadi karena, “hatinya terlalu teguh untuk diajak berkompromi dan punggungnya terlalu lurus untuk diajak sedikit membungkuk,” kata Hasan Nasbi, penulis buku Filosofi Negara Menurut Tan Malaka dalam kolomnya di Majalah Tempo edisi khusus Tan Malaka (Agustus,2008).
Ia seorang marxis yang berjiwa nasionalis yang dalam beberapa hal memiliki paradoksalnya sendiri: berpikiran marxis secara total dan bertindak sebagai nasionalis yang radikal. Tan Malaka adalah pejuang yang gigih dan pemikir ulung, betapa pun aktivitas politiknya selalu menimbulkan kontroversi. Sepak terjangnya di Komunisme Internasional (Komintern) yang mengajukan usul kerjasama dengan gerakan Islam mendapatkan tentangan dari pemimpin Komintern pada Kongres ke-4, 12 November 1922 di Moskwa, Uni Soviet. Dalam kesempatan itu ia menentang thesis yang dibangun oleh Lenin bahwa gerakan komunisme internasional harus memerangi gerakan Pan Islamisme karena sama bahaya dengan imperialisme.
Tan Malaka melihat Pan Islamisme dalam sudut pandang yang lebih positif. Dalam pidatonya ia mengatakan kerjasama kaum kiri dengan Sarekat Islam yang disebutnya sebagai gerakan revolusioner yang amat besar dan muncul secara spontan2 .
Ia berpendapat kerjasama dengan kelompok Islam merupakan siasat yang taktis di dalam melawan kolonialisme dan imperialisme. Tan Malaka berargumen kalau thesis Lenin untuk memerangi Pan Islamisme yang dikemukakan pada Kongres Komintern ke-2 memberikan celah bagi pemerintah kolonial untuk memecah belah perlawanan terhadap imperialisme itu sendiri karena kekuatan utama dari gerakam komunisme di Indonesia pada zaman itu justru para buruh-buruh kecil muslim yang berafiliasi pada Sarekat Islam.
Tentu saja gagasan Tan tetap menghadapi penolakkan dari sebagian besar pemimpin Komintern, kendati pidatonya yang berapi-api itu selalu ditingkahi oleh tepuk tangan riuh dari para peserta kongres. Tan memang benar, Sarekat Islam merupakan organisasi muslim terbesar pada zamannya. Pada kurun 1912 – 1916, organisasi yang bermula dari perkumpulan pedagang muslim di Laweyan, Solo itu memiliki satu juta anggota.
Kerjasama komunisme dengan Islam merupakan kenyataan dalam sejarah Indonesia. Penerimaan kaum muslimin terhadap Islam (khususnya di Jawa) bukan semata karena paham sinkretisme yang dianut oleh sebagian masyarakat Jawa pada saat itu, melainkan pula adanya kebutuhan untuk menyatukan diri dalam satu gerakan menentang kolonialisme yang mencengkeram warga jajahan.
Tapi Tan Malaka menentang pemberontakan 1926 yang dimotori PKI dan diikuti oleh tokoh-tokoh muslim anggota Sarekat Islam. Di Banten3 misalnya, pemberontakan dipimpin oleh ketua Sarekat Islam setempat, KH. Achmad Chatib4, seorang ulama kharismatik dari Caringin. Pemberontakan juga terjadi di Silungkang, Sumatera Barat pada 19275. Perlawanan terhadap otoritas kolonial tersebut menjadi yang pertama dalam sejarah Indonesia moderen namun Tan tak sepakat karena menurutnya pemberontakan itu bersifat prematur.
Pemberontakan 1926 merupakan keputusan CC PKI pada konferensi Prambanan 25 Desember 1925. Dalam Penjara ke Penjara jilid I Tan Malaka menyalahkan keputusan itu karena 1). Diambil tergesa-gesa, kurang dipertimbangkan, 2). Cuma akibat provokasi lawan dan tidak seimbang dengan kekuatan diri sendiri, 3) Tak bisa dipertanggungjawabkan kepada rakyat dan komintern, 4). Tiada cocok dengan taktik strategi komunis, ialah massa aksi, 5). Akibatnya akan sangat banyak merugikan pergerakan di Indonesia dan lain-lain sebagainya6. Keberatan itu ia sampaikan melalui sepucuk surat kepada Alimin.
Tan Malaka merasa dilangkahi. PKI harusnya merundingkan terlebih dulu keputusan berontak kepada Tan sebagai wakil Komintern di Asia. Dengan demikian akan dicari jalan kerjasama dan musyawarah dengan berbagai Partai Komunis yang ada di Australia, Belanda, Amerika dan di Indocina. Mengutip Tan Malaka, Harry Poeze menjelaskan bahwa pemberontakan itu bernuansa anarkisme, oportunisme dan fanatisme terhadap taktik dan strategi pemberontakan.
Dia pun memutuskan untuk keluar dari PKI. Namun menurut Soemarsono7 keputusan Tan Malaka yang menolak keputusan konferensi Prambanan dan menyatakan keluar dari PKI merupakan tindakan indisipliner yang tak bisa ditolerir. “Sebagai anggota partai (PKI), seharusnya Tan Malaka patuh pada keputusan konferensi. Karena itulah keputusan tertinggi partai yang harus dijalankan oleh anggotanya,” kata Soemarsono.
Tapi Tan punya alasan kuat kenapa dia tak setuju pemberontakan. Hal tersebut telah lebih dulu ditulisnya dalam brosur Massa Actie. Menurut Tan pemberontakan yang dinyalakan oleh segelintir orang anarkis hanyalah impian seorang yang sedang demam. Mungkin Tan hendak mengatakan bahwa sebuah revolusi untuk kemerdekaan tak bisa dilakukan secara serampangan. Butuh dukungan situasi obyektif sebagai prasyarat bagi lahirnya revolusi itu sendiri. Ia menganjurkan pemboikotan terhadap industri-industri milik kaum imperialis jauh lebih baik daripada langsung melancarkan pemberontakan tanpa persiapan yang matang.
Mungkin Tan benar. Pemberontakan itu sendiri bubar di tengah jalan. Partai hancur sekali pukul. Pemimpin pergerakan banyak ditangkapi. Gerakan pun melemah. Namun pemberontakan itu sendiri menjadi salah satu pendorong bagi gerakan selanjutnya dalam bingkai sejarah revolusi di Indonesia. Pemberontakan 1926, betapapun mengalami kegagalan, turut mematangkan kondisi obyektif sebagai prasyarat terjadinya revolusi di Indonesia.
Sekeluarnya dari PKI, Tan Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok pada 1 Juni 1927. Partai itu tak berkembang. Mati suri begitu saja. Bertahun kemudian setelah pulang ke Indonesia, Tan Malaka sempat mendirikan Partai Murba.
Partai ini sempat mengikuti Pemilu 1955, namun tenggelam seiring waktu. Dia sendiri tak mau dijadikan ketua Partai Murba.
Tan tak memiliki kader-kader yang tangguh dan tangkas untuk mengejawantahkan pikiran-pikirannya. Anak-anak muda yang mengelilinginya pada zaman revolusi lebih cocok disebut sebagai simpatisan ketimbang sebagai kader yang siap membangun partai untuk bertarung dalam panggung politik di Republik yang baru lahir itu.
Hal itu sangat beralasan karena selama dalam pengasingan Tan Malaka tak sempat menjalankan kaderisasi dengan baik. Sederet yang boleh dibilang sebagai pengikuti setia Tan Malaka adalah Muh. Yamin, Sukarni, Adam Malik, Chairul Saleh dan Iwa Kusumasumantri. Sebagai pribadi, tentu masing-masing pengikut Tan Malaka itu adalah orang-orang besar dan tokoh terkemuka di zamannya. Namun ternyata itu tidak cukup untuk bisa membangun sebuah partai yang kuat dan tangguh.
Harus diakui bahwa lakonnya dalam panggung politik revolusi memang tak sesukses lakonnya sebagai pemikir besar. Buah pemikirannya meliputi beberapa hal mulai dari pendidikan, ekonomi, negara, dan kemasyarakatan. Banyak dari gagasan Tan Malaka yang ditulis delapan puluh tahun lalu masih tetap relevan bila melihat kondisi bangsa dewasa ini.
Dalam bidang pendidikan misalnya, Tan Malaka adalah penggagas sekolah rakyat khusus untuk anak-anak buruh dan anggota SI di Semarang. Dalam brosurnya, SI Semarang dan Onderwijs (1921) ia mengemukakan tujuan diadakannya pendidikan rakyat: 1). Memberi senjata cukup, buat pencari penghidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa Belanda, Jawa, Melayu, dsb). 2).Memberi Haknya murid-murid, yakni kesukaan hidup, dengan jalan pergaulan (vereeniging). 3). Menunjukan kewajiban kelak, terhadap pada berjuta-juta Kaum Kromo8.
Pendidikan kerakyatan buat Tan Malaka adalah senjata sekaligus modal bagi rakyat untuk merebut kekuasaan dari tangan pemilik modal. Pendidikan kerakyatan akan menumbuhkan kesadaran kelas dari anak-anak jelata bahwa bangsanya sedang dijajah. Tan melihat kalau anak-anak buruh tersebut pun memiliki bakat yang sama dengan anak-anak petinggi yang bersekolah di sekolah Belanda. Dalam brosur itu ia mengatakan kalau kurikulum di sekolah Belanda mengutamakan kemampuan imajinasi (menggambar) anak didiknya, maka hal itu pula yang harus dilakukan terhadap anak-anak kromo yang menjadi siswa di Sekolah SI.
Dalam brosur itu Tan menulis, Nah, kalau bangsa Eropa meninggikan betul kepintaran menggambar itu, lebih-lebih bangsa Belanda, kenapa tidak dikeluarkan kepandaian yang memang tersembunyi pada bangsa jawa itu? Jawabnya: barangkali sebab pabrik gula atau kantor post lebih suka sama yang pandai menyalin kopi, atau menghitung uang masuk dan keluar, dari pada sama orang, yang pandai menggambar Doso Muko9.
Berulangkali Tan Malaka menekankan pentingnya pendidikan bagi masyarakat Indonesia. Karena dengan jalan itu rakyat bisa berpikir rasional dan membebaskan dirinya sendiri dari keterbelakangannya. Upaya itu kembali ditunjukkannya lewat magnum opusnya, Materialisme, Dialektika dan Logika (Madilog). Pada karya yang ditulis di persembunyiannya di Rawajati, Kalibata itu Tan Malaka menerjemahkan sosialisme ilmiah sebagai epistemologi materialis untuk mengikis alam pikiran mistis dan takhayul yang masih terdapat pada sebagian besar alam pikiran masyarakat
Indonesia10.
Dalam Madilog Tan menulis bahwa timbul dan tumbangnya Indonesia sangat tergantung kepada industrinya. Pada industrilah ditemukan ilmu bukti yang mewujud dalam perkakas yang digunakan dalam industri itu sendiri. Untuk memajukan industri yang pada akhirnya memajukan penghidupan rakyat Indonesia, Tan Malaka menegaskan perlunya penguasaan ilmu bukti di atas segalanya terutama logika mistika yang mengungkung alam pikiran orang Indonesia. Tan Malaka juga mengemukakan kalau Indonesia yang merdeka 100 persen menjadi prasyarat utama berkembangnya ilmu bukti, tanpa campur tangan kaum imperialis dan kapitalis. Kalau Indonesia tidak merdeka, maka ilmu bukti itu akan terbelenggu pula11.
Agaknya Tan Malaka merujuk kepada pendidikan di Indonesia pada zaman politik etis diberlakukan. Politik Etis adalah program balas budi pemerintah Belanda terhadap rakyat jajahan yang telah membanting tulang dan memeras keringat demi pundi-pundi kekayaan negeri induk. Program itu, sebagaimana telah diketahui umum, meliputi tiga hal: irigasi, emigrasi dan edukasi. Program pendidikan yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial pada kenyataannya hanyalah bagian dari usaha menghasilkan tenaga-tenaga teknis rendahan yang bisa dipekerjakan di berbagai instansi pemerintahan dan perkebunan-perkebunan milik pengusaha swasta Belanda.
Tujuan pendidikan untuk membebaskan manusia dari keterbelakangan dan ketertinggalannya ternyata tidak sepenuhnya tercapai melalui program pendidikan politik etis itu. Pemerintah kolonial yang menguasai rakyat jajahan sama sekali tak berkepentingan membukakan cakrawala berpikir rakyat. Itulah yang menurut Tan Malaka penting untuk segera dirombak pada saat Indonesia mencapai kemerdekaanya.
Kemerdekaan yang dicapai melalui revolusi nasional, yang menentukan batas-batas politik sebuah negara, harus segera diikuti oleh revolusi alam pemikiran masyarakat Indonesia dari logika mistika ke cara berpikir rasional yang mengandalkan ilmu bukti.
Tan Malaka melihat masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, masih terpengaruh kuat oleh peninggalan alam pikiran masyarakat Hindu kuno yang mengedepankan cara berpikir yang tak berakar pada kenyataan di alam dunia ini.
Tan menyadari masyarakat agraris seperti di Jawa akan selamanya terbelenggu oleh dirinya sendiri selama tidak bisa membebaskan diri dari waham-waham takhyul.
Kemajuan sebuah bangsa dimulai ketika bangsa itu merdeka 100 persen dan berani menggunakan akal pikiran yang logis dan rasional. Pemikiran Tan senafas dengan Immanuel Kant, pemikir zaman Aufklaerung yang mengatakan bahwa “pembebasan manusia dari ketidakdewasaan yang diciptakannya sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan manusia untuk memakai pengertiannya sendiri tanpa pengarahan orang lain. Diciptakan sendiri berarti bahwa ketidakmatangan ini tidak disebabkan oleh kekurangan dalam akal budi, melainkan dalam kurangnya ketegasan dan keberanian untuk memakainya tanpa pengarahan dari orang lain. (Maka) beranilah menggunakan akal budimu sendiri. Sapere Aude!12 Itulah motto zaman pencerahan yang membebaskan warga Eropa dari sebuah zaman yang diwarnai kegelapan akal budi.
Tan ingin membawa rakyat Indonesia ke zaman pencerahan itu dengan syarat sebuah kondisi negeri yang merdeka 100 persen tanpa campur tangan penjajah hasil dari perjuangan aksi massa. Tapi apa daya Tan Malaka kecewa karena pemerintah Indonesia merdeka di bawah Kabinet Sjahrir justru menjalin perundingan dengan penjajah.
“Kalau ada maling masuk ke rumahmu, usir dia! Kalau perlu pukul. Jangan ajak dia berunding!” kata Tan Malaka seperti ditirukan oleh Adnan Buyung Nasution.
Prihatin dengan kondisi itu Tan Malaka mendirikan Persatuan Perjuangan (PP) pada 3 Januari 1946 di Purwokerto. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Indonesia pada 1922, Tan Malaka menjadi pembicara utama dalam sebuah kongres besar Persatuan Perjuangan yang menaungi 141 organisasi perjuangan. Melalui PP, Tan Malaka berhasil menyatukan sejumlah besar golongan yang berbeda keyakinan, taktik dan garis politik13. Dalam kesempatan Tan membeberkan program minimum14 PP yang mencakup tujuh inti pokok, antara lain berunding atas pengakuan kemerdekaan 100 persen, melucuti tentara Jepang, menyita aset perkebunan milik Belanda, dan menasionalisasi industri milik asing yang beroperasi di Indonesia. Tujuh inti pokok program itu merupakan respons langsung terhadap kinerja kabinet Sjahrir yang Tan nilai terlalu berkompromi terhadap kepentingan penjajah15.
Persatuan Perjuangan yang dibangunnya tak sekuat yang dibayangkan Tan Malaka.
Satu per satu anggota aliansi itu mengundurkan diri dan lompat pagar memilih bergabung dengan Sjahrir, salah satunya adalah Mohammad Natsir yang memutuskan untuk menerima tawaran Sjahrir menjadi menteri penerangan dalam Kabinet Sjarir II16. Persatuan Perjuangan yang semula tumbuh pesat sebagai kekuatan oposisi yang kuat perlahan mulai melemah. Pemerintahan Sjahrir kemudian meringkus Tan Malaka pada 17 Maret 1946 atas tuduhan sumir: mengacau keadaan dan berbicara serta bertindak menggelisahkan. Selang empat bulan kemudian beberapa gelintir anggota PP ditangkap terkait keterlibatan mereka dalam kudeta gagal pada 3 Juli 1946. Insiden itu menandai bubarnya PP.
Hubungan Sjarir dengan Tan Malaka memang unik dan sempat ditandai oleh keharmonisan sesaat. Setelah proklamasi kemerdekaan, Sjahrir cum suis sempat menawari Tan Malaka posisi ketua Partai Sosialis. Namun Tan Malaka menampik tawaran itu dengan alasan “tak ingin menjadi teman separtai kaum sosialis, yang kebanyakan masih mau berkompromi dengan kapitalis-imperialis itu.”17
Menurut Ben Anderson, pertempuran Surabaya pada pengujung 1945 merupakan titik terpenting bagi hubungan keduanya. Pertempuran yang berlangsung selama berbulan bulan itu membuat Sjahrir berpikir bahwa perundingan terhadap Inggris dan Belanda harus segera dilakukan demi menghindari pertumpahan darah lebih besar. Dalam risalahnya yang ditulis pada November 1945, Perdjoangan Kita, Sjahrir mengatakan kalau pemuda-pemuda kita kurang memiliki kecakapan memimpin kecuali hanya cakap sebagai “serdadu…berbaris, menerima perintah menyerang, menyerbu dan berjibaku.” Itulah yang menurut Sjahrir tak lain sebagai warisan pendudukan Jepang yang fasistis. Sjahrir cemas para pemuda dengan sikap fasistisnya itu justru akan merugikan perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaanya.
Tidak demikian dengan Tan. Setelah menyaksikan heroisme pemuda pada pertempuran di Surabaya Tan berpendapat justru itulah kekuatan bangsa Indonesia untuk mengusir penjajah dari negeri ini dan meraih kemerdekaan 100 persen tanpa proses berunding dengan Belanda. Pendapat Tan Malaka itu digoreskan dalam sebuah brosur berjudul Moeslihat yang terbit tiga pekan setelah risalah Sjahrir terbit.
Moeslihat dikarang secara dramatis dalam bentuk dialog antara wakil-wakil simbolis yang Tan Malaka harapkan bisa bersatu dalam satu gerakan perjuangan.
Pemikiran Tan Malaka tetap konsisten semenjak pertama kali ia menulis brosusr Massa Actie pada 1926. Ia bersikeras bahwa perjuangan bangsa Indonesia merebut dan mempertahakan kemerdekaan haruslah dilakukan dengan cara aksi massa.
Demarkasi revolusi,” demikian kata Tan Malaka, harus ditarik secara tegas untuk memisahkan penjajah dengan rakyat yang sedang berjuang meraih kemerdekaannya.
Garis demarkasi itu bukanlah suatu garis panjang “yang memiliki lebar” sehingga “borjuis-imperialis bisa berjabat tangan dengan borjuis-jajahan buat kerjasama dan menindas murba di Indonesia.”18
Kendati sempat kecewa karena berkolaborasi dengan Jepang, Tan Malaka justru menaruh harapan tinggi pada Sukarno yang telah mempraktikan jalan aksi massa untuk membangun kesadaran massa dan membangkitkan mereka dalam proses perjuangan merebut kemerdekaan. Sukarno memang pembaca karya-karya Tan Malaka dan jejak pemikiran Tan Malaka tentang aksi massa itu bisa dilihat dalam pidato pembelaannya di Landraad Bandung, Indonesia Menggugat.
Berbeda dengan Sjahrir dan Hatta, Sukarno kagum pada Tan Malaka. Oleh karena itu pula Sukarno sempat memberikan testamen politik kepada Tan Malaka untuk menggantikan dirinya seandainya sekutu menangkapnya. Tapi keputusan memberikan testamen itu dikoreksi oleh Hatta dengan membubuhkan tiga nama lain dalam surat wasiat itu, yakni Sjahrir, Wongsonegoro dan Iwa Koesoema Soemantri.
Tan Malaka memiliki kesamaan pikiran dengan Sukarno dalam soal bentuk negara Indonesia yang baru saja merdeka itu. Sukarno sempat melontarkan ide satu partai negara sementara Tan Malaka, sebagaimana bisa dibaca dari brosus Parlemen atau Soviet? (1921) menginginkan negara efisien yang dikelola oleh sebuah organisasi. Dia tak percaya pada trias politika ala Montesquieu yang menyandarkan jalannya sebuah pemerintahan pada tiga lembaga: eksekutif, legislatif dan yudikatif. Pemisahan itu justru akan menimbulkan kekacauan dan tak menghasilkan apa-apa kecuali rakyat yang semakin terpinggirkan oleh kekuasaan.
Parlemen kata Tan Malaka cuma perkakas saja dari yang memerintah. Tan curiga kalau parlemen hanya dijadikan alat transaksional saja dari kaum borjuasi dan meninggalkan rakyat dengan segala penderitaannya. Parlemen juga menurut Tan, betapa pun terdapat wakil golongan rakyat di dalamnya, hanya yang kuat dalam perjuangan ekonomilah yang akan berkuasa dalam Parlemen19. Dengan kata lain hanya mereka yang punya uanglah yang akan menguasai parlemen dan kapital yang mereka miliki tak lain hasi dari memerah keringat rakyat kecil.
Tan menganjurkan agar Negara diatur oleh sebuah organisasi tunggal yang terbagi atas fungsi-fungsi sebagai pelaksana, pengawas dan peradilan. Organisasi tunggal itu memiliki struktur dari tingkat tertinggi sampai terendah di daerah-daerah. Organisasi itu menjadi pembuat garis kebijakan, sekaligus melaksanakan program dan mengawasinya. Untuk menghindari supaya organisasi tidak menjadi tiran, pemilihan para pemimpin organisasi itu harus dilakukan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama sehinga tak ada kesempatan buat mereka untuk menjadi tirani kekuasaan.
Namun baik ide Sukarno dan Tan Malaka pupus seiring diberlakukannya maklumat Wakil Presiden Hatta Nomer X/1945 yang membuka keran demokrasi dengan jalan mendorong pembentukan banyak partai. Tan tak setuju ini karena pembentukan partai akan berujung kepada parlemen. Ide Tan memang tak sempat direalisasikan namun dugaannya bahwa parlemen akan menjadi alat penguasa saja memang terbukti, khususnya pada zaman Orde Baru di mana anggota DPR hanya jadi tukang stempel buat kebijakan pemerintah.
Tan Malaka sempat menaruh harapan bahwa jalan perjuangan Indonesia merdeka akan sepenuhnya menyandarkan kekuatan pada perlawanan fisik. Namun perubahan konstelasi politik, khususnya ketika kabinet Sjahrir dan Amir Sjarifuddin menjalin perundingan dengan Belanda, memupuskan harapannya. Di penjara Madiun dia menulis lagi sebuah brosur yang cukup menarik yang menawarkan solusi kepada rakyat untuk melakukan perlawanan semesta terhadap penjajah.
Pada brosur Gerilya Politik Ekonomi (Gerpolek)20 itu Tan Malaka membagi periode alam kemerdekaan Indonesia menjadi dua: musim Jaya Bertempur dan musim Runtuh Berdiplomasi. Muslim Jaya Bertempur jatuh antara 17 Agustus 1945 sampai 17 Maret 1946. Selebihnya adalah musim Runtuh Berdiplomasi seiring dengan perundingan-perundingan yang dilakukan sejak Linggarjati sampai dengan Konferensi Meja Bundar yang secara telak membuktikan bahwa dugaan Tan Malaka benar.
Dalam Gerpolek Tan Malaka menyuguhkan fakta kalau perundingan justru merugikan bangsa Indonesia. Wilayah Indonesia menyusut hanya Jawa saja. Kekayaan alam Indonesia pun kembali dikuasai oleh penjajah. Padahal, setelah revolusi Agustus, rakyat sempat menguasai itu. Tahapan revolusi yang terputus yang seharusnya dilajutkan kepada revolusi sosial di tiap daerah semakin mendatangkan kerugian bagi rakyat Indonesia. Oleh karena itu Tan mengajak rakyat untuk melakukan perang semesta dengan mengunakan taktik gerilya dan sabotase terhadap simpul-simpul
kekuatan militer lawan.
Sukarno memang sempat melakukan nasionalisasi terhadap perkebunan-perkebunan milik asing pada 1950-an. Tapi keputusan mendudukan tentara sebagai pimpinan di berbagai perkebunan dan industri asing itu malah mendatangkan “kecelakaan sejarah”. Beberapa klik di dalam tentara justru menjalin hubungan rahasia dengan pihak negeri imperialis. Itu terbukti pada tahun 1965, ketika Sukarno dikudeta dan Suharto mengambil alih tampuk kepemimpinan. Perusahaan asing yang semula milik bangsa Indonesia kembali dimiliki oleh pihak asing, khususnya Belanda, Inggris dan Amerika.
Karena keteguhan sikapnya dan aksi frontal dalam menentang sesuatu hal yang menurutnya tidak ideal, ia diperlakukan sebagai onak dalam daging bagi kelompok-kelompok yang berseberangan dengannya. Pembunuhan terhadap Tan Malaka yang dilakukan oleh bangsanya sendiri menjadi kisah ironi dalam sejarah Indonesia.
Warisan terbesar dari Tan Malaka adalah gagasan cemerlangnya untuk membawa rakyat Indonesia meraih kemerdekaannya yang sejati, bebas dari segala macam bentuk penindasan. Dengan segala kekurangannya, Tan Malaka adalah manusia komplet: pemikir tangguh dan pejuang yang ulet.
* Disampaikan dalam Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB), Megawati Institute. Jakarta, 20 Juli 2011.
1 Pemimpin redaksi majalah Historia online (www.majalah-historia.com).
2 Tan Malaka, Komunisme dan Pan Islamisme, naskah pidato pada Kongres Ke-4 Komintern, Moskwa, 12 November 1922. Naskah ini dipublikasikan di www2.cddc.vt.edu/marxists/indonesia/archive/malaka/1922-PanIslamisme.htm. Pada saat berpidato inilah Tan Malaka mengemukakan pandangannya terhadap Tuhan. Ia mengatakan, “Als Ik voor de God sta, Ik ben een moslem. Als Ik voor de mensen sta, Ik ben geen moslim. Omdat God heeft gezegt dat onder de mensen vele duivels te zijn. Saat saya berdiri di hadapan Tuhan, saya seorang muslim. Saat saya berdiri di hadapan manusia, saya bukan seorang muslim. Karena Tuhan telah mengatakan kalau di antara manusia itu banyak setannya”.
3 Untuk lebih lebih lengkap mengenai Pemberontakan PKI di Banten 1926 silahkan baca Michael C Williams, Arit dan Bulan Sabit Pemberontakan Komunis di Banten 1926 (Yogyakarta: Syarikat Indonesia, 2003).
Setelah pemberontakan ini Pemerintah Kolonial membuka penjara Digul untuk menahan actor-aktor pemberontakan. Gulag itulah yang kemudian digunakan untuk menahan pemimpin gerakan lainnya.
4 KH Achmad Chatib menjadi ketua Sarekat Islam di Banten setelah Hassan Djajadiningrat. Peralihan kepemimpinan SI dari tangan Djajadiningrat pada 1920 kepada Chatib membuka peluang radikalisasi SI Banten. SI yang semula tak begitu populer di kalangan rakyat karena terkesan elitis berubah seiring gaya kepemimpinan Chatib yang lebih populis. Namun pada 1919, atas tuduhan terlibat insiden afdeling B di Cimareme, SI pimpinan Chatib harus beroperasi secara klandestine. Pada zaman revolusi, Chatib menjadi residen Banten pribumi pertama. Ia berteman baik dengan Tan Malaka yang selama di
Banten menggunakan nama samaran Iljas Husein.
5 Mengenai pemberontakan PKI di Silungkang silahkan baca Mestika Zed, Pemberontakan komunis silungkang 1927 : Studi Gerakan Sosial di Sumatera Barat (Yogyakarta: Syarikat Indonesia, 2004)
6 Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara jilid I (Jakarta: Teplok Pers, 2000) hlm. 234-235.
7 Wawancara Soemarsono, 16 September 2010. Soemarsono adalah tokoh pemuda dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Anggota PKI yang memiliki hubungan dekat dengan Amir Sjariffuddin. Pada saat di Surabaya, Soemarsono mengaku pernah didatangi Tan Malaka, bahkan Tan menginap di pondokan Soemarsono selama dua pekan. Soemarsono menilai Tan Malaka sebagai orang yang gemeene (Bld:buruk prilakunya, tak bisa dipegang kata-katanya). Kini menetap di Melbourne, Australia.
8 Tan Malaka, SI Semarang dan Onderwijs (Jakarta: Yayasan Massa, 1987). Diketik ulang dan dipublikasikan di www2.cddc.vt.edu/marxists/indonesia/archive/malaka/
9 Ibid.
10 Ignas Kleden, “Sutan Sjahrir: Titian Sosialisme ke Demokrasi” kolom dimuat di Majalah TEMPO edisi khusus Sjahrir (9-16 April 2009).
11. Tan Malaka, Materialisme, Dialektika dan Logika (Jakarta: Penerbit LPPM Tan Malaka, 2008) Hlm.51.
12 Dikutip dari Ignas Kleden dalam pengantarnya untuk buku Etika Pembebasan karya Soedjatmoko (Jakarta: Penerbit LP3ES, 1984) Hlm. XII. Mengutip dari “Idee zu einer allgemeinen Geschichte in weltbuer gerlicher Absicht” yang dimuat dalam Immanuel Kant, Kleinere Schriften zur Geschichtsphilosophie, Ethik und Politik (Hamburg: Felix Meiner Verlag, 1973).
13 Bonnie Triyana, “(Bukan) Seseorang dalam Arus Utama Revolusi” kolom di Majalah TEMPO edisi khusus Tan Malaka (17 Agustus 2008).
14 Program Minimun PP yang dikemukakan oleh Tan Malaka segera diimbangi oleh Sjahrir dengan meluncurkan Lima Program Pokok yang kemudian dikenal sebagai Lima Pokok Sukarno. Isi dari Lima Pokok Sukarno itu mengakomodasi program tujuh inti pokok PP.
15 Mengenai konflik politik Sjahrir versus Tan Malaka silahkan baca Ben Anderson, Revolusi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944 – 1946 (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988) Hlm. 341 – 363.
16 Bonnie Triyana, “Natsir: Manusia Lurus yang Sesekali Berbelok” dimuat di jurnal hukum Jentera edisi 20, Januari – April 2010. Hlm. 130 – 138.
17 Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara jilid III (Jakarta: Teplok Pers, 2000) Hlm. 179.
18 Ibid. Hlm. 204.
19 Tan Malaka, Parlemen atau Soviet? Diketik ulang dan dipublikasikan di www2.cddc.vt.edu/marxists/indonesia/archive/malaka/

20 Tan Malaka, Gerpolek: Gerilya Politik-Ekonomi (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000).

 
Leave a comment

Posted by on August 11, 2011 in Nasionalis

 

TAJAMNYA PENA SEORANG TIRTO ADHI SOERJO

Oleh I K Guna Artha

Raden Mas Tirto Adhi Soerjo adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan Bumiputera mengingat istilah Indonesia sendiri baru dikenal pada tahun 1922, Beliau dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan. Namanya sering disingkat T.A.S. Lahir pada 1880 di Blora – Jawa Tengah, dengan nama kecilnya sebagai Djokomono “………….aku, si Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Tapi aku tak suka itu pake nama ‘Raden Mas’. Sangat feudal”. Demikian kira-kira ungkapan seorang Tirto Adhi Soerjo atas feodalisme.Tirto Adhi Soerjo adalah putra dariRaden Mas Tirtonoto, bupati Bodjonegoroyang masih kerabat R.A. Kartini. Abangnya adalah Raden Mas Said, bupati Blora tokoh social reform. Saat itu beliau telah menyelenggarakan sekolah untuk kaum perempuan disaat patriliniar kuat menempatkan kaum perempuan kedudukannya “dibawah” laki-laki. Abangnya yang lain adalah Raden Tirto Adi Koesoemo seorang jaksa di Rembang. Sepupunya adalah Raden Mas Brotodiningrat seorang bupati Madiun. Mengingat anak seorang bupati dari keluarga “ningrat” maka bernasib baik dibanding pribumi lainnya yang memberi kesempatan kepada seorang Tirto dapat mengenyam pendidikan di STOVIA Jakarta. Namun tak menamatkan sekolahnya karena alasan yang kurang jelas kemudian memilih menjadi seorang penulis yang memiliki cita-cita idealis demi kebangkitan Bumiputera (pribumi) untuk membela bangsa tertindas. Perjuangannya dengan “pena bermata belati” telah membuka sejarah jurnalisme dengan mengawalinya melalui surat kabar Soenda Berita (1903) yang masa itu seluruh penerbitan surat kabar dikuasai orang Indo Eropa dan Tionghoa. Soenda Berita berfokus pada pemberitaan seputar masalah pertanian, perdagangan, kesehatan dan hukum (staatblad melajoe) yang menterjemahkan lembar negara pemerintah kolonial dalam bahasa Melayu. Dengan demikian medekatkan seorang T.A.S. dengan masyarakat. Pada Januari 1904 T.A.S. bersama H.M. Arsad dan Oesman mendirikan badan hukum N.V. Javaansche Boekhandel en Drukkerij en handel in schrijfbehoeften Medan Prijaji. Ini dicatat sebagai N.V. pribumi pertama dan sekaligus NV pers pertama dengan modal sebesar f 75.000. Beralamat di jalan Naripan Bandung yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK). Dengan bermodal tersebut terbitlah Medan Prijaji (1907) sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu, dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi. Yang menarik adalah bahwa sebagai seorang yang menjadi bagian keluarga priyayi yang berkedudukan, bahwa T.A.S. memulai kegiatan usaha perdagangan/bisnisnya tanpa bantuan modal dari keluarga. Beliau dapatkan dari pinjaman bank dan kemampuan menghimpun dana dari masyarakat. Dan bukan sebatas sekedar berdagang namun membangun kekuatan ekonomi untuk kesetaraan dalam penguasaan ekonomi kolonial. Yang kemudian kelak ditahun 1909 mendirikan Sarekat Dagang Islam di Batavia (Jakarta sekarang) dan tahun 1910 di Buitenzorg (Bogor sekarang). Sarekat Dagang Islam sendiri dirintis di Surakarta oleh Haji Samahudi tahun 1905 dengan tujuan perserikatan pedagang pribumi untuk melawan dominasi Tionghoa.

Ketika pertama kali terbit di Bandung, “Medan Prijaji” mencantumkan moto “Ja’ni swara bagai sekalijan Radja2. Bangsawan Asali dan fikiran dan saoedagar2 Anaknegri. Lid2 Gemeente dan Gewestelijke Raden dan saoedagar bangsa jang terperentah lainnja jang dipersamakan dengan Anaknegri di seloereoeh Hindia Olanda”. Delapan asas yang diturunkan Tirto Adhi Soerjo di halaman muka edisi perdana, antara lain memberi informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, tempat orang tersia-sia mengadukan halnya, mencari pekerjaan, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi dan mengorganisasikan diri, membangunkan dan memajukan bangsanya, serta memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan. Menurut buku Sejarah Pers Sebangsa, nama-nama pengelola Medan Prijaji ialah adalah Tirto Adhi Soerjo sebagai pemimpin redaksi (hoofdredacteur), dengan redaktur A.W. Madhie, Raden Tjokromidjojo, Raden Soebroto (ketiganya dari Bandung), R.M. Prodjodisoerjo dan R. Kartadjoemena di Bogor, dan Paduka tuan J.J. Meyer, pensiunan Asisten Residen di Gravenhage, sebagai redaktur di Belanda. Juga disebut adanya beberapa jurnalis Begelener dan Hadji Moekti.Mengingat T.A.S. menganjurkan kemandirian berusaha sebagai prasyarat untuk membebaskan diri dari cengkeraman kapitalis penjajah maka melalui usaha perdagangan diperlukan usaha mandiri untuk mencetak Medan Prijaji. Dengan pengetahuan dan pengalaman niaganya, diwajibkan bagi calon pelanggan untuk terlebih dahulu membayar uang muka berlangganan selama satu kuartal, setengah, atau satu tahun, yang saat ini kita kenal dengan sebutan saham. Dilobinya beberapa pangrehpraja yang tertarik dengan gagasannya. Jadilah dua orang penyumbang dana besar, yakni Bupati Cianjur R.A.A.Prawiradiredja dan Sultan Bacan Oesman Sjah. Masing-masing menyumbang f 1.000 dan f 500.Kemudian menerbitkan Soeloeh Keadilan, dan Poetri Hindia (1908). Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum (Sudarjo Tjokrosisworo dalam bukunya Sekilas Perjuangan Suratkabar – November 1958). Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. Menyadarkan bangsa pribumi tentang hakekat penjajahan yang sangat merugikan bangsa dan berusaha melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang dilakukan pemerintah kolonial.Salah satu kasus terkenal adalah perkara di Kawedanan Cangkrep Purworejo. Pada tahun 1909, T.A.S. membongkar skandal yang dilakukan Aspiran Kontrolir Purworejo, A. Simon dengan Wedana Tjorosentono yang mengangkat lurah Desa Bapangan yang tak memperoleh dukungan warga. Sementara kandidat pertama yang didukung, Mas Soerodimedjo, malah ditangkap dan dikenakan hukuman krakal. Terbakar oleh amarah melihat penyalahgunaan wewenang itu T.A.S. menyebut pejabat tersebut sebagai monyet penetek atau ingusan dalam Medan prijaji No 19, 1909. Investigasi atas kasus itu didukung 236 warga Desa Bapangan dan warga ini pula mengirim surat kepada T.A.S. yang berisi dukungan pasang-badan kalau-kalau T.A.S. kena denda atas tulisannya. Delik pers pun terjadi, T.A.S. dituduh menghina pejabat Belanda, terkena Drukpersreglement 1856 (ditambah Undang-undang pers tahun 1906). Meskipun T.A.S. memiliki forum privilegiatum (sebagai ningrat) ia dibuang ke Teluk Betung, Lampung, selama dua bulan. Tapi dari kasus itu, Medan Prijaji mendapat perhatian pers di Belanda dan T.A.S. berkesempatan berkenalan dengan Anggota Majelis Rendah Belanda Ir HH van Kol dan pemuka politik etik Mr C Th van Deventer. Medan Prijajipun dipasarkan hingga di daratan Eropa.Dari sepak terjang itu Medan Prijaji pun menjadi model pertama dari apa yang kelak disebut sebagai surat kabar pergerakan, mendahului

Sarotomo, Soeloeh Indonesia, ataupun

Daulat Ra’jat. Yang khas Medan Prijaji terletak pada kegiatannya yang tak berhenti dengan sekadar memberitakan sebuah peristiwa atau kebijakan yang merugikan publik, namun terjun langsung menangani kasus-kasus yang menimpa si kawula. Medan Prijaji menjadi pelopor dari genre jurnalisme, yang puluhan tahun kemudian dikenal dengan sebutan

jurnalisme advokasi.

Pada tahun 1910 di Betawi, “Medan Prijaji” terbit tiap hari kecuali hari Jumat dan Minggu dan hari raya. Dicetak di percetakan Khong Tjeng Bie, Pancoran, Betawi. Rubrik yang paling digemari adalah surat dan jawaban serta penyuluhan hukum gratis yang disediakan Medan Prijaji kepada rakyat yang berperkara. Usaha inilah yang menjadikan koran ini berkembang. Simpati pun datang melimpah hingga pada tahun ketiga terbitannya, Medan Prijaji berubah menjadi harian dengan 2000 pelanggan yang menurut laporan Rinkes: “untuk harian Eropa di Hindia pun sudah merupakan jumlah bagus, lebih-lebih untuk harian Melayu.”Ketika pertama kali terbit menjadi harian tetap, mengambil tahun IV karena tahun I, II, dan III masih mingguan yang terbit di Bandung, di bawah judul surat kabar harian Medan Prijaji itu tertulis moto: “Orgaan boeat bangsa jang terperentah di H.O. Tempat akan memboeka swaranya Anak-Hindia”. Di zaman itu, merupakan sebuah keberanian luar biasa mencantumkan moto demikian. Seorang T.A.S. berpikir bahwa bangsa Hindia dipersatukan bukan oleh kesamaan agama, etnik atau hubungan darah tapi oleh kesamaan pengalaman sebagai “orang terperintah”. Berangkat dari kesamaan tersebut mendorong lahirnya jaman “pergerakan” sebelum sejarah mencatat era “kebangkitan” nasional. Dalam pemikiran T.A.S. bahwa penjajahan dapat eksis karena feodalisme dan penguasaan sumber-sumber ekonomi oleh perusahaan Belanda saat itu karena lemahnya kontrol kaum priyayi.Medan Prijaji mengambil posisi sebagai corong suara publik. Sebagai aktivis pergerakan, tulisan-tulisan T.A.S. dalam Medan Prijaji tak pernah berbasa-basi, tapi menunjuk muka langsung. Hampir tak ada satu pun kebijakan kolonial yang dirasa memberatkan rakyat yang lolos dari pemberitaan Medan Prijaji. Di seluruh karesidenan Jawa, Medan Prijaji bukan lagi teman, tapi benar-benar medan berkelahi. Di Banten, Rembang, Cilacap, Bandung, diperkarakannya banyak hal. Pemberitaan-pemberitaan Medan Prijaji sering dianggap menyinggung pemerintahan Kolonial Hindia Belanda saat itu. Nomor terakhir terbit 3 Januari 1912 tahun VI. Pada 23 Agustus 1912 Medan Prijaji pun ditutup. T.A.S. juga dituduh menipu sejumlah orang yang berhimpun di Vereeniging van Ambtenaren bij het Binnenlandsch Bestuur (Perhimpunan Amtenar Pangreh Praja). Dua bulan setelah tutup, Jaksa Agung Hindia Belanda A Browner menjatuhkan vonis bahwa T.A.S. bersalah telah menulis penghinaan kepada Bupati Rembang. Medan Prijaji terkena delik pers yang dianggap menghina Residen Ravenswaai dan Residen Boissevain yang dituduh menghalangi putera R. Adipati Djodjodiningrat (suami R.A. Kartini) menggantikan ayahnya. T.A.S. pun dijatuhi hukuman pembuangan ke pulau Bacan, wilayah Halmahera selama 6 bulan, namun baru diberangkatkan setahun kemudian karena masalah perekonomian penerbitan Medan Prijaji dengan para krediturnya.Sekembali dari Ambon, T.A.S. tinggal di Hotel Medan Prijaji (ketika ia sedang di Ambon namanya diubah menjadi Hotel Samirono oleh Goenawan). Akibat mengalami pengasingan di tahun 1915 praktis mebuatnya tersingkir dari panggung gerakan nasionalis. KemudianT.A.S. sakit-sakitan dan akhirnya meninggal pada tanggal 7 Desember 1918. Adalah seorang Marco Kartodikromo, murid sekaligus pegawainya penah menulis obituari singkat tentang sosok T.A.S. di Sinar Hindia beberapa waktu kemudian namun setelah itu namanya hilang dalam catatan sejarah. Namanya mulai terangkat ketika Ki Hajar Dewantara mencatat tentang diri Tirto Adi Soerjo yang menulis buku kenang-kenangannya pada tahun 1952, sebagai berikut: “Kira-kira pada tahun berdirinya Boedi Oetomo ada seorang wartawan modern, yang menarik perhatian karena lancarnya dan tajamnya pena yang ia pegang yaitu almarhum R.M. Djokomono, kemudian bernama Tirto Adi Soerjo, bekas murid STOVIA yang waktu itu bekerja sebagai redaktur harian Bintang Betawi (yang kemudian bernama Berita Betawi) lalu memimpin Medan Prijaji dan Soeloeh Pengadilan. Ia boleh disebut pelopor dalam lapangan jurnalistik.”T.A.S. sampai waktu yang cukup lama menghilang dari narasi sejarah Indonesia tapi bukan berarti bahwa “perannya” dalam membangun kesadaran rakyat Hindia sebagai kaum tertindas kurang penting dibanding organisasi Budi Utomo. Ini semata untuk memahami bagaimana bangsa ini terbentuk dan berkembang dalam pemikiran dan praktek. Dalam pemikirannya yang mendukung diruntuhkannya tembok feodalisme dengan menjatuhkan kekuasaan raja-raja, namun dilain pihak seorang T.A.S. menginginkan prinsip persamaan di depan hukum diberlakukan bagi tanah jajahan. Tirto Adhi Soerjo juga mendapat tempat yang banyak dalam laporan-laporan pejabat-pejabat Hindia Belanda, terutama laporan Dr. Rinkes. Ini disebabkan karena T.A.S. memegang peranan pula dalam Sarekat IslamKisah perjuangan T.A.S. diabadikan oleh Pramoedya Ananta Toer (PAT) selepas keluarnya dari pembuangan pulau Buru awal tahun 1980-an. Ditulis dengan nama Minke dalam buku Tetralogi Buru, empat buku tebal yang berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Selain Tetralogi PAT pun menulis kekagumannya atas T.A.S. dalam buku Sang Pemula. Entah alasan pemerintah saat itu apa sehingga karya Tetralogi PAT dilarang terbit dan beredar. Sejak reformasi bergulir buku-buku PAT banyak dicetak ulang dan beredar secara bebas. Karya PAT tentang Minke sebagai Tirto Adhi Soerjo ini sudah banyak diterjemahkan di luar negeri, hingga 33 bahasa, diakui internasional di berbagai negara sebagai sebuah karya sejarah yang apik. Selain berlatar belakang sejarah yang tentunya lebih menarik sebagai referensi pelajaran sejarah di sekolah, PAT menggambarkan manusia Indonesia dengan keadaan feodal dan sistem kolonialnya. Tak hanya kronologi era Kebangkitan Nasional Indonesia dipaparkan lebih membumi dengan bahasa yang sederhana, PAT juga menggambarkan kisah cinta seorang manusia yang sederhana, tidak muluk-muluk, saat Minke bertemu dengan Annelies, sang Bunga Akhir Abad. Mengingat jasanya beliau dinyatakan sebagai Perintis Pers Indonesia tahun 1973 oleh Dewan Pers RI, dan pemerintah mengukuhkannya sebagai Bapak Pers Nasional. Takashi Shiraishi lewat buku Zaman Bergerak (1990) menyebut Tirto Adhi Soerjo sebagai orang bumiputra pertama yang menggerakkan bangsa melalui bahasanya lewat Medan Prijaji. Tahun 2006 Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PPKK) Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran (Lemlit Unpad) mempelajari tiga calon pahlawan nasional dari Jawa Barat yaitu R. Soepriadinata, R.M. Tirto Adhi Soerjo, dan K.H. Noer Ali. Dan akhirnya pada tanggal 3 November 2006, Tirto Adhi Soerjo mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres RI no 85/TK/2006. Atas jasa-jasanya itu pula, pemerintah RI menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana http://www.nasionalisperjuangan.org

 
Leave a comment

Posted by on August 9, 2011 in Nasionalis

 

BUNG KARNO DAN API REVOLUSI

Dilahirkan dengan nama Kusno saat fajar menyingsing tanggal 6 Juni 1901 dari ayah Raden Sukemi Sostrodihardjo asal Blitar dan Ibu Ida Nyoman Rai Sarimben asal Singaraja Bali. Menyelesaikan pendidikan ELS (Europeesche Lagere School) di Mojokerto. Ketika berumur 16 tahun mulai tersentuh rasa kebangsaannya dengan mendirikan perkumpulan politik dengan nama Tri Koro Dharmo, tiga tujuan suci meliputi kemerdekaan politik, ekonomi dan sosial.

Dalam pertemuan Studie Club kelompok studi yang membahas buah pikiran dan cita-cita, ketika ketuanya menyatakan bahwa menjadi suatu keharusan generasi saat itu harus menguasai bahasa Belanda maka Soekarno muda tergerak hasratnya untuk memberanikan angkat bicara dengan mengatakan “tidak”. Soekarno muda berpendaat bahwa yang pertama harus kita kuasai adalah bahasa kita sendiri. Marilah kita bersatu untuk mengembangkan bahasa Melayu! Hal ini tentu sikap yang tidak populis ketika mereka bersekolah di HBS (Hogere Burger School) Surabaya  yg mana mayoritas siswanya adalah Belanda. Berikutnya adalah ketika Soekarno muda diberi kesempatan mewakili H.O.S. Cokroaminoto untuk mengahadiri sebuah pertemuan. “di tanah yang subur rakyat kita kekuarangan makan dan melarat. Penjajah tak mau menanam uang kembali untuk memperkaya bumi yang mereka peras. Saya pergi tidur dengan pikiran untuk merdeka. Saya bangun dengan pikiran untuk merdeka. Dan saya akan mati dengan cita-cita untuk merdeka!”. Lalu Soekarno muda diangkat menjadi sekretarsi Jong Java dan beberapa waktu kemudian menjadi ketua. Mulai menulis di majalah Oetoesan Hindia degan nama samaran Bima. Lulus dari HBS tanggal 10 Juni 1921. Saat temen-temannya lulusan HBS mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan universitas di Belanda, Soekarno muda lebih memilih Sekolah Tinggi Teknik (Thecnische Hooge School) di Bandung yang sekarang kita kenal Institut Teknologi Bandung.

Di Bandung Soekarno melahirkan Marhaenisme terinspirasi oleh petani miskin dengan segala keterbatasan dengan hasil yang minim. Marhaenisme beliau difinisikan sebagai sosialisme Indonesia dalam praktek. Di tahun 1922 dalam rapat besar (Radicale Concentratie) di alun-alun kota Bandung yang diorganisir oleh seluruh organisasi kebangsaan dimana setiap pemimpin senior wakil-wakil/ketua setiap partai berpidato, medorong Soekarno muda untuk minta ijin bicara. ”Kalau Belanda tetap menutup mulut kita dan kita tidak diperbolehkan untuk mencari jalan keluar bagi perasaan-perasaan kita yang sudah penuh, maka akan terjadi pula ledakan dengan kita. Dan ketika perasaan kita meletus maka Den Haag akan terbang ke udara. Ayo kita berhenti mengemis dan kita berteriak, Tuan Imperialis, inilah yang kami tuntut!” Jelas sekali disini sikap Soekarno muda yang non koorporatif dengan Imperialisme. Sementara pemimpin-peminpin seniornya lebih kepada perjuangan yang koorperatif. Mendapatkan gelar Insinyur pada tanggal 25 Mei 1926 dan mulailah Soekarno mengkampanyekan Nasionalisme Terpimpin (Demokrasi Terpimpin) dengan menanggalkan gelar Radennya dan lebih senang dipanggil Bung Karno dan menerbitkan majalah perkumpulan Suluh Indonesia Muda.

Tanggal 4 Juli 1927 Bung Karno mendirikan Partai Nasional Indonesia dengan tujuan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia sepenuhnya dengan segera. Dengan prinsip non koorporatif Bung Karno menggelorakan gerakan revolusioner secara terbuka untuk melawan pemerintahan Hindia Belanda. Hingga tahun 1928 Bung Karno terus melakukan konsolidasi dalam menyampaikan propaganda poltiknya, memperluas struktur organisasi PNI, memperluas basis dukungan hingga ke daerah. Tiada momen yang terlewatkan oleh Bung Karno menyampaikan pidato-pidato politiknya dan bersumpah akan menggulingkan pemerintahan penghisap, Hindia Belanda. Oleh karenannya beliaupun mendapat gelar sebagai Singa Podium. Pada tanggal 28 Oktober 1928 bersama organisasi kebangsaan mengikrarkan Sumpah Pemuda, Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa dan untuk pertama kalinya menyanyikan Indonesia Raya. Dipenghujung tahun 1928 Bung Karno membentuk Pemufakatan Perhimpunan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Keberadaan PNI dan PPPKI memposisikan Bung Karno semakin memiliki legitimasi rakyat dalam menyulutkan api revolusi dengan satu tujuan besar yakni menggulingkan pemerintahan kolonial. Pasca berpidato di Madiun ini Gubernur Hindia Belanda memberikan pengawasan ekstra terhadap sepak terjang Bung Karno.

Dalam kesempatan pertemuan di Solo tahun 1929, Bung Karno telah memprediksikan bahwa ketika perang pasifik meletus maka saat itu kemerdekaan Indonesia bisa diraih. Namun malam itu menjadi hari naas bahwa polisi Belanda menangkap Bung Karno dan kawan-kawan tanggal 29 Desember 1929 dan dijebloskan ke penjara Banceuy sebelum diadili 18 Agustus 1930. Bung Karno pun diadili dengan tuduhan makar, mempersiapkan rencana jahat untuk menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda. Dimuka pengadilan Landraad, Bung Karno menyampaikan pledoinya yang kita kenal dengan “Indonesia Menggugat”. Dalam pembelaannya Bung Karno menolak tuduhan atas dirinya dalam mengadakan rencana rahasia untuk mengadakan pemberontakan bersenjata. Dan pengadilan menvonis 4 tahun dan menjebloskan Bung Karno ke penjara Sukamiskin serta menyatakan PNI sebagai partai terlarang. Sementara itu “Indonesia Menggugat” tersebar ke seluruh pengadilan di Eropa mengakibatkan banyak protes atas penahanan Bung Karno atas tuduhan yang tak pernah bisa dibuktikan dan akhirnya Bung Karno dibebaskan tanggal 31 Desember 1931.

Tanggal 28 Juli 1932 Bung Karno dipilih sebagai ketua Partai Indonesia (Partindo). Di masa ini Bung Karno diberi julukan sebagai Penyambung Lidah Rakyat indonesia. Melalui Partindo pengganti PNI Bung Karno kembali memperoleh kendaraan dalam menyampaikan propaganda politinya, beliau menulis brosur Mencapai Indonesia Merdeka. Dan karena diangap menghasut maka segera Belanda melarangnya. “Seorang pemimpin tidak akan berubah karena hukuman. Saya masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan saya meninggalakan penjara dengan pikiran yang sama”. Keteguhan sikap Bung Karno ini pasca terbebas dari Sukamiskin malah menghantarkannya kembali dalam tahanan. Beliau ditangkap kembali tanggal 1 Agustus 1932 diberi kesempatan bertemu orang tuanya dan selanjutnya diasingkan ke Endeh, Pulau Bunga ditemani istrinya Inggit Ganarsih. Ya…Bung Karno dikurung pikirannya dalam keterasingan jauh dari nafas pergerakan di Jawa. Tanpa kehilangan semangat Bung Karno membangun komunitas dalam keterasingan dengan mendirikan perkumpulan Sandiwara Kelimutu. Dalam lakon-lakonnya Bung Karno ingin menyampaikan pesan bahwa tubuh Indonesia yang sudah tak bernyawa dapat bangkit dan hidup kembali. Naskah yang lainnya ada yang melukiskan keyakinan Bung karno akan kemerdekaan yang berjudul Indonesia 1945. Dipindahkan ke Bengkulu karena menderita malaria di bulan Pebruari 1938.

Disini di tahun 1941 Bung Karno menulis dalam Harian Pemandangan, surat khabar milik Anwar putra H.O.S. Cokroaminoto. “Patriotisme tak bisa disandarkan pada nasionalisme dengan pengertian kebangsaan yang sempit” disini Bung Karno mengecam fasisme Nazi Hitler, Mussolini. Tgl 12 Pebruari 1942 Jepang menduduki Palembang dan bergerak menuju Bengkulu. Dalam pelariannya ke Padang, Belanda meninggalkannya berhubung tentara Dai Nippon telah menguasai Padang. Setelah penjara dan pengasingannya menjauhkannya dengan rakyat, Bung Karno mengkonsolidasikan diri dengan membentuk Komando Rakyat dengan tujuan pemerintahan sementara untuk menjaga ketertiban dengan tanpa memberikan perlawanan frontal dengan pendudukan Jepang sebagai kekuatan baru dunia.

Di Lembah Ngarai Bukit Tinggi, Jepang dibawah Kolonel Fujiyama bernegosiasi dengan Bung Karno untuk mengambil hati rakyat Indonesia dengan propaganda Jepang sebagai penyelamat Asia dari kolonialisme barat. Dengan propaganda Pemimpin Asia, Pelindung Asia, dan Cahaya Asia, Jepang menginginkan bantuan Indonesia dalam memenangkan Perang Pasifik sedangkan Bung Karno bersedia dengan mensyaratkan Indonesia merdeka, membebaskan rakyat dari kekuasaan Belanda maupun Jepang. Dalam perkembangannya dunia Barat melihat Bung Karno sebagai kolaborator/boneka Jepang. Keyakinan Bung karno akan pendudukan Jepang yang singkat akibat kalah perang pasifik nanti, meyakinkan Bung Karno mau bekerjasama dengan Jepang. Setelah Jawa dikuasai Jepang 1 Maret 1942, dan untuk meredam rasa permusuhan rakyat Indonesia di Jawa atas pendudukan Jepang maka panglima tentara Jepang Letjen Imamura menginstruksikan Bung Karno agar dipindahkan dari Padang ke Jakarta. Dengan ini menjadikannya bertemu kembali dengan temen-teman seperjuangannya diantaranya Hatta. Disini akhirnya Bung Karno dan Hatta mengikrarkan diri sebagai Dwi Tunggal dalam mengupayakan bersama-sama memperjuangan Indonesia merdeka yang disaksikan Sjahrir. Stategi perjuangan pun diarahkan dengan strategi dibawah permukaan dan startegi di permukaan. Tugas strategi permukaan dilakukan oleh Dwi Tunggal sedangkan Sjahrir melakukan gerakan bawah tanah.

Pada fase pendudukan Jepang inilah Bung Karno mematangkan taktik dan strategi meraih impiannya untuk memerdekakan Indonesia mengingat Jepang hanya mengkosentrasikan kekuatannya untuk memenangkan perang Pasifik. Bulan Maret 1942 Bung Karno memimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Jepang berharap Putera sebagai alat untuk memobilisasi bantuan rakyat Indonesia dalam mendukung perang Pasifik sedangkan Bung Karno memanfaatkannya sebagai badan penggerak politik yang sempurna dengan merekrut orang-orang yang dipercaya memahami strategi Bung Karno ini. Karena kepiawaian Bung Karno mengambil hati pimpinan militer Jepang maka diberikan fasilitas kemudahan menulis di surat kabar, mengadakan rapat-rapat terbuka dan disiarkan melalui radio sehingga dapat menjangkau rakyat di pelosok. Disinilah Bung Karno kembali menggelorakan hati rakyat.

Di Tahun 1943 berdirilah Pembela Tanah Air (Peta). Bung Karno memanfaatkan diplomasi ini untuk merekrut sukarelawan untuk dilatih pertama kalinya dalam menggunakan senjata dan membekalinya dengan pengalaman berperang secara modern. Bagi Jepang Peta dapat dipersiapkan untuk membantu tentara Jepang dalam menghadapi tentara Sekutu. Dan Bung Karno merekomendasikan Gatot Mangkupraja untuk memimpin Peta. Berita kekalahan Jepang atas Sekutu menjadi kekuatan Bung Karno dalam mengambil momentum memerdekakan Indonesia.

Mengetahui akan tanda-tanda kekalahan Jepang oleh Sekutu maka pada tanggal 7 September 1944 Jepang membentuk Jawa Hokokai yang dipimpin Bung Karno sebagai janji pemerintah Jepang atas kemerdekaan Indonesia dikemudian hari. Dalam pertemuan di bulan Pebruari 1945 di Makasar, dibicarakan hal prihal bentuk negara yang akan disepakati ketika Indonesia merdeka. Jepang menawarkan monarki, Hatta meganjurkan Negara Serikat dan Bung Karno tetap teguh memilih Negara Kesatuan. Tanggal 29 April 1945 Kaisar Jepang menyetujui pembentukan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Bung Karno yang merekomendasikan nama-nama yang mewakili tokoh representasi kepulauan Indonesia duduk dalam keanggotaannya yang disetujui pihak Jepang.

BPUPKI mengadakan persidangannya 28 Mei-1 Juni 1945. Pada tanggal 1 Juni 1945 inilah peristiwa bersejarah bagaimana Bung Karno dihadapan sidang menyampaikan pokok-pokok pikiran sebagai dasar/landasan Indonesia merdeka yang beliau sebut Pancasila. Selanjutnya BPUPKI membentuk panitia kecil yang bertugas merumuskan kembali pidato yang disampaikan Bung Karno. Panitia tersebut adalah Ir. Soekarno, Muhammad Hatta, Mr. A.A. Maramis, Abikusno Tjokrosoejoso, Abdulkahar Muzakir, Haji Agus Salim, Mr. Ahmad Soebardjo, Wahid Hasyim, Mr. Muhammad Yamin. Hasil rumusan kembali itu diserahkan kepada BPUPKI pada tanggal 22 Juni 1945 yang diberi nama Piagam Jakarta dan menjadi Pembukaan UUD 1945.

17 Agustus 1945 adalah waktu yang tepat bagi Bung Karno sebagai hari baik walaupun dua hari  sebelumnya para pemuda mendesak beliau untuk melekukan percepatan. Peristiwa ini kita kenal dengan peristiwa Rengasdengklok. Pasca diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia atas nama Soekarno Hatta, bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Di internal sendiri sesama anak bangsa mulai ada tarik menarik kepentingan. Sjahrir menolak proklamasi itu walaupun pada akhirnya harus menerimanya karena dukungan yang besar dari rakyat kepada pemimpinnya, Bung Karno yang mengepalai Kabinet Presidensil. Selanjutnya Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 diterima sebagai dokumen negara oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 18 Agustus 1945 dengan sedikit perubahan yakni mencoret  “dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya” di belakang sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.

Adam Malik ditugaskan menyusup di kantor berita Domei untuk menyiarkan berita kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia dan Indonesia. Peta, Barisan pelopor, Heiho dan pemuda bertugas melakukan perebutan kekuasaan fisik dari tangan Jepang. Bung Karno secara aklamasi didaulat menjadi presiden yang didampingi Muhammad Hatta. Menterinya dintaranya ada Achmad Soebardjo, RAA Wiranatakoesoema, Soepomo, Amir Sjarifuddin, Ali Sastroamidjojo, Soerachman Tjokroadisoerjo, Abikusno Tjokrosoejoso, Ki Hadjar Dewantara, Wahid Hasyim, Sartono, A A Maramis, Otto Iskandardinata.

UUD 1945 yang menentukan adanya kabinet presidesial, namun Inggris dan Belanda menuduh Bung Karno sebagai fasis bila diberi kekuasaan sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Hal ini juga tak lepas dari orang-orang berpendidikan di Belanda melakukan upaya-upaya penekanan agar Bung Karno mengikuti kemauan Belanda. Sehingga pada tangal 14 Nopember 1945 Bung Karno mengubah Kabinet Presidensil menjadi Kabinet Parlementer. Dimulai dari Kabinet Sjahrir I dengan Soetan Sjahrir sebagai perdana menteri.

Pada tanggal 1 September 1945 Bung Karno menerapkan salam Merdeka sebagai salam perjuangan. Tanggal 19 September 1945 Bung Karno untuk pertama kalinya sebagai presiden berpidato dalam rapat umum di lapangan Ikada. Kemudian tentara Sekutu yang dipimpin Inggris mendarat di Indonesia yang diboncengi NICA (tentara Belanda). Dengan dalih melakukan repatriasi tentara Jepang yang kalah perang dan membebaskan tahanan-tahan Belanda selama pendudukan Jepang, justru dipakai Belanda untuk menebar teror atas kemerdekaan Indonesia. Inggris membombardir Surabaya yang menyulut pertempuran 10 Nopember. Di pihak lain Bung Karno menyiarkan protes kepada PBB dan mengirm telegram kepada presiden AS Truman karena Sekutu membunuh rakyat Indonesia dengan kendaraan perang berbendera Amerika. Bung Karno kembali menjadi target penangkapan dan pembunuhan tentara Sekutu yang dituduh sebagai penjahat perang/Kolaborator Jepang versi mereka.

Kabinet Sjahrir II (12 Maret 1946-2 Oktober 1946). Saat jakarta telah diduduki tentara NICA pada tanggal 3 Januai 1946 Bung Karno mengumumkan untuk memindahkan kedudukan ibukota ke Jogyakarta. Sultan Jogya berperan sebagai perantara antara Jakarta yang diduduki oleh Belanda dengan pemerintahan yang berpusat di Jogyakarta. Belanda dengan NICAnya tak puas dengan lahirnya Republik dan terus mengupayakan pendudukan kembali hingga akhirnya terjadi perjanjian Linggarjati yang isinya diantaranya:

1.       Belanda yang hanya mengakui atas wilayah Republik meliputi Jawa, Madura dan Sumatera

2.       Balanda menawarkan terbentuknya Negara Indonesia Serikat (NIS) yang terdiri dari Republik Indonesia, Negara Borneo dan Negara Indonesia Timur meliputi selain Borneo

3.       NIS dan Kerajaan Belanda akan membentuk Uni Belanda Indonesia tanggal 1 Januari 1949

Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946-3 Juli 1947). Perjanjian ini tentu merugikan pihak Indonesia atas cita-cita dasar pendirian republik yang berdaulat, merdeka penuh dan berbentuk negara kesatuan. Dalam situasi gencatan senjata ini Bung Karno membangun hubungan diplomatik dengan Liga Arab, India, Birma, Afganistan, Tiongkok, Amerika Serikat, Inggris, Chekoslowakia dan Filipina. Bung Karno juga mendorong gerakan kepanduan di dalam negeri dan mendirikan Kongres Pemuda Republik Indonesia yang masuk dalam Federasi Pemuda Demokrat Dunia tahun 1947.

Kabinet Amir Sjarifuddin I (3 Juli 1947-11 Nopember 1947) Wakil Perdana Menteri (Waperdam) AK Gandhi. Pada tanggal 27 Juli 1947 Belanda mencarkan Agresi Militernya yang mereka sebut sebagai Aksi Polisionil dengan dalih untuk memelihara keamanan. Dan duniapun mengecam aksi militer Belanda ini sebagai pelanggaran atas perjanjian Linggarjati. Dewan keamanan PBB memerintahkan aksi gencatan senjata.

Kabinet Amir Sjarifuddin II (11 Nopember 1947-29 Januari 1948) Waperdam 3 orang. Pada tanggal 8 Desembar 1947 diatas kapal angkatan laut Amerika, Renville dilaksanakan negosiasi dan diplomasi. Namun Belanda malah mengklaim pendudukannya atas Jawa Barat, Sumatera Timur dan Madura sebagai kekuasaan diluar wilayah Republik Indonesia. Dengan kata lain wilayah republik diperkecil. Karena rebublik dibawah intimidasi maka Bung Karno pun menyetujui perjanjian Renville.

Tahun 1948 Bung Karno harus menghadapi pemberontakan PKI di Madiun. Dipimpin oleh Alimin, Muso dan Amir Sjarifudin. Yang mana Alimin dan Muso adalah mantan guru politiknya saat Bung Karno sekolah di HBS yang rajin mengikuti pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan oleh HOS Cokroaminoto. Toh apada akhirnya harus berseberangan sikap politik dengan Bung Karno yang nasionalis. Saat itu dalam siaran radio Bung Karno tegas menyatakan untuk memilih Soekarno Hatta atau Komunis? “Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, Soekarno akan memimpin rakyat Indonesia Merdeka yang tidak tunduk kepada negeri manapun juga. Jangan ada orang yang berkata bahwa Bung Karno ragu-ragu untuk meremukkan pemberontakan Komunis”. Dan divisi Siliwangipun dikirim untuk menumpasnya. Belum lagi kelompok radikal Islam terus mengupayakan teror kepada pemerintahan Bung Karno yang didalangi Kartosuwiryo dengan Darul Islamnya. Padahal Kartosuwiryo adalah teman baik Bung Karno di tahun 1918 saat yang sama bertemu dalam Sarekat Islamnya HOS Cokroaminoto. Namun lagi-lagi jalan ideologi yang membuat keduanya harus berseberangan.

Kabinet Hatta I (29 Januari 1948-4 Agustus 1949). Tanggal 19 Desember 1948 Belanda kembali melancarkan agresinya dengan membom Jogyakarta. Dalam keadaan ibukota Jogyakarta dikepung maka Bung Karno memerintahkan membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatera untuk membuktikan kepada dunia bahwa pemerintahan Indonesia masih ada dalam menghadapi kelicikan Belanda dan Bung Karnopun ditangkap. Kabinet Pemerintahan Darurat (19 Desember 1948-13 Juli 1949) Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang bepusat di Bukit Tinggi diketuai oleh Amir Sjarifuddi. Tanggal 22 Desember Bung Karno bersama Sjahrir dan Agus Salim diasingkan ke Brastagi. 1 Maret 1949 Jogyakarta direbut kembali oleh pasukan gerilya.

Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949-20 Desember 1949) berkedudukan di Jogyakarta. Akibat semakin meluasnya kemenangan pasukan gerilyawan republik maka Belanda kembali mau berunding yang kita kenal dengan perjanjian Roem-Royen. Van Royen mewakili Belanda bersedia mengembalikan para pemimpin Republik. Muhamad Roem, SH mewakili Indonesia bersedia menghentikan perang gerilya dan akan mematangkannya selanjutnya dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) tanggal 28 Desember 1949 di Den Haag untuk pengakuan kedaulatan Republik Indonesia dan merekomendasikan penyusunan Undang-Undang Dasar baru dan sistem multi partai. Namun masih menyisakan persoalan atas Irian Barat karena satu pulau dengan Niew Guinea.

Kabinet Susanto (20 Desember 1949-21 Januari 1950) peralihan Negara Indonesia Serikat, Kabinet Halim (21 Januari 1950-6 September 1950) perdana menterinya adalah Abdul Halim. Berkedudukan di Jogyakarta sebagai ibukota Republik Indonesia dengan pejabat presidennya Assaat dan menjadi bagian Republik Indonesia Serikat dengan presidennya Soekarno, perdana menterinya Hatta berkedudukan di Jakarta

Kabinet Natsir (6 September 1950-20 Maret 1951) perdana menterinya Muhammad Natsir dan waperdamnya Hamengku Buwono IX, Kabinet Sukiman Suwirjo (27 April 1951-3 April 1952) perdana menterinya Sukiman Wirjosandjojo dan waperdam Suwirjo.

Kabinet Wilopo (3 April 1952-30 Juli 1953) perdana menterinya Wilopo dan Waperdam Prawoto Mangkusasmito. Pada tanggal 17 Oktober 1952 satu batalyon artileri dipimpin Kolonel A. H. Nasution mendemo istana dan meminta Bung Karno untuk membubarkan parlemen.

Kabinet Ali Sastroamidjojo I (30 Juli 1953-12 Agustus 1955) Waperdamnya Wongsonegoro dan Zainul Arifin.Tahun 1954 Bung Karno meminta kepada sekjen PBB untuk mengagendakan persoalan (sengketa) Irian Barat pasca Konferensi Meja Bundar.

Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955-24 Maret 1956) Waperdamnya R Djanu Ismadi dan Harsono Tjokroaminoto, Menteri Luar Negeri Ide Anak Agung Gde Agung. Tahun 1955, Bung Karno melaksanakan ibadah haji ke Mekah dan sepulang dari Arab Saudi, oleh raja dihadiahi mobil Chrysler Crown Imperial. Dan kelak mobil ini menjadi korban Peristiwa Cikini. Pemilu untuk pertama kalinya digelar pada tanggal 29 September 1955 dan 15 Desember 1955 yang dimenangkan oleh Partai Nasionalis Indonesia.

 

 

Tahun 1956 Bung Karno untuk pertama kalinya mengunjungi Amerika atas undangan presiden Amerika, Eisenhower. Bung Karno berpesan kepada Esienhower bahwa Asia sedang dalam euphoria kemerdekaan. Amerika harus memahami itu bahwa jika kemerdekaan telah diraih sebuah bangsa maka tidak akan melepaskan kemerdekaan itu lagi. Intinya Amerika jangan mendikte dan mengintervensi kemerdekaan bangsa lain. Selepas dari Amerika selanjutnya Bung Karno mengunjungi Uni Sovyet dan Republik Rakyat Tiongkok

Kabinet Djuanda (9 April 1957-10 Juli 1959) Waperdamnya Hardi, Idham Chalid, J. Leimena. Tanggal 30 Nopember 1957 percobaan pembunuhan Bung Karno pertama terjadi yang kita kenal dengan Peristiwa Cikini. Penggeranatan terhadap iring-iringan Bung Karno ini didalangi oleh Kartosuwiryo yang terus memperjuangkan ideologi Islamnya. Tahun 1958 sudah mulai ada gerakan-gerakan anti Soekarno dengan tuduhan komunis, anti sentralisme Jakarta. Ya…republik baru berumur 13 tahun masih dalam apinya revolusi! Suatu revolusi tak ubahnya suatu rantai yang panjang yang menghubungkan penjebolan yang satu kepada penjebolan yang lain dari satu konfrontasi ke konfrontasi lain. Tuduhan-tuduhan ini dapat dimaklumi bahwa sekutu melalui kaki tangannya agen-agen CIA dan Belanda masih tetap mau bercokol menguasai salah satu wilayah republik (Irian Barat saat itu) dan terus ingin mempengaruhi sistem perpolitikan Indonesia agar memusuhi blok timur Komunis. Pada bulan April penerbang Amerika Allen Pope dengan pesawat B25 membombardir Ambon. Diperkirakan 700 orang yang sedang berjemaah di gereja terbunuh. Ini adalah upaya membangun konflik sara mengingat pemerintahan Bung Karno masih menghadapi polarisasi kekuatan nasionalis/kebangsaan, ideologi islam dan komunis. Kabinet Ali Sastroamidjojo II (24 Maret 1956-14 Maret 1957) Waperdamnya Muhammad Roem,Idham Chalid.

Tanggal 5 Juli 1959 Bung Karno mengeluarkan Dekrit Presiden yang intinya kembali kepada UUD 1945 atas kegagalan Badan Konstituante menyempurnakan UUDS. Parlemen dibubarkan dan kepemimpinan secara penuh kembali ke tangan Bung Karno dengan Demokrasi Terpimpinnya. Tentu ini menjadikan gerah dunia barat yang takut akan kepemimpinan Bung Karno yang bisa menggalang kekauatan Asia Afrika dan dekat juga dengan blok Timur. Inilah bergaining positioning seorang nasionalis sejati bahwa bangsa lain boleh bekerjasam dengan Indonesia tetapi jangan coba-coba meminta Indonesia tunduk kepada barat. Dan untuk sementara media diberikan kemerdekaan terbatas. Revolusi memerlukan kepemimpinan. Dan sosok pemersatu berbagai kekuatan ideologi kala itu hanya ada pada diri Soekarno. Dan media barat terus mengupayakan pembunuhan karakter seorang Bung Karno yang mereka beritakan sebagai seorang Komunis, Fasis dan Diktator!

Kabinet Kerja I (10 Juli 1959-18 Pebruari 1960) kembali ke presidensil Soekarno merangkap kepala negara dan kepala pemerintakan dengan demokrasi terpimpimnya.

Kabinet Kerja II (18 Pebruari 1960-6 Maret 1962). Pada 9 Maret 1960 kembali percobaan pembunuhan terjadi kepada Bung Karno oleh Darul Islam namun gagal. Dalam sidang Umum PBB tahun 1960 Bung Karno menolak sikap Belanda yang bersedia mendekolonisir Niew Guinea dan melakukan pernyataan pilihan untuk tetap bergabung dengan Belanda, berdiri sendiri atau bergabung dengan Republik Indonesia. Bung Karno sudah paham dengan akal bulus Belanda tersebut untuk tetap bercokol ditanah Irian Barat. Karena Bung Karno berpendirian bahwa wilayah Indonesia adalah seluruh bekas jajahan Hindia Belanda lalu kenapa harus bernegosiasi kembali hanya untuk Irian Barat? Dan ahirnya Irian Barat dibebaskan dari Belanda 1 Mei 1963.

Kabinet Kerja III (6 Maret 1962-13 Nopember 1963). Di tahun 1962 Bung Karno mendukung upaya dekolonialisasi Inggris atas Sabah, Serawak dan Brunai . Namun karena Brunai menolak konferderasi Malaya maka Bung Karno mendukung pembebasan Brunai untuk memerdekakan diri. Karena wilayah tersebut walaupun teletak di Kalimantan, namun karena jajahan Inggris maka Bung Karno berkepentingan agar Kalimantan Utara menentukan pendapatnya sendiri untuk merdeka atau bergabung dengan Malaya. Hal ini sebagai bentuk tekad dan komitmen  Bung Karno dalam usaha-usaha menentang imperalisme dan mendukung kemerdekaan negara-negara Asia Afrika. Dan dengan bersatunya Kalimantan Utara dengan Malaya dibawah Ratu Inggris dianggap akan menjadi ancaman Indonesia oleh Bung karno dikemudian hari. Amerika mendukung Inggris karena Amerika punya kepentingan pengaruh atas Vietnam. Karena PBB dianggap memihak Inggris dalam membentuk konfederasi Malaya tersebut membuat Bung Karno menolak kecurangan hasil referendum tersebut. Dan Bung Karno melancarkan aksi konfrontasi dengan Malaysia. Indonesia keluar dari keanggotaan PBB karena Bung Karno berpikir bahwa :

1.       Bung Karno ingin kedudukan PBB berada pada negara netral, bukan di Amerika dimana sebagai pelaku utama perang dingin

2.       PBB lahir pasca perang dunia kedua, dan dalam piagamnya tak menyebutkan Kolonialisme. PBB harusnya mengambil peran secara cepat dan menetukan dalam upaya penyelesaian-penyelesaian kedaulatan dan kemerdekaan atas kolonialisme. Penyelesaian Irian Barat berlarut-larut sejak 1949 hingga 1963. Bung karno tidak puas atas sengketa Malaya atas keberpihakan PBB pada Inggris

3.       Organisasi dan Dewan Keamanan PBB mencerminkan peta ekonomi, militer dan kekuatan dunia tahun 1945, tidak mencerminkan bangkitnya negara-negara sosialis dan kemerdekaan negara-negara Asia Afrika. Seolah negara-negara merekalah yang menentukan peperangan dan kedamaian. Bung Karno ingin hak Veto yang hanya beranggotakan 5 negera yang punya kewenangan menentukan hidup matinya suatu negara di tinjau ulang.

4.       PBB dianggap Bung Karno adalah produk barat yang melahirkan imperialisme dan kolonialisme sebagai sumber kesengsaraan dunia.

5.       Bung Karno menginginkan Republik Rakyat Tiongkok yang lebih pantas sebagai anggota dewan keamanan menggantikan Taiwan. Karena realitas politik bahwa RRT memiliki jumlah penduduk yang besar, kebudayaan dan kekuatan ekonomi

6.       Bung Karno menginginkan pembagian yang lebih adil atas posisi lembaga-lembaga dalam badan PBB. Tidak hanya diketuai oleh orang Amerika atau orang Inggris.

7.       Dan Malaysia pada tangal 17 September 1963 dimasukkan menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB tanpa melalui voting. Dan Bung Karno merasa bahwa Malaysia belum punya jasa dalam membangun perdamaian dunia. Kemerdekaan Malaysia hanya baru berumur 1 tahun. Bung Karno merasa ada konspirasi politik dengan menempatkan secara istimewa posisi Malaysia untuk membendung pengaruh Soekarno di Asia Afrika

Di saat Idul Adha tahun 1962 lagi-lagi Bung Karno menjadi sasaran pembunuhan saat sholat Idul Adha di halaman istana. Seseorang memberondongkan tembakan namun Bung Karno selamat. Bagi kelompok Darul Islam, Bung Karno adalah penghalang Negara Islam (Indonesia), Bung Karno adalah kafir dan muslim yang tidak taat? Dan dengan berat hati Bung Karno harus menanda tangani kematian Kartosuwiryo dihadapan regu tembak tahun 1963. Tepatnya di 6 Juni 1962 Bung Karno membentuk pasukan pengawal presiden yang diberi nama Cakrabirawa. Sebuah pasukan khusus yang beranggotakan 3000 orang dari angkatan dan polisi dan 300 orang khusus mejaga keselamatan presiden.

Kabinet Kerja IV (13 Nopember 1963-27 Agustus 1964) Waperdam I Soebandrio, Waperdam II J. Leimena, Waperdam III Chaerul Saleh, Menko Hankam A. H. Nasution, KSAD Achmad Yani, KSAL R.E. Martadinata, KSAU Oemar Dhani.

Setelah diplomasi yang melelahkan dan membendung pemberontakan-pemberontakan selanjutnya Bung Karno mulai membangun mental bangsa, kebanggaan nasional. Mendirikan Universitas Daya Nasional, universitas pertama di Kalimantan, membangun by bass Jakarta, Semanggi, membangun stadion utama Gelora Bung Karno tahun 1963 satu-satunya di dunia stadion dengan atap melingkar saat itu, membangun Monumen Nasional, Pabrik Semen Gresik, Nurtanio (kini menjadi Dirgantara), Krakatau Steel, menasionalisasi pekebunan teh, tebu, usaha-usaha kopra. Memperkuat angkatan bersenjata menjadi yang terbesar di Asia tenggara, bidang opendidikan nomor satu di Asia Tenggara. Sementara negara sebesar India dan Tiongkok yang masih kesulitan menentukan bahaa persatuan, Indonesia telah dipersatukan oleh bahasa Indonesia.

Kabinet Dwikora I (27 Agustus 1964-22 Pebruari 1966) jabatan Soekarno adalah Presiden, Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, Mandataris MPRS, Pemimpin Besar Revolusi. Waperdam I Soebandrio, Waperdam II J. Leimena, Waperdam III Chaerul Saleh. Bung Karno memimpin sidang kabinet Dwikora 6 Oktober 1965 di istana Bogor setelah upaya kudeta 30 September 1965 pemberontakan G30S. Tanggal 20 Nopember 1965 Presiden Soekarno bertemu Mayjen Soeharto bersama pimpinan militer di istana Bogor. Memimpin Sidang Komando Operasi Tertinggi (KOTI) tanggal 18 Desember 1965 di istana Bogor. Tanggal 15 Januari 1966 Bung Karno menerima delegasi kesatuan Asksi mahasiswa Indonesia (KAMI) di istana Bogor. 13 Pebruari Bung Karno menyampaikan amanat pada rapat umum Front Nasional CONEFO di Istora Senayan.

Kabinet Dwikora II (24 Pebruari 1966-27 Maret 1966) Waperdam I Soebandrio, Waperdam II J. Leimena, Waperdam III Chaerul Saleh, Waperdam IV K. H. Idham Chalid, menteri /Panglima Angkatan Darat Letjen Soeharto, Tanggal 24 Pebruari 1966 melantik kabinet 100 menteri (penyempurnaan kabinet Dwikora).

Kabinet Dwikora III (27 Maret 1966-25 Juli 1966) Waperdam Urusan Umum J. Leimena, Waperdam Urusan Sospol Adam Malik, Waperdam Urusan Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Hamengkubuwono IX, Waperdam urusan Hankam Letjen Soeharto, Waperdam Institusi Politik Roeslan Abdulgani, Waperdam urusan Hubungan Institusi Politik K. H. Idham Chalid.

Kabinet Ampera I (25 Juli 1966-17 Oktober 1967), Presiden Ir. Soekarno, Ketua Presidium merangkap Menteri Utama Bidang Hankam merangkap Panglima Angkatan Darat Letjen Soeharto. Tanggal 17 Agustus 1966 berpidato dengan judul Jas Merah di Istana Merdeka.

Kabinet Ampera II (17 Oktober 1967-6 Juni 1968) Jenderal Soeharto sebagai pejabat Presiden merangkap Menhankam. Dan Bung Karno diakhiri kekuasaannya dengan TAP MPRS XXXIII Tahun 1967 melarang kehidupan politik Bung Karno beserta ajarannya. Dan diasingkan di Wisma Yaso hingga berpulang pada tangal 21 Juni 1970 dan dimakamkan di Blitar oleh penguasa orde baru agar jauh dari pengaruh politik Jakarta.

 
Leave a comment

Posted by on June 11, 2011 in Nasionalis

 

KEBANGKITAN NASIONAL

Sejarah Indonesia telah mencatat momentum kebangkitan nasional pada tanggal 20 mei 1908 yang kita kenal dengan pergerakan Boedi Oetomo. Tokoh kebangkitan ini adalah Dr Soetomo, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara), dr. Doewes Dekker

Adalah momentum bangkitnya rasa persaudaraan, persatuan dan nasionalisme, atas sebuah kesadaran untuk melawan musuh bersama yakni penindasan pejajah Belanda. Momentum kebangktan ini selanjutnya melahirkan perhimpunan gerakan politik seperti Indische Partij 1912 tokohnya adalah Dr. Tjipto Mangunkusumo, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara), dr. Doewes Dekker,  ialah partai politik pertama yang menyatakan ingin memerdekakan Indonesia, Sarekat Islam (Haji Samanhudi, RM Tirtoadisuryo, H.O.S  Tjokroaminoto), Partai Idonesia Raya (Parindra) 1917, Partai Sosial Demokrat Hindia 1917 selanjutnya Perserikatan Komunis Hindia 1920 (Henk Sneevliet, Semaoen) dan Partai Komunis Indonesia tahun 1924 , organisasi massa Muhammadyah oleh KH Ahmad Dahlan, Nahdlatul Ulama 1926 (KH Mohammad Hasyim Asy’ari), PNI (Perserikatan Nasional Indonesia) 1927 oleh Dr. Tjipto Mangunkusumo, Mr. Sartono, Mr  Iskaq Tjokrohadisuryo, Mr Sunaryo, Soekarno selajutnya menjadi Partai Nasionalis Indonesia tahun 1928. ikrar Sumpah pemuda 1928, Indonesia Muda 1930, Selanjutnay tahun 1931 PNI pecah menjadi Pendidikan Nasional Indonesia  (PNI) baru oleh Hatta, Syahrir, dan Partindo (Partai Indonesia) dibentuk Mr Sartono.

Keseluruhan rangkaian sejarah tersebut bermuara hingga pada akhirnya menghantarkan Indonesia Merdeka pada proklamasi 17 Agustus 1945

PEMILU 1955

Sebagai sebuah bangsa (modern) pemilu untuk pertama kalinya ini tentu memiliki arti penting dan strategis. Sebagaimana pandangan yang disampaikan Bung Karno saat merumuskan Panjasila 1 Juni 1945 bahwa Indonesia yang dicita-citakan salahsatunya berdasar kepada demokrasi/pemufakatan. Sehingga menurut Bung Karno bahwa jika Islam ingin memperjuangakan gagasan, pemikiran, nilai-nilai dan ideologinya harus melalui proses pemilu dengan mendorong sebanyak mungkin wakil-wakilnya dalam DPR. Begitu pula dengan kaum Nasrani dan lainya.

Pemilu ini disiapkan oleh perdana menteri Ali Sastroamidjojo pada situasi keamanan tidak kondusif yang mana terjadi pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesaia) pimpinan Kartosuwirya. Tentara dan polisi juga memiliki hak pilih. Pemilu ini dilaksanakan dua tahap. Tahap pertama 29 September 1955 bertujuan memilih anggota DPR memperebutkan 260 kursi diikuti oleh 29 parpol dan individu. Tahap kedua tanggal 15 Desember 1955 untuk memilih anggota Konstituante memprebutkan 520 kursi, ditambah 14 golongan minoritas yang diangkat pemerintah. Saat pemungutan suara Ali Sastro mengundurkan diri digantikan  Burhanuddin Harahap. Berikut 10 pemenang pemilu tersebut sesuai urutan yakni

1.       Partai Nasional Indonesia  57 kursi DPR dan 119 Konstituante,

2.       Masyumi 57 kursi DPR dan 112 Konstituante,

3.       Nahdlatul Ulama 45 kursi DPR dan 91 Konstituante,

4.       PKI 39 kursi DPR dan 80 Konstituante,

5.       Partai Syarikat Islam Indonesia 8 kursi

6.       Parkindo 8 kursi DPR

7.       Partai Katolik 6 kursi DPR

8.       Partai Sosialis Indonesia 5 kursi DPR

9.       Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia 4 kursi DPR

10.   Perti 4 kursi DPR

DEKRIT PRESIDEN 5 JULI 1959

Setelah pemilu 1955 berhasil dilaksanakan dengan damai selanjutnya Bung Karno mendorong agar wakil-wakil rakyat melalui DPR dan Konstituante untuk menyempurnakan UUD 1945. Namun karena Badan Konstituante  dalam kurum waktu 2 tahun 1956-1958 gagal merumuskan UUD baru menggantikan UUDS 1950 setelah melalui voting dalam Badan Konstituante, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit yang isinya (1 ) Pembubaran Badan Konstituante, (2) Berlakunya Kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya UUDS 1950, (3) Pembentukan MPRS dalam waktu sesingkatnya.

Pada masa pemerintahan Bung Karno, Kabinet Djuanda pernah didirikan badan pemberantasan korupsi dengan nama Panitia Retooling Aparatur Negara (Paran) dipimpin oleh AH Nasution, M Yamin dan Roeslan Abdulgani. Namun tidak berjalan efektif. Kemudian berdasarkan Kepres No 275 Tahun 1963 membentuk Operasi Budhi yang dipimin AH nasution dan Wiryono Prodjodikusumo. Dalam perkembangannya Operasi Budhi menjadi Komando Tertinggi Retooling Aparatur Revolusi dengan pimpinan langsung berada ditangan presiden Soekarno dibantu Soebandrio dan Ahmad Yani.

PEMILU 1973

Awal pemerinahan Soeharto di tahun 1967 pernah membentuk Tim Pemberantas Korupsi yang dipimpin Jaksa Agung. Kemudian menjadi Komite Empat (Prof Johannes, I J Kasimo, Wilopo dan A Tjokroaminoto) selanjutnya menjadi Operasi Tertib dipimpin Laksamana Sudomo sebagai Pangkopkamtib.

Penguasa orde baru juga mengambil kebijakan sistem penyelenggaraan pemilu dengan menyederhanakan partai. Pada 5 januari 1973 lahirlah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai fusi dari Partai Nahdlatul Ulama, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Perti dan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).

Tanggal 10 Januari 1973 lahirlah Partai Demokrasi Indonesia (PDI) sebagai fusi dari Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), dan Partai Katolik.

Penyederhanaan partai politik ini akhirnya melahirkan PPP, Golkar dan PDI sebagai kontestan pemilu 1973-1997 yang selalu dimenangkan oleh Golkar.

Pada saat Pemilu 1973 muncul istilah Golput yakni Golongan Putih oleh seorang Arief Budiman (Soe Hok Djin). Arief Budiman adalah aktifis 1966 yang menggulingkan Bung Karno dan mendukung orde baru dibawah Soeharto. Namun akhirnya sikapnya berlawanan dengan orde baru yakni menentang dominasi Golkar atas praktek yang membelokkan perjuangan menuju pemerintahan yang demokratis.

PEMILU DI ERA REFORMASI   Pemilu di era Reformasi ditandai dengan kejatuhan pemerintahan Soeharto tanggal 21 Mei 1998. Dan digantikan oleh B.J. Habibie. Kejatuhan rezim orde baru ini diawali dari krisis ekonomi/moneter Januari 1998, berbagai demontrasi mahasiswa, demonstrasi buruh, kenaikan harga BBM, kerusuhan Medan, bentrokan aparat dan mahasisiwa di Cimanggis, Yogyakarta, Trisakti Jakarta, kerusuhan di Jakarta dan Solo, desakan mundur presiden Soeharto oleh ketua MPR tanggal 18 Mei 1998, pendudukan gedung DPR/MPR oleh demonstran, demonstrasi merata diberbagai kota dan kampus-kampus akhirnya memaksa pengunduran diri Soeharto. Pengukuhan B.J. Habibie sebagai presiden dalam Sidang istimewa MPR ditentang demonstaran dan mengakibatkan korban Tragedi Semanggi.

Habibie selanjutnya melaksanakan kebijakan pembebasan tahan politik (tidak seluruhnya), liberalisasi parpol, kebebasan pers, kebebasan berpendapat dan berserikat, pencabutan UU Subversi dan referendum atas Timor Timur, tidak berhasil meloloskan UU Penanggulangan Keadaan Bahaya karena desakan demonstran yang mengakibatkan korban Tragedi Semanggi II, terjadi kekerasan etnis dan agama di Maluku, lahir UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme dan membentuk Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat Negara (KPKPN). Rakyat menuntut pemerintahan Habibie untuk mempercepat Pemilu.

PEMILU 1999 menempatkan PDI Perjuangan sebagai pemenang (35%) namun karena presiden masih dipilih oleh MPR maka bukan Megawati dpilih MPR sebagai presiden. MPR melalui Poros Tengah yang dimotori Amien Rais memilih Abdurahman Wahid/Gus Dur.

Era pemerintahan Abdurahman Wahid, gerakan separatisme semakin kuat di Aceh, Maluku dan Papua, Skandal Bulog, kasus KKN Soeharto tak tersentuh, Papua minta referendum, kerusuhan Poso, bom meledak di kedubes Filipina, bom di kedubes Malaysia, bom di gedung Bursa Efek Jakarta, bom malam Natal 2000, kerusuhan Sampit (Dayak-Madura), memberikan kebebasan atas kebudayaan dan bahasa Tionghoa, Amademen pertama UUD 1945 14-21 Oktober 1999 dan Amandemen kedua UUD 1945 7-18 Agustus 2000. Berdasar perpu Nomor 19 Tahun 2000 Gus Dur membentuk Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK).

Karena kebijakan-kebijakannya yang kontroversial maka terjadi tuntutan mundur kepada Gus Dur. Pada tanggal 29 Januari 2001 Abdurahman Wahid akhirnya menyerahkan kekauasaannya ke Megawati Soekarno Putri yang kala itu sebagai wakil presiden dan dikukuhkan dalam Sidang Istimewa MPR 23 Juli 2001.

Pada era Megawati terjadi bom di Atrium Senen, bom di KFC Makasar, bom di Australian International School, penandatangan perdamaian konflik Poso dalam keputusan Malino, Amandemen ketiga UUD 1945 1-9 Nopember 2001.

Di tahun 2002 melahirkan Komnas HAM, Irian Jaya berganti nama menjadai Papua, menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional, Amademen yang keempat  UUD 1945 1-11 Agustus 2002 untuk memilih presiden secara langsung dan pembatasan jabatan presiden, Bom Bali I, Indonesia dan GAM menandatangani kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik bersenjata di Jenewa, Otonomi Aceh, ledakamn bom di KFC Makasar.

Ditahun 2003 bom di wisma Bhayangkari Mabes Polri, bom di bandara Soekarno-Hatta, darurat Militer di Aceh karena gagal melaksanakan keputusan damai, bom JW Marriot, bom di Palopo. Tahun 2003 dibentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), berdasarkan UU Nomor 24 Tahun 2003 dibentuk Mahkamah Konstitusi.

PEMILU 2004 terdiri dari pemilu legislatif yang dimenangkan oleh Partai Golkar. Sebelum penyelenggaraaan pemilu presiden putaran dua antara pasangan Megawati vs SBY terjadi bom di kedubes Australia. Pemilu presiden untuk kali pertamanya dipilih langsung rakyat dimenangkan oleh pasangan Susilo Bambang Yodhoyono-Jusuf Kalla.

Masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, Eurico Guterres dinyatakan bersalah dalam pengadilan HAM Timor Timur. Berdasarkan UU Nomor 22 Tahun 2004 dibentuk Komisi Yudisial pada tanggal 13 Agustus 2004.

PEMILU 2009 terdiri dari pemilu legislatif yang dimenangkan oleh Partai Demokrat. Pemilu presiden dalam sekali putaran dimenangkan oleh pasangan Susilo Bambang Yodhoyono-Boediono.

PERMASALAHAN

Didalam perkembangan kehidupan bernegara sejak lahirnya ideologi Pancasila 1 Juni 1945 dan disahkan menjadi dasar negara 18 Agustus 1945 hingga era reformasi saat ini Indonesia telah mengalami berbagai situasi politik dan ancaman disintegrasi. Baik saat awal kemerdekaan membangun demokrasi masih ada pertarungan atau polarisasi kekuatan kebangsaan/nasionalis, agama, sosialis dan komunis.  Karena ditengah perang dingin Indonesia sebagai negara strategis dan besar tak luput dari tarik-menarik kepentingan global. Terlebih figur sentral Bung Karno yang mampu menggalang kekuatan dunia ketiga dalam konferensi Asia Afrika sebagai Gerakan Nonblok sedikitnya cukup menjadi ancaman kedua kekuatan blok barat dan blok timur. Belum lagi dan berbagai pemberontakan DI/TII, PRRI/Permesta, RMS, pemberontakan PKI.

Ancaman pengaruh komunisme di tahun 1965 menjadikan Amerika yang mewakili blok barat berandil besar dalam “menjatuhkan” orde lama dibawah presiden Soekarno. Selanjutnya isu komunisme ini juga memberi dukungan Amerika atas legitimasi presiden Soeharto untuk menintegrasi Timor Timur.

Pasca runtuhnya komunisme, dan kemajuan industri medorong negara-negara kapitalis mencari deposit-doposit minyak bumi yang pada gilirannya secara langsung maupun tak langsung menjadikan negara Timur Tengah menjadi negara-negara kaya baru. Bermodalkan kemakmuran dari minyak melahirkan kelompok-kelompok terdidik yang moderat maupun sebaliknya kelompok yang justru mengarah kepada fundamentalis. Hal ini ditandai dengan gerakan-gerakan perlawanan atas penguasaan asing yg terwakili oleh Amerika di Timur Tengah. Gejala-gejala ini dalam perkembanganya bermigrasi ke Indonesia yang didukung oleh iklim demokratisasi pasca 1998 yang liberal. Tak sedikit “ideologi agama” sebagai alat propaganda dalam memperjuangkan ideologi kelompoknya. Ada yang mendifinisikan ini sebagai sebuah ancaman Ideologi Transnasional. Akhirnya Indonesia “terancam” dalam pertarungan Neolibralisme-kapitalis, Nasionalisme-Pancasila dan Ideologi Transnasional.

KEBANGKITAN INDONESIA DALAM KONTEKS HARI INI?103 tahun lalu pergerakan Budi Utomo sebagai tonggak kebangkinan nasional  mendorong seluruh eleman masyarakat bangkit dari identitas sekat primordial dan gerakan sporadis dalam menumbuhkan nasionalisme, kesadaran kebangsaan untuk melawan musuh bersama yakni penindasan kaum penjajah Belanda. Lalu bagaimana kita memaknai kebangkitan dalam konteks hari ini? Bangsa Indonesia mau bangkit dari apa?

MODAL KEBANGKITAN

Ditengah derasnya arus globalisasi yang berbasis perkembangan teknologi informasinya tak ayal telah memutus dinding ruang dan waktu, batas-batas geografis antar negara. Informasi begitu cepatnya dapat diakses oleh sebuah negara dalam hitungan detik/menit. Dan celakanya informasi itu mengandung konsekwensi atas persepsi dunia yang bisa positif ataupun sebaliknya negatif. Belum lagi “kecanggihan” teknologi informasi yang lahir dari  negara-negara yang dipersepsikan liberal dan kapitalis karena penguasaan teknologi dan hak istimewanya dapat “memata-matai” aktifitas politik, sosial kemasyarakatn sebuah negara tak terkecuali Indonesia. Semisal Google sebagai mesin pengumpul dokumen dalam bentuk digital, visual gambar termasuk kecanggihannya dalam mendokumentasikan foto citra satelit begitu mudahnya dapat mendeteksi aktifitas-aktifitas “militer” yang bersifat rahasia. Hal ini tentu memudahkan kerja-kerja intelijen negara dimana memiliki hak istimewa untuk mengakses Google dalam menganasila aktifitas “musuh”, mengidentifikasi kandungan mineral sebuah negara, gerakan-gerakan perlawanan sipil dalam sebuah negara. Belum lagi situs jejaring sosial yang mendunia seperti Facebook dan Twitter dalam era kebebasan informasi tak jarang dapat memperkuat gerakan-gerakan perlawanan sipil atas nama demokrasi terhadap pemerintahan yang dianggap tidak memihak kepentingan masyarakatnya. Gejala ini telah terjadi pada krisis di Timur Tengah dan pergolakan politik di Mesir, Libya, Yaman, Tunisia.

Lalu ketika dihadapkan kepada modernisasi dimana penguasaan teknologi informasi yang memperkukuh hegemoni barat dalam memainkan isu global yakni demokratisasi, HAM, lingkungan, kemiskinan apa yang menjadikan modal Indonesia untuk bangkit?

1.       Sejarah Perjuangan Bangsa

Bangsa didifinissikan sebagai adanya sebuah persamaan kehendak dalam sebuah kesatuan wilayah. Sejarah merupakan kumpulan rangkain peristiwa masa lalu dan masa kini. Ketika kita bicara entitas sebagai sebuah bangsa maka kita dipersatukan oleh sebuah persamaan seperti ideologi, ras, agama dan kebudayaan. Dalam sejarah perkembangan peradaban dunia kita pernah mengenal peradaban Veda di lembah sungai Shindu, Mesir Kuno di lembah sungai Nil, Mesopotamia di lembah sungai Eufrat dan Tigris, Romawi. Seluruh peradaban tersebut mengantungan hidup dari sektor agraris. Roma yang pernah menjadi ibukota kekaisaran Romawi selama berabad-abad menjadi pusat politik dunia barat. Setelah jatuhnya Romawi, Italia terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil sepeti kerajaan Sardinia dan Milan. Namun bangkit kembali (IlRisorgimento) untuk bersatu di tahun 1861 setelah mengalami kerusuhan sosial dan akhirnya menjadi imperialis dan kolonialis atas Libya, Eritrea, Somalia, Ethiopia, Albania, dll.

Revolusi Prancis 1789 yang telah melahirkan liberalisme versus monarki.

Peradaban modern diyakini mulai terjadinya revolusi Industri di Inggris dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt seorang insinyur Scotlandia tahun 1819 melahirkan kapitalisme dan perubahan struktur sosial politik masyarakat Eropa yang mendorong lahirnya kolonialisme dan imperialisme dengan perjuangan untuk mendapatkan bahan mentah dan bahan baku. Dari sini pula melahirkan pemikir modern yang selanjutnya mengubah paradigma menuju perubahan2. Mereka adalah Charles Darwin dengan evolusi manusianya, Karl Marx (1818-1883) dengan pandangan-pandangan politiknya melahirkan sosialisme dan Freud yang mengamati psikologi manusia. Mereka telah membuka tabir misteri perkembangan manusia dan prilakunya di abad modern. Mulailah era imperialisme modern dengan semboyan Gold, Glory dan Gospel.

Jauh sebelum peradaban modern, abad I wilayah “Nusantara” telah dihuni manusia yang beradab sebagi cikal bakal raja-raja nusantara yakni Dewi Pwahaci Larasati putri Aki Tirem asli Nusantara menikahi Dewawarman dari Pallawa-Bharata (India sekarang) membangun kerajaan Salakanagara/negeri perak (130-362) yang beribukota di Rajatapura (Pandeglang sekarang) yang selanjunya mewarisnan dinasti Warman.

Di tempat lain ditanah sunda  didirikan kerajaan Tarumanegara (358-669) oleh Maha Rsi Jayasinghawarman dari Calankayana negeri Bharata/India yang menjadi menantu Dewawarman VIII raja terakhir Salakanagara. Raja Tarumanegara yang paling terkenal adalah Purnawarman dan raja terakhir adalah Linggawarman.

Di Tanjung Pura (Kalimantan sekarang) abad ke IV berdiri kerajaan Kutai Martadipura (hulu sungai Mahakam) wilayah Kalimantan Timur sekarang dan kerajaan Kuripan/Tabalong (hulu Sungai Utara) diwilayah Kalimantan Selatan sekarang. Kerajaan Kutai Martadipura didirikan oleh Aswawarman putra Kundungga. Raja yang paling terkenal adalah putra Aswawarman yakni Mulawarman. Kerajaan Kutai Martadipura runtuh dimasa Maharaja Dharma Setia yang dikalahkan oleh kerajaan Kutai Kartanagara 1365 yang selanjutnya menjadi kesultanan.

Setelah Linggawarman (666-669) mangkat Tarumanegara diwariskan kepada Tarusbawa menantunya dan memindahkan ibukotanya ke Sundapura. Perpindahan ibukota Tarumanegara ke Sundapura melahirkan Kerajaan Sunda (669-1579) meliputi wilayah Jawa Barat (sebelah barat sungai Citarum), Banten, Jakarta sekarang. Menantu Linggawarman yang lain Dapuntahyang Sri Janayasa mendirikan kerajaan Sriwijaya. Selanjutnya di masa keemasannya 692 Sriwijaya membawahi wilayah Sumatera, Semenjung Malaya, Kamboja dan Jawa (berebut pengaruh dengan kerajaan Medang), dan menguasai jalur perdagangan dunia yakni Selat Malaka, Selat Sunda dan Laut Cina Selatan.

Penguasa Galuh Wretikandayun memerdekakan diri dari Tarumanegara dan mendirikan kerajaan Galuh (612-702) dengan wilayah sebelah timur sungai Citarum dan Jawa Tengah bagian barat (sungai Cipamali/Kali Brebes).

Dilanjutkan oleh putra bungsunya Rahiyang Mandiminyak. Rahiyang Mandiminyak berselingkuh dengan istri kakaknya Rahiyang Sempakwaja yang menjadi Rsiguru Galunggung dan melahirkan Bratasenawa/Sena yang mewarisi kerajaan Galuh.

Rahiyang Mandiminyak dengan istrinya Dewi Parwati (putri ratu Shima) melahirkan Sannaha. Putri Shima (674-732) adalah ratu kerajaan Kalingga (Pekalongan-Jepara). Sena dan Sannaha menikah dan melahirkan Sanjaya.

Karena merasa memiliki hak atas tahta Galuh maka Demunawan dan Purbasora putra Rahiyang Sempakwaja mengkudeta Sena dan kekuasaan Galuh jatuh kepada Purbasora. Sena mengungsi ke Pakuan meminta perlindungan Tarusbawa.

Berkat bantuan penguasa Sunda, Sanjaya berhasil mengkudeta penguasa Galuh Purbasora.

Di tangan Sanjaya akhirnya Sunda dan Galuh disatukan kembali (723-732) setelah menjadi cucu menantu Tarusbawa.

Setelah Ratu Shima mangkat 732 Kerajaan Kalingga diwariskan kepada Sanjaya yang selanjutnya membangun Bumi Mataram/Kerajaan Medang.

Kekuasaan Sanjaya atas Sunda Galuh akhirnya diwariskan kepada putranya Rarkyan Panaraban. Kerajaan Sunda Galuh memiliki pelabuhan perdagangan yakni Banten, Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang sekarang), Kalapa (Sunda kelapa sekarang), dan Cimanuk. Pasca Panaraban Sunda Galuh sempat mengalami beberapa kali kudeta kekuasaan. Selanjutnya kekuasaan Sunda Galuh pernah dipegang oleh Sri Jayabhupati (1030-1042) menantu Dharmawangsa Teguh, raja Medang terakhir (satu mertua dengan Airlangga). Pasca Sri Jayabhupati, suksesi kekuasaan di Sunda Galuh kembali berjalan normal. Tercatat paling lama memimpin Sunda Galuh adalah Dharmasiksa (1175-1297).

Di Bumi Mataram/kerajaan Medang selanjutnya Sanjaya mewariskan dinasti wangsa Sanjaya kepada raja-raja berikutnya. Pada masa Sanjaya Hindu aliran Siwa menjadi agama resmi kerajaan. Pada masa pemerintahan Medang oleh Rakai Panangkaran tahun 770 (wangsa Sailendra) pernah menaklukkan kerajaan Sriwijaya. Pada masa wangsa Sailendra Buddha Mahayana sebagai agama resmi yang mewariskan Borobudur.

Di tahun 840an keturunan wangsa Sanjaya, Rakai Pikatan menikahi putri Sailendra, Pramodawardhani dan akhirnya menjadi raja Medang. Rakai Pikatan mewariskan candi Prambanan. Pada masa Rakai Pikatan berhasil menyingkirkan keturunan Sailendra yakni Balaputradewa yang selanjutnya menjadi raja Sriwijaya. Di masa Rakai Pikatan dan Balaputradewa, Medang dan Sriwijaya bersaing untuk menguasai jalur perdagangan Asia Tenggara. Di masa Rakai Pikatan Hindu dan Buddha berdampingan penuh toleransi.

Dyah Balitung yang bukan keturunan langsung Sanjaya pernah berkuasa atas Medang karena mampu mempersatukan kekuasaan kerajaan atas Jawa (kecuali Sunda Galuh) dan Bali. Kemudian Mpu Daksa yang mengaku keturunan Sanjaya mengkudeta Dyah Balitung. Dyah Tulodhong (menantu Mpu Daksa) dikudeta Dyah Wawa.

Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa (928-929) adalah raja terakhir kerajaan Medang  di bumi Mataram (Jawa Tengah) karena akibat letusan hebat Merapi ibukota berpindah ke sekitar Jombang oleh Mpu Sendok (929-947) yang mewariskan wangsa Isana.

Meskipun beliau seorang Hindu beraliran Siwa namun Hindu dan Buddha Tantrayana berdampingan penuh toleransi.

Di masa Mpu Sendok jalur perdagangan Asia Tenggara dapat dikuasai dari tangan Sriwijaya. Dengan dikuasainya jalur perdagangan ini Sriwijaya membangun kekuatan untuk membalas. Dimasa Dharmawangsa Teguh (cicit Mpu Sendok) akhirnya kerajaan Medang dapat dihancurkan oleh koalisi Sriwijaya dengan tewasnya Dharmawangsa Teguh tahun 1006. Airlangga berhasil lolos dari penyerbuan koalisi Sriwijaya tepat saat Airlangga melangsungkan pernikahan dengan putri Dharmawangsa Teguh. Kerajaan Medang (732-1006) selama 274 tahun.

Di tahun 1009, Airlangga/Erlangga putra Udayana wangsa Warmadewa raja kerajaan Bedahulu Bali dan Mahendradatta (saudara Dhamawangsa Teguh) mendirikan kerajaan Kahuripan setelah selama 3 tahun pelariannya dihutan yang ditemani Mpu Narotama saat penghancuran kerajaan Medang. Airlangga membangun kembali puing-puing sisa kerajaan Medang yang hanya meliputi Sidoarjo dan Pasuruan.

Dengan kekalahan Sriwijaya tahun 1023 oleh kerajaan Colamandala-India merupakan kesempatan Airlangga untuk mengembalikan kekuasaan Medang dibawah kerajaan Kahuripan yang berpusat di Surabaya/Sidoarjo sekarang. Ahirnya Airlangga menguasai Jawa (kecuali Sunda Galuh) dan Bali. Airlangga selanjutnya memindahkan ibukota Kahuripan ke Daha, Kediri sekarang di tahun 1042.

Airlangga juga dikenal sebagai raja yang menghormati toleransi atas keyakinan Hindu Siwa dan Buddha dan mewariskan kesusastraan kekawin Arjuna Wiwaha yang ditulis Mpu Kanwa tahun 1035 yang diadaptasi dari Mahabharata. Atas kearifannya di tahun 1042 Airlangga (penganut Hindu Waisnawa) turun tahta menjadi seorang pendeta. Sebelum menjadi Pendeta Airlangga membagi Kahuripan menjadi dua yakni kerajaan Kadiri/Panjalu yang beribukota di Daha yang diperintah Sri Samarawijaya (putra dari permaisuri pertama) dan kerajaan Janggala (1042-1135) beribukota di Kahuripan yang diperintah Mapanji Garasakan (putra dari permaisuri kedua). Mpu Bharada ditugaskan untuk membagi batas-batas wilayah kedua kerajaan yang tercatat dalam kitab Nagarakretagama.

Pasca mangkatnya Airlangga 1045, Panjalu dan Janggala dilanda perang saudara.

Saat pemerintahan Sri Jayabhaya penguasa Panjalu berhasil menaklukkan Jenggala tahun 1135. Umur kerajaan Janggala (1042-1135) 93 tahun

Selanjutnya wilayah kerajaan Panjalu meliputi seluruh Jawa (kecuali Sunda Galuh) dan beberapa pulau di nusantara. Di masa kerajaan Kadiri/Panjalu banyak menghasilkan karya sastra diantaranya kekawin Bharatayudha (Mpu Sedah dan Mpu Panuluh), Kekawin Hariwangsa dan Ghatotkachasraya (Mpu Panuluh), Kekawin Smaradahana (Mpu Dharmaja), Sumanasantaka (Mpu Monaguna), Kresnayana (Mpu Triguna).

Pada perkembangannya di tahun 1222 Kertajaya sebagai penguasa Panjalu berselisih dengan kaum Brahmana yang kemudian meminta perlindungan dengan Ken Arok akuwu Tumapel (bagian wilayah Kadiri). Justru momentum itu dipakai Ken Arok untuk melakukan perlawanan terhadap Kadiri dan dimenangkan oleh Ken Arok. Keruntuhan Kadiri ditulis dalam kitab Pararton dan Negarakretagama. Umur kerajaan Panjalu/Kadiri (1042-1222) 180 tahun.

Selanjutnya Ken Arok mendirikan kerajaan Tumapel (1222-1292) bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Tumapel membawahi Kadiri beribukota di Singhosari. Kerajaan Tumapel lebih dikenal dengan kerajaan Singhosari.

Kisah kudeta berdarah dialami oleh kerajaan Tumapel yangmana Ken Arok dibunuh tahun 1247 oleh Anusapati (putra Tunggul Ametung x Ken Dedes). Anusapati berkuasa atas Tumapel dan Mahisa Wonga Teleng (putra ken Arok x Ken Dedes) berkuasa atas Kadiri  tahun 1247-1249. Mahisa Wonga Teleng digantikan oleh adiknya Toh Jaya lalu membunuh Anusapati selanjutnya berkuasa 1249-1250 atas Kadiri. Lalu Toh Jaya dibunuh Ranggawuni/Wisnuwardhana (anak Anusapati) berkuasa atas Kadiri tahun (1250-1268).

Sepeninggal Toh Jaya Kadiri dan Tumapel disatukan kembali oleh Wisnuwardhana. Perdamaian ini terjadi setelah Wisnuwardhana menikahi putri Mahisa Wonga Teleng. Pada periode ini terjadi pimpinan kolektif (rekonsiliasi) antara Wisnuwardhana dengan Mahisa Cempaka (putra Mahisa Wonga Teleng) dari nenek yang sama yakni Ken Dedes. Pasca kepemimpinan kolektif untuk menghindari kudeta berdarah Singhosari selanjutnya mengalami suksesi damai dari Ranggawuni ke putranya yakni Kertanegara.

Kertanegara berkuasa atas Kadiri tahun 1254 dan berkuasa penuh atas Singhosari (1268-1292) dan memiliki misi melanjutkan kebesaran kerajaan di nusantara pasca Medang (Mataram Hindu), dan Kahuripan.

Pada tahun 1275 Kertanegara melakukan ekspansi militer dengan mengirim pasukan ekspedisi Pamalayu (perang melawan Melayu) dibawah panglima Mahisa(Kebo) Anabrang ke kerajaan Melayu (kerajaan kuat di Sumatera pasca Sriwijaya) beribukota di Dharmasraya, Sumatera Barat sekarang dengan tujuan untuk menjadikan Sumatera (Swarnnabhumi) sebagai benteng pertahanan dari bangsa Mongol yang mengancam wilayah Asia Tenggara. Saat itu raja Dharmasraya adalah Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa akhirnya takluk atas Singhosari yang ditandai dengan pengiriman Arca Amoghapasa tahun 1286 ke Dharmasraya dan Tribhuwanaraja menghadiahi puterinya Dara Petak dan Dara Jingga untuk dinikahkan kepada Kertanegara. Tahun 1284 Kertanegara menaklukkan Bali.

Pasca jatuhnya kekuasaan Sumatera kepada Singhosari hal ini mendorong Kubilai Khan (dinasti Yuan)  tahun 1289 mengirim utusan ke Singhosari agar tunduk kepada Mongol.

Karena pemerintahan Singhosasri tak mau tunduk dengan penguasa Tiongkok, maka Mongol merencanakan ekspansi militer besar-besaran untuk menaklukkan Singhosari.

Sementara di tahun 1292 di dalam negeri Kertanegara menghadapi kudeta Jayakatwang (cicitnya Kertajaya) yang kala itu sebagai bupati Gelang-gelang. Jayakatwang memanfaatkan kekuatan militer Singhosasari yg terkosentrasi ke Melayu. Informasi ini didapat dari Arya Wiraraja. Arya Wiraraja pernah menjabat Rakryan Demung Singahosari namun karena menentang kebijakan politik luar negeri (ekspansif) Kertanegara maka Arya Wiraraja dimutasi menjadi Bupati Sumenep. Kertanegara pun tewas disaat kekuatan militernya baru kembali dari ekspedisi pamalayu tahun 1293. Saat meninggalkan Sumatera, Anabrang mendelegasikan kepada Indrawarman sebagai komandan sisa pasukan Pamalayu di Dharmasraya. Umur kerajaan Singhosari (1222-1292) 70 tahun

Jayakatwang membangun kembali kerajaan Kediri. Raden Wijaya bersama Nambi mengungsi ke Madura meminta perlindungan kepada Arya Wiraraja. Karena Wiraraja merasa pernah mengabdi kepada kakek Raden Wijaya akhirnya mau memberikan perlindungan. Melalui negosiasi Arya Wiraraja akhirnya Raden Wijaya diberikan pemukiman dengan membuka hutan Tarik oleh Jayakatwang. Hutan Tarik kemudian menjadi pemukiman desa Majapahit. Satu tahun kemudian ekspedisi militer Mongol yang bermaksud menyerang Singhosari dimanfaatkan oleh Raden Wijaya yang memimpin langsung pasukan pamalayu sekembali dari Sumatera. Kediripun dapat dihancurkan.

Selanjutnya Raden Wijaya, putra Lembu Tal/cucu Mahisa Cempaka berhasil menghancurkan tantara Mongol dan mendirikan kerajaan Majapahit pada 10 Nopember 1293/tanggal 15 bulan Kartika Saka 1251.

Raden Wijaya/ Kertarajasa Jayawardhana menikahi 4 puteri Kertanegara (Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, Gayatri Rajapatni yang melahirkan Dyah Gitarja dan Dyah Wyat) dan Dara Petak/Indreswari melahirkan Jayanegara.

Dara Jingga dipulangkan ke Dharmasraya menikahi pembesar Singhosari yang mengantar Arca Amoghapasa, Dyah Adwayabharma  yang kelak melahirkan Adityawarman.

Pasca keruntuhan Singhosari, Indrawarman tak mengakui kedaulatan Majapahit atas Sumatera sebagai penerus Singhosari. Indrawarman mendirikan  kerajaan Silo di Simalungun.

Saat Raden Wijaya mulai memimpin Majapahit, Arya Wiraraja, Lembu Sora, Kebo Anabrang atas jasanya diangkat menjadi Rakryan Mantri. Nambi menjadi Rakryan Patih (perdana menteri). Tidak puas dengan pengangkatan Nambi sebagai patih maka tahun 1295 Ranggalawe putra Arya Wiraraja saat menjadi adipati Tuban melakukan pemberontakan di Tuban. Dan Majapahit mengutus Nambi, Lembu Sora (paman Ranggalawe) dan Kebo Anabrang untuk menumpasnya.  Dan Ranggalawe terbunuh ditangan Kebo Anabrang. Tragisnya Kebo Anabrang langsung dibunuh oleh Lembu Sora.

Atas kejadian tersebut Arya Wiraraja mengundurkan diri dan meminta bagian wilayah Majapahit yang dijanjikan Raden Wijaya saat mau menggulingkan Jayakatwang. Akhirnya  Raden Wijaya memberikan kekuasaan kepada Arya Wiraraja atas Majapahit Timur yang beribukota di Lumajang.

Jayanegara (1309-1328), sebelum berkuasa penuh atas majapahit, sebagai penguasa Daha tahun 1295. Namun karena terlalu muda kekuasaan pemerintahannya diwakilkan kepada Lembu Sora.  Kemudian Lembu Sora memberontak tahun 1300 dan terbunuh. Jayanegara baru berkuasa penuh atas Majapahit saat Raden Wijaya mangkat tahun 1309.

Dimasa pemerintahannya terjadi persaingan jabatan politik. Ada anggapan dikalangan abdi Raden Wijaya bahwa Jayanegara bukan keturunan Majapahit asli melainkan campuran Jawa-Melayu. Saat itu Nambi masih menjabat patih. Saat pulang ke Lumajang, oleh Mahapati, Nambi difitnah diisukan akan melakukan kudeta terhadap Jayanegara. Dan Jayanegara pun menumpas Nambi tahun 1316. Kemuduan jabatan Rakryan Patih diserahkan kepada Arya Tadah.

Tahun 1319 pemberontakan oleh Dharmaputra (pegawai yang diangkat oleh Raden Wijaya karena hubungan kedekatan) dipimpin Ra Kuti yang dapat menguasai ibukota dan menyebabkan Jayanegara mengungsi ke desa Babander dibawah pengawalan pasukan Bhayangkara dengan komandan Gajah Mada yang kala itu masih menjabat Bekel (komandan peleton). Berkat kerja dan kecerdikan Gajah Mada akhirnya pemberontakan Ra Kuti dapat ditumpas dan ibukotapun dapat dikuasai kembali. Dari seluruh anggota Dharmaputra hanya Ra Tanca yang diampuni karena memiliki keahlian tabib. Selajutnya Ra Tanca menjadi tabib istana, Gajah Mada diangkat menjadi patih Kahuripan mendampingi Sri Gitarja. Dua tahun kemudian diangkat sebagai patih Daha mendampingi Dyah Wiyat.

Adityawarman pernah dikirim sebagai diplomat Majapahit ke Tiongkok untuk mengahiri perang dingin Mongol-Singhosasri sebelumnya. Jayanegara akhirnya terbunuh oleh Ra Tanca tahun 1328.

Pasca terbunuhnya Jayanegara yang tanpa keturunan, maka kedua sekar kedaton Majapahit ini disayembarakan untuk mendapatkan suami. Akhirnya Dyah Gitarja bersuamikan Cakradhara sedangkan Dyah Wiyat bersuamikan Kudamerta. Selama masa transisi sebelum pemerintahan Majapahit diserahkan kepada Dyah Gitarja, Majapahit dipimpin oleh Gayatri, karena hanya Gayatrilah istri Raden Wijaya yang masih hidup ketika itu. Kemudian beliau mengundurkan diri karena menjadi pendeta digantikan oleh Dyah Gitarja/Tribhuwana Wijayatunggadewi.

Tribhuwana Wijayatunggadewi raja Majapahit (1329-1351)

Tahun 1331 terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta. Pemberontakanpun dapat dipadamkan dan oleh karenanya pada tahun 1334 Gajah Mada diangkat sebagai Rakryan Patih dan saat pelantikan inilah Gajah Mada menyampaikan Sumpah Palapa. Pemerintahan Tribhuwana sangat ekspansif karena kekuatannya ada di Gajah Mada yang memiliki misi menyatukan Nusantara. Dimulai dari menaklukkan Bali 1343. Di masa pemerintahan Tribhuwana, Adityawarman diberi posisi terhormat sebagai Wreddamantri (tangan kanan raja) dan mengangkat Gajah Mada sebagai Mahapatih Amangkubhumi tahun 1336 mengantikan Arya Tadah.

Dan ditahun 1339 mengutus Adityawarman atas nama Majapahit untuk menghancurkan kerajaan Silo di Simalungun. Selanjutnya Adityawarman mendirikan kerajaan Malayapura tahun 1347 melanjutkan pamannya Akarendrawarman sebagai raja Melayu sebelumnya yang membawahi Dharmasraya dan Palembang sebagai kelanjutan dari kerajaan Melayu dibawah panji-panji Majapahit. Ibukotanya dipindahkan ke Pagaruyung/Suruaso. Setelah Adityawarman mangkat diagantikan putranya Anaggawarman 1375.

Dibawah mahapatih Gajah Mada sebagai perdana menteri, Majapahit memiliki kekuatan militer dan diplomasi yang sangat tangguh sehingga kekuasaannya meliputi wilayah Nusantara (kecuali Sunda Galuh) dan Semenanjung Malaya dan sebagian kepulauan Filiphina. Sestem pemerintahannya tidak sentralisttik lebih kepada otonomi daerah.

Tribhuwana mengundurkan diri tahun 1351 dan kedudukannya digantikan oleh putranya yakni Hayam Wuruk.

Masa pemerintahan Majapahit oleh Hayam Wuruk/Sri Rajasanagara (1351-1389) menghasilkan karya sastra Kekawin Sutasoma yang memuat sesanti Bhinneka Tunggal Ika Tan hana Dharma Mangrwa oleh Mpu Tantular serta kitab Negarakretagama oleh Mpu Prapanca.

Di tahun 1360 Hayam Wuruk hendak menikahi putri dari Sunda Galuh satu-satunya kerajaan yang tak ditakklukan Majapahit). Permintaan ini dipenuhi sepanjang tidak diartikan penaklukan Majapahit atas Sunda Galuh. Karena diplomasi politik ini gagal maka saat iring-iringan kerajaan Sunda Galuh yang dipimpin langsung oleh Linggabhuwana raja Sunda Galuh menuju Majapahit dibantai di lapangan Bubat oleh pasukan Gajah Mada karena Gajah Mada terikat Sumpah Palapa untuk menyatukan Nusantara. Karena baginya kerja keras Gajah Mada yang telah dapat menaklukkan kekuasaan atas Nusantara dibawah panji Majapahit hinga Semenanjung Malaya belum dianggap berhasil bila tanpa penguasaan atas Sunda Galuh di tanah Jawa. Prabu Maharaja Linggabuwanawisesa/Prabhu Wangi (1350-1357) yang menolak diplomasi keras Gajah Mada akhirnya gugur saat perang Bubat bersama putrinya Dyah Pitaloka Citraresmi.

Pasca tragedi Bubat, hubungan Hayam Wuruk dan Gajah Mada memburuk. Satu sisi atas jasanya dalam membangun imperium Majapahit dan dilain pihak telah menghancurkan hati dan mempermalukan Hayam Wuruk dengan karajaan Sunda Galuh, akhirnya Hayam Wuruk tak melakukan pemecatan kepada Gajah Mada selaku Mahapatih Amangkubhumi.  Hayam Wuruk mengirimkan permohonan maaf dan mengutus Dharmadyaksa dari Bali ke Sunda Galuh. Untuk menciptakan situasi kondusif di istana Majapahit maka Gajah Mada dihadiahi tempat di Madakaripura daerah Tongos Probolinggo. Samudra Pasai ditaklukkan Majapahit tahun 1360. Hayam Wuruk merasa terpukul atas meninggalnya Gajah Mada 1364.

Dalam sidang darurat bersama penasehat raja (Sapta Prabhu) tak dapat memutuskan pengganti Gajah Mada. Dalam beberapa lama berjalannya pemerintahan akhirnya Hayam Wuruk memutuskan Gajah Enggon sebagai pengganti Gajah Mada. Majapahit mulai mengalami fase surut, kadipaten-kadipaten mulai memberontak dan saling mengklaim sebagi pewaris Majapahit. Pasca mangkatnya Hayam Wuruk 1389 digantikan oleh menantunya Wikramawardhana.

Di Sunda Galuh pasca perang Bubat, pemerintahan Sunda Galuh dipegang oleh adik Linggabuwana karena Niskalawastukancana (putra Linggabuana) masih kecil. Niskalawastukancana/Prabhu Wangisutah  memerintah Sunda Galuh 1371-1475. Dari istri pertama melahirkan Susuktunggal sebagai penguasa Sunda dan dari istri keduanya melahirkan Dewaniskala sebagai penguasa Galuh.

Sementara di Kalimantan Kerajaan Nagara Dipa (1387-1495) mewarisi kerajaan Kuripan yang beribukota di Candi Laras didirikan oleh Ampu Jatmika dari Majapahit (anak angkat raja Kuripan). Kerajaan ini merupakan kerajan multi etnik pertama di wilayah Kalimantan Selatan. Kerajaan Kuripan diperkirakan diawali oleh kerajaan Nan Sarunai dibawah pemerintahan suku Maanyan (Dayak)

Wikramawardhana raja Majapahit (1389-1427)

Tahun 1400 Wikramawardhana mengundurkan diri  karena sebagai pendeta dan dilanjutkan istrinya Kusumawardhani. Tahun 1401 Wikramawardhana beselisih dengan Bhre Wirabhumi (adik tiri Kusumawardhani) karena mengklaim sebagi pewaris sah Majapahit dan perang saudara ini memuncak pada Perang Paregreg tahun 1404 dengan kekalahan dipihak Bhre Wirabhumi. Wikramawardhana dibantu oleh Laksamana Ceng Ho.

Akibat melemahnya kekuatan Majapahit di Semenanjung berdiri kerajaan Malaka oleh Parameswara (keturunan raja Sriwijaya) tahun 1402. Prameswara mengungsi dari Tumasik (Singapura sekarang) saat ekspansi Majapahit dimasa Hayam Wuruk. Malaka bisa menjadi kuat berkat dukungan Cina. Kemudian Parameswara masuk Islam setelah menikahi putri kerajaan Pasai.

Stri Suhita raja Majapahit (1427-1447)

adalah putri Wikramawardhana. Pada pemerintahan Suhita pernah mengangkat Gang Eng Cu (kakek Sunan Kalijaga) sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa di Tuban.

Di masa Majapahit dipimpin Suhita Kerajaan Nagara Dipa (Kalimantan Selatan), pengganti  Ampu Jatmika selanjutnya adalah anaknya Lambung (Lembu) Mangkurat dilanjutkan oleh putri angkatnya yakni Putri Ratna Janggala Kadiri/Manggalawardhani Dyah Suragharini (ibunya Dyah Ranawijaya) memerintah tahun 1429-1464. Dyah Suragharini adalah putri Bhre Tumapel II.

Kerajaan Tanjungpura (1429-1474) yang terletak di kabupaten Ketapang (Kalimantan Barat). Wilayah kekuasaannya meliputi Kalimantan Barat dan sebagian Kalimantan Tengah pernah menjadi provinsi di masa Singhgosari dan menjadi provinsi Majapahit. Kala kekuasaan Majapahit meliputi Nusantara, nama Kalimantan terwakili oleh Tanjungpura. Pada perkembangannya menjadi kerajaan Islam di masa Gusti Kesuma Matan/Sultan Muhammad Syaifuddin tahun 1622.

Suhita karena tak memiliki putra mahkota maka selanjutnya Majapahit dipimpin oleh adiknya tirinya Kertawijaya. Kertawijaya memimpin Majapahit pada tahun 1447-1451.

Rajasawardhana/Dyah Wijayakumararaja Majapahit (1451-1453)Adalah putra Kertawijaya. Sepeninggal Rajasawardhana Majapahit mengalami kekosongan kekuasaan selama 3 tahun. Kekosongan ini terjadi karena perebutan tahta antara Girisawardhana dengan Samarawijaya (putra Rajasawardhana). Akhirnya Samarawijaya merelakan tahta kepada Girisawardhana yang paman sekaligus mertuanya. Bhre Wengker/Hyang Purwasisesa/Girisawardhana Dyah Suryawikrama (1456-1466) adalah putra kedua Kertawijaya

Suraprabhawa/Singhawikramawardhana raja Majapahit (1466-1474)

adalah putra bungsu Kertawijaya. Dikudeta oleh Bhre Kertabhumi dan terusir dari istana Trowulan dan pergi ke Daha bersama putra-putranya. Setelah kematian Suraprabhawa, salahsatu putranya yakni Dyah Ranawijaya mengukuhkan dirinya sebagai penguasa Majapahit dalam Prasasti Jiyu sebagai Sri Wilwatikta Janggala Kadiri (penguasa Majapahit, Jenggala dan Kediri).

Bhre Kertabhumi raja Majapahit (1474-1478)

adalah putra Rajasawardhana. Di saat Majapahit mengalami dualisme kepemimpinan (ibukota Trowulan dan ibukota Daha), perebutan kekuasaan dilakukan oleh adipati Demak Raden Patah yang didukung Walisongo.

Raden Patah lahir tahun 1455 memiliki nama kecil Jin Bun adalah Putra Bhre Kertabhumi (sebelum menjadi raja Majapahit) yang beribu Tionghoa Siu Ban Ci  putri saudagar dan ulama di Gresik. Setelah melahirkan Raden Patah, karena kecemburuan permaisuri ratu Dwarawati (putri Campa Muslim) kemudian Siu Ban Ci dinikahkan dengan Arya Damar (putra sulung Bhre Kertabhumi) yang menjabat bupati Palembang sekaligus menjadi ayah angkat Raden Patah. Dari ibunya Raden Patah dengan Arya Damar melahirkan Raden Kusen. Raden Patah menolak menjadi bupati Palembang menggantikan Arya Damar dan pergi ke Jawa bersama Raden Kusen dan berguru pada Sunan Ampel (Bong Swi Hoo) di Surabaya.

Putra Bhre Kertabhumi dari selir yang lainnya adalah Bondan Kejawan yang selanjutnya mewariskan kesultanan Mataram (Islam).

Raden Kusen kemudian mengabdi ke Majapahit menjadi adipati Terung sedangkan Raden Patah pergi ke Jawa Tengah membuka hutan Glagah Wangi mendirikan pesantren. Kemudian Raden Patah pun diakui sebagai putra Bhre Kertabhumi yang selanjutnya diangkat menjadi Bupati Demak (nama lain Glagah Wangi) tahun 1475.

Dalam perkembangannya Raden Patah memberontak terhadap Majapahit walaupun sebenarnya Sunan Ampel melarangnya.

Sepeninggal Sunan Ampel di tahun 1478 Demak tetap malakukan aksi pemberontakan, perang Sudarma Wisuta (perang anak melawan ayah) hingga akhirnya dapat menduduki Trowulan ibukota Majapahit. Untuk membendung pengaruh Hindu Buddha maka Sunan Giri menduduki tahta Majapahit selama 40 hari.

Ki Ageng Pengging yang didukung Syekh Siti Jenar tidak mendukung Demak memberontak kepada Majapahit. Ki Ageng Pengging adalah penguasa Pengging (Boyolali) bernama asli Raden Kebo Kenanga (masuk Islam) putra Jaka Sengara (Hindu) bupati Pengging yang telah berjasa menemukan putri Bhre Kertabhumi yang diculik raja kerajaan Blambangan  putra Minak Jingga. Blambangan merupakan kerajaan Hindu terakhir di Jawa Timur yang ditaklukkan Demak saat dipimpin Sultan Trenggono tahun 1527.

Dalam diskusi Ki Ageng Pengging dengan Syekh Siti Jenar membahas Hindu, Buddha dan Islam bahwa ada persamaan pemahaman bahwa sesungguhnya ketiganya pada hakekatnya memiliki persamaan menyembah Tuhan Yang Maha Esa namun dengan tata cara yang berbeda.

Syekh Siti Jenar dianggap sesat oleh Walisongo yang pro Demak.

Pasca penaklukan ibukota Majapahit di Trowulan selanjutnya kekuasaan Majapahit dibawah penguasaan kesultanan Demak yang berideologi Islam. Tahun 1478 Masehi sama dengan 1400 Saka. Dalam Pararaton kekalahan Majapahit diindentikkan sebagai kekalahan Kertabhumi oleh Raden Patah “sirna ilang kerta ning bhumi 0041”

Penguasa Demak selanjutnya mengangkat Nyoo Lay Wa seorang Tionghoa muslim sebagai bupati Majapahit. Selanjutnya digantikan oleh Dyah Ranawijaya/Prabhu Natha Girindrawardhana (1478-1498) sebagai “raja Majapahit” terakhir yang beribukota di Daha. Menurut Prasati Jiyu 1486 dan Petak bahwa kejatuhan Bhre Kertabhumi karena kekalahannya  oleh Girindrawardhana/Bhra Wijaya bukan oleh Demak?.

Jika Dyah Ranawijaya tak diakui sebagai penguasa Majapahit maka umur kerajaan Majapahit (1293-1478) 185 tahun.

Pasca Raden Patah (1478-1518) kesultanan Demak dipimpin Pangeran Sabrang Lor/Pati Unus (1518-1521), sisa-siasa Majapahit digempur habis oleh Sultan Trenggana (1521-1546) adik Pangeran Sabrang Lor dengan mengalahkan Dyah Ranawijaya. Praktis Majapahit runtuh total di tahun 1527. Bila Dyah Ranawijaya diakui sebagai raja Majapahit maka umur Majapahit adalah (1293-1527) 234 tahun

Di Kalimantan, Selanjutnya kerajaan Negara Dipa pasca putri Bhre Tumapel II dimasa pemerintahan Maharaja Sari Kaburangan ibukota dari Candi Agung (Amuntai) dipindah ke Daha yang selanjutnya menjadi Kerajaan Nagara Daha (1478-1576) yang beribukota di Muara Hulak. Wilayah kekuasaannya adalah Kalimantan Selatan saat ini. Tahun 1526 selanjutnya menjadi kesultanan Banjar dibawah pimpinan Sultan Suriansyah.

Sementara Majapahit mengalami keruntuhan yangmana kerajaan-kerajaan yang sebelumnya menjadi bagian Majapahit telah memerdekakan diri, kemudiaan kajatuhan Trowulan di tangan Demak, di tanah Sunda tahun 1482 kekuasaan Sunda Galuh disatukan kembali (reunifikasi) oleh Jayadewata/Sri Baduga Maharaja (1482-1521) setelah menerima tahta dari ayahnya Dewa Niskala penguasa kerajaan Galuh dan menerima tahta dari mertuanya Susuktunggal penguasa kerajaan Sunda yang selanjutnya Sri Baduga Maharaja dikenal dengan Prabhu Siliwangi.

Ibukota kerajaan dipindah dari istana Surawisesa-Kawali ke Pakuan Pajajaran (Bogor sekarang). Selanjutnya kerajaan Sunda Galuh lebih dikenal dengan kerajaan Pajajaran.

Sri Baduka memiliki permaisuri Mayang Sunda yang berputra Surawisesa dan selir Subanglarang (Islam) dan memiliki putra Walangsungsang/Cakrabuana, Larasantang dan Raja Sangara. Kemudian Cakrabuana diberikan kekuasaan di Cirebon.

Di Masa Sri Baduga, Cirebon yang dibantu Demak melakukan penghentian upeti sekaligus melakukan pemberontakan dengan menguasai pelabuhan Cirebon yang merupakan salahsatu pelabuhan penting Pajajaran. Hal tersebut memicu Pajajaran untuk menggempur Cirebon namun diurungkan mengingat Syarif Hidayat adalah anak Lara Santang yang diberikan kekuasaan atas Cirebon oleh pamannya Cakrabuana.

Setelah Sri Baduga mangkat dilanjutkan putra mahkotanya Surawisesa (1521-1535). Di masa Surawisesa kekuasaan wilayah Pajajaran semakin menyusut karena menguatnya kekuasaan Cirebon yang didukung Demak hingga akhirnya kekuasaan kerajaan Pajajaran runtuh di masa Raga Mulya/Surya Kancana (1567-1579) akibat serangan Maulana Yusuf dari kesultanan Banten. Berakhirnya kekuasaan Pajajaran ditandai dengan dirampasnya Palangka Sriman Sriwacana (tempat duduk penobatan raja) dari Pakuan Pajajaran ke keraton Surasowan (Banten) oleh Maulana Yusuf sebagai klaim pewaris Pajajaran.

Surya Kancana dan pengikut setianya akhirnya mengungsi ke lereng Palasari-Pandeglang. Peninggalan lainnya dari warisan Pajajaran adalah pasukan terlatih khusus yang yang mendiami pegunungan Kendeng-Lebak sebagai mandala kawasan suci dimasa Pajajaran dipimpin Rakeyan Darmasiksa. Sekarang mereka dikenal sebagai suku Baduy/ urang Kenekes. Kenekes Dalam meliputi desa Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo.

Usia kerajaan Sunda Galuh/Pajajaran (669-1579) 910 tahun!

Kesultanan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1507. Kesultanan Banten yang berafiliasi kepada kesultanan Demak didirikan oleh Maulana Hasanuddin/Fatahillah/Faletehan (anak Sunan Gunung Jati) tahun 1527. Berawal saat Kesultanan Demak ingin memperluas kekuasaannya. Sunan Gunung Jati dari Cirebon bersama pasukan Demak pada tahun 1525 menyerbu dan menguasai Banten pelabuhan utama kerajaan Pajajaran. Maulana Hasanuddin menikahi putri Sultan Trenggono penguasa Demak melahirkan Maulana Yusuf. Setelah menghancurkan Pajajaran kesultanan Banten meliputi wilayah Jawa Barat dan Lampung. Sultan Ageng Tirtayasa pernah berkuasa atas Banten di masa 1651-1680.

Siak, Kampar dan Indragiri jatuh kepada kesultanan Malaka dan kesultanan Aceh. Pada tahun 1551 Malaka dapat ditaklukkan Portugis dan melahirkan kesultanan Perak dan Kesultanan Johor. Kejayaan kesultanan Aceh di era Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Dan akhirnya abad ke 17 Pagaruyung ibukota kerajaan Malayapura berubah menjadi kesultanan Pagaruyung dibawah Sultan Alif. Kemudian masyarakat Pagaruyung terbelah antara masyarakat adat yang mewarisi kerajaan Malayapura dengan masyarakat ideologi Islam dengan pecahnya perang saudara dalam perang Padri (ulama) dan Adat. Karena terdesak kaum Padri tahun 1821 maka kaum adat meminta bantuan Belanda dan menandai jatuhnya kesultanan Pagaruyung ke tangan Belanda.

Kekuasaan kesultanan Banten berakhir tahun 1813 ketika Thomas Stamford Raffles memaksa sultan Banten turun tahta karena keraton Surasowan telah dihancurkan Gubernur Jenderal Belanda yahun 1808. Usia kesultanan Banten (1527-1813) 286 tahun. Kekuasaan kesultanan Aceh melemah saat kekuasaan Belanda semakin meluas atas Sumatera selah jatuhnya Pagaruyung, Siak, Tapanuli, Mandailing dan Bengkulu berdasarkan traktat London 1824.

Pasca Sultan Trenggana Demak selanjutmya dipimpin oleh Sunan Prawoto (1546-1549) yang melahirkan kesultanan Pajang dibawah Jaka Tingkir (1549-1582), Arya Pangiri (1583-1586), Pangeran Benawa (1586-1587),

Mataram Islam dibawah Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati (1587-1601), Panembahan Hanyakrawati (1601-1613), Sultan Agung (1613-1645), Amangkurat I (1645-1677),

Kasunanan Kartasura dibawah Amangkurat II – Amangkurat IV dan Pakubuwana I (1680-1726), Pakubuwana II (1726-1742),

Kasunanan Surakarta dibawah Pakubuwana II (1745-1749), Pakubuwana III-XIII (1749-sekarang),

Kesultanan Yogyakarta dibawah Hamengkubuwana I (1755-1792), Hamengkubuwana II (1792-1810), Hamengkubuwana III (1810-1811) ayah dari Pangeran Diponegoro, Hamengkubuwana IV-X, II & V (1812-sekarang).

Pangeran Diponogoro memimpin kaum pribumi melakukan perlawanan dengan Belanda dalam kurun 1825-1830. Peperangan ini dipicu oleh pemberlakuan pajak terhadap negeri jajahan Belanda pasca perang Napoleon di Prancis yang mengakibatkan krisis keuangan Belanda.

Praja mangkunegaran Surakarta dibawah Mangkunagara I-IX (1757-sekarang),

Kadipaten paku Alaman Yogyakarta dibawah Paku Alam I-IX (1813-sekarang)

Dari rangkaian sejarah Nusantara dapat kita petik bahwa sebelum lahirnya kebangsaan Indonesia yang mendiami Nusantara dengan peradabannya adalah kebangsaan Sunda, kebangsaan Kutai, kebangsaan Mataram, kebangsaan Sriwijaya, kebangsaan Kediri, kebangsaan Singasari, kebangsaan Majapahit (wilayah kekuasaannya diwariskan kepada Indonesia kecuali Semenangjung Malaya dan Filipina), kebangsaan Melayu, kebangsaan Tanjungpura, kebangsaan Pagaruyung, Demak, Cirebon, Banten, Pajang, Mataram Islam, Banjar, Luwu, Bugis, Goa, Bugis,Toraja, Sasak dst. Ideologi Hindu, Buddha dan Islam penah menjadi dasar pijakan kebangsaan-kebangsaan tersebut. Ekspansi kekuasaan militer antar bangsa pernah terjadi, kudeta polititik berdarah pernah terjadi, rekonsiliasi politik pernah dialami dan reunifikasi penyatuan kembali dua kebangsaan menjadi satu juga pernah terjadi.

Bagaimana Sanjaya bangkit menyatukan Sunda Galuh dan membangun bumi Mataram. Bagaimana Mpu Sendok membangkitkan bumi Mataram/Medang pasca letusan dasyat gunung Merapi dengan memindahkan ibukota dari Prambanan ke wilayah Jombang. Bagaimana Airlangga membangkitkan puing-puing kehancuran Mataram dengan membangun Kahuripan. Bagaimana reunifikasi Kahuripan dengan Daha menjadi Kediri.

Raden Wijaya bangkit membangun Majapahit setelah menyaksikan kehancuran Kediri, dst. Bagaimana para pemimpin kala itu telah lahir dari perkawinan campur (tali temali) antar bangsa, Jawa, Sunda, Bali, Minang, Dayak, Tionghoa, harusnya menjadikan alasan kita Indonesia saat ini untuk menolak segala bentuk rasisme mengingat bahwa kebangsaan Indonesia telah mengalami proses yang panjang atas percampuran ras/suku dan akulturasi budaya dan agama. Masihkah relevan kelompok ras/suku atau agama tertentu merasa superior atas yang lain?

2.       Ideologi Pancasila Pemersatu Bangsa

Pancalisa telah mengandung nilai-nilai luhur bangsa dan agama karena telah tumbuh dari kehidupan religius bangsa Indonesia. Pancasila telah menjunjung nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan, Pancasila harus menjadi pemersatu bangsa mengingat Indonesia terdiri dari beragam suku bangsa. Pancasila telah mengadopsi demokrasi dengan mengedepankan pemufakatan berdasar atas hikmat kebijaksanaan, serta Pancasila harus menjadikan bangsa Indonesia menuju negara kesejahteraan. Pancasila telah diuraikan dalam mukadimah UUD 1945 yang merupakan konstitusi/sumber hukum tertinggi di Indonesia.

3.       Keanekaragaman sebagai sebuah Kekuatan

Indonesua memiliki keanekaragaman hayati/biodiversitas yang membentuk ekosistem berupa gen dan spesies tanaman, hewan dan mikroorganisme yang belum tentu ada di belahan bumi lain. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Terdapat 667 jenis mamalia, 1604 jenis burung, 749 jenis reptil dan 30 ribu jenis tumbuhan. Keanekaragaman jenis tumbuhan tersebut menjadi bahan obat-obatan herbal yang lebih baik dari bahan kimia.

Indonesia juga memiliki keanekaragaman suku dan budaya. Jumlah suku di Indonesia diperkirakan 1128 dimana suku Jawa dalah terbesar mencapai 40%. Walaupun sebagai suku terbesar, dalam ikrar Sumpah Pemuda merelakan bahasa Melayu/Indonesia dijadikan bahasa persatuan.

4.       Kekayaan Sumber Daya Alam.

Sumber daya alam dibagi menjadi dua katagori yakni sumber daya alam yang dapat diperbaharui (air, tanah, hasil pertanian, perkebunan, hasil hutan, perikanan, peternakan) dan sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui (bahan-bahan tambang seperti minyak bumi, batubara, gas, tembaga, timah, nikel aluminium, emas, perak, perunggu, dll). Cadangan gas Indonesia menduduki peringkat 11 di dunia dan ladang gas Tangguh peringkat 9 terbesar dunia. Indonesia salah satu penghasil karet, kopi dan sawit terbesar dunia. Indonesia penghasil emas peringkat 5 dunia. Indonesia salah satu penghasil tembaga dan timah terbesar dunia. Indonsia memiliki salahsatu hutan tropis terbesar di dunia, memiliki garis pantai salahsatu terpanjang didunia yang berpotensi sebagi penghasil ikan terbesar di dunia.

5.       Indonesia dalam Jalur Lalulintas Perekonomian Dunia

Selat Malaka sejak jaman Sriwijaya dan Majapahit telah menjadi jalur perdagangan dunia. Portugis, Belanda dan Inggris menemukan Nusantara melalui selat Malaka. Di masa kini dengan menguasai sebagian selat Malaka negara Singapura menikmati kemakmuran sebagai kota jasa di sektor keuangan dan jasa pelabuhan

6.       Potensi Sumber Daya Manusia

Berdasar uji statistik bahwa diantara 100 orang kemungkinan terdapat 1 orang jenius. Ini dapat diartikan bahwa potensi jenius sumber daya manusia Indonesia adalah idealnya 240 ribuan. Indonesia selalu mendapatkan penghargaan dalam berbagai lomba iptek semisal Nobel Prize of Physic, Olimpiade Matematika, Biologi, dll.

7.       Posisi Indonesia dalam Dunia Global

Event-event besar terselenggara di Indonesia membahas isu-isu global semisal Konferensi dunia untuk perubahan iklim, konferensi dunia anti korupsi, dll

8.       Posisi Indonesia secara Regional

Indonesia tahun ini 2011 mendapat kesempatan memimpin Asean, tuan rumah penyelenggaraan SEA Games

 

 HAMBATAN UNTUK INDONESIA BANGKIT

  1. Belum sepenuhnya memahami sejarah lahirnya bangsa Indonesia
  2. Belum sepenuhnya menyadari arti Pancasila sebagai sebuah Ideologi bangsa
  3. Belum sepenuhnya menyadari bahwa kebhinnekaan/keanekaragaman merupakan kekuatan bangsa
  4. Sikap primordialisme sebagai sebuah kemunduran
  5. Menganggap nilai-nilai/tradisi luhur yang lama sebagai sesuatu yang kuno dan tak modern
  6. Tingkat pendidikan yang masih rendah dan belum merata
  7. Ketiadaan ketauladanan dari para pemimpin. Kaya tanpa kerja, tak memiliki nurani, berpengetahuan tanpa krakter, kurangnya moralitas dan etika, tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan, serta berpoltik tanpa prinsip
  8. Belum diwujudkannya keadilan dan kesejahteraan oleh para pemimpin bangsa sehingga melahirkan kefrustrasian dikalangan masyarakat tertentu dan pada gilirannya berakibat terjadinya anarkisme, vandalisme dan radikalisme
 
Leave a comment

Posted by on May 26, 2011 in Nasionalis

 

IDEOLOGI PANCASILA 1 Juni 1945 (5)

Saudara-saudara! Dasar-dasar Negara telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedangkan kita membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai panca indera. Apa lagi yang lima bilangannya? (Seorang yang hadir: Pendawa Lima). Pendawa pun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip: kebangsan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, lima pula bilangannya.
Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang
teman kita ahli bahasa- namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi… (tepuk tangan hadirin riuh rendah)
Atau, barangkali ada saudara-saudara yang tidak suka akan bilangan lima itu? Saya boleh peras, hingga tinggal 3 saja. Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah “perasan” yang tiga itu? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia merdeka, Wistanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme, kebangsan dan perikemanusiaan saya peras menjadi satu: itulah yang dahulu saya namakan sosio-nasionalisme. Dan demokrasi yang bukan demokrasi Barat, tetapi politiek-economiche democratie, yaitu politieke democratie dengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesejahteraan, saya peraskan pula menjadi satu. Inilah yang dulu sana namakan socio-democratie.
Tinggal lagi Ketuhanan yang menghormati satu sama lain.
Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: Socio-nationalisme, social- democratie, dan ketuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang ini. Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang dengan trisila ini, dan minta satu, satu dasar saja? Baiklah, saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu?
Sebagai tadi telah saya katakan: kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “Gotong Royong”. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong-royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong! (tepuk tangan riuh-rendah) “Gotong Royong” adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan” saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong
royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekarno satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama! Gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama. Itulah Gotong-royong! (tepuk tangan riuh rendah)
Prinsip Gotong-royong di antaranya yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia. Inilah saudara-saudara yang saya usulkan kepada saudara-saudara.

Pancasila menjadi Trisila. Trisila menjadi Ekasila. Tetapi terserah kepada Tuan-
tuan, mana yang Tuan-tuan pilih: trisila, ekasila, ataukah pancasila? Isinya telah saya katakan kepada saudara-saudara semuanya. Prinsip-prinsip seperti yang saya usulkan kepada saudara-saudara ini, adalah prinsip untuk Indonesia Merdeka yang abadi. Puluhan tahun dadaku telah menggelora dengan prinsip- prinsip itu. Tetapi jangan lupa, kita hidup di dalam masa peperangan, saudara- saudara. Di dalam masa peperangan itulah kita mendirikan negara Indonesia, -di dalam gunturnya peperangan! Bahkan saya mengucap syukur Alhamdulillah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa kita mendirikan negara Indonesia bukan di dalam sinarnya bulan purnama, tetapi di bawah palu godam peperangan dan di dalam api peperangan. Timbullah Indonesia merdeka, Indonesia yang gemblengan. Indonesia Merdeka yang digembleng dalam api peperangan, dan Indonesia Merdeka yang demikian itu adalah negara Indonesia yang kuat, bukan negara Indoneia yang lambat laun menjadi bubur. Karena itulah saya mengucap syukur kepada Allah SWT.
Berhubung dengan itu, sebagai yang diusulkan oleh beberapa pembicara-pembicara tadi, barangkali perlu diadakan noodmaatregel, peraturan yang bersifat sementara. Tetapi dasarnya, isinya Indonesia merdeka yang kekal abadi menurut pendapat saya, haruslah Pancasila. Sebagai dikatakan tadi, saudara-saudara, itulah harus Weltanschauung kita. Entah saudara-saudara mufakatinya atau tidak, tetapi saya berjuang sejak tahun 1918 sampai 1945 sekarang ini untuk Weltanschauung itu. Untuk membentuk nasionalistis Indonesia, untuk kebangsaan Indonesia, untuk kebangsaan Indonesia yang hidup di dalam perikemanusiaan, untuk permufakatan, untuk sociale rechtvaardigheid: untuk Ketuhanan. Pancasila, itulah yang berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh tahun lalu. Tetapi, saudara-saudara, diterima atau tidak, terserah kepada saudara-saudara. Tetapi saya sendiri mengerti seinsyaf-insyafnya, bahwa
tidak ada satu Weltanschauung dapat menjelma dengan sendirinya, menjadi realitiet dengan sendirinya. Tidak ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan, menjadi realitiet, jika tidak dengan perjuangan! Jangan pun Weltanschauung yang diadakan oleh manusia, jangan pun yang diadakan oleh Hitler, oleh Stalin, oleh Lenin, oleh Sun Yat Sen! “De Mensch”, manusia! – harus perjuangkan itu. Zonder perjuangan itu tidaklah ia akan menjadi realitiet! Leninisme tidak bisa menjadi realitiet zonder perjuangan seluruh rakyat Rusia, San Min Chu I tidak dapat menjadi kenyataan zonder perjuangan bangsa Tionghoa, saudara-saudara! Tidak! Bahkan saya
berkata lebih lagi dari itu: zonder perjuangan manusia, tidak ada satu hal agama, tidak ada satu cita-cita agama yang dapat menjadi realitiet. Jangan pun buatan manusia, sedangkan perintah Tuhan yang tertulis di dalam kitab Al Qur’an, zwart of wit (tertulis di atas kertas), tidak dapat menjelma menjadi realitiet zonder perjuangan manusia yang dinamakan umat Islam. Begitu pula perkataan-
perkataan yang tertulis di dalam Injil, cita-cita yang termasuk di dalamnya tidak dapat menjelma zonder perjuangan umat Kristen.

Maka dari itu, jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu, menjadi satu realitiet, yakni jikalau ingin hidup menjadi satu bangsa, satu nationaliteit yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan, ingin hidup di atas dasar permusyawaratan, ingin hidup sempurna dengan sociale rechtvaardigheid, ingin hidup dengan sejahtera dan aman, dengan Ketuhanan yang luas dan sempurna, – syarat untuk menyelenggarakannya, ialah perjuangan, perjuangan dan sekali lagi perjuangan. Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus, hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang, lain coraknya. Nanti kita, bersama-sama, sebagai bangsa yang bersatu-padu, berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila. Dan terutama di dalam zaman peperangan ini, yakinlah, insyaflah, tanamkanlah dalam kalbu saudara-saudara, bahwa Indonesia Merdeka tidak dapat datang jika bangsa Indonesia tidak berani mengambil resiko,- tidak berani terjun menyelami mutiara di dalam samudra yang sedalam-dalamnya. Jikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak menekad-mati-matian untuk mencapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan menjadi milik bangsa Indonesia buat selama-lamanya, sampai ke akhir zaman! Kemerdekaan hanyalah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa, yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad “Merdeka,’merdeka atau mati”! (tepuk tangan riuh)
Saudara-saudara! Demikianlah saya punya jawab atas pertanyaan Paduka Tuan Ketua. Saya minta maaf, bahwa pidato saya ini menjadi panjang lebar, dan sudah meminta tempo yang sedikit lama, dan saya juga minta maaf, karena saya telah mengadakan kritik terhadap catatan Zimukyokutyoo yang saya anggap “verchrikkelijk zwaarwichtif” itu.
Terima kasih. (tepuk tangan riuh rendah dari segenap hadirin).

Selanjutnya BPUPKI membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno itu. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Muhammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikusno Tjokrokusumo, Abdulkahar Muzakir, HA Salim, Achmad Soebardjo dan Muhammad Yamin) yang bertugas “merumuskan” kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato Bung Karno 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen itu sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945. Selanjutnya disahkan tanggal 18 Agustus 1945. Powered by sevana saguna sakti®

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2011 in Nasionalis

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.